-
Donald Trump menentukan akhir perang Amerika-Israel melawan Iran hanya berdasarkan firasat personal yang kuat.
-
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas bersama 1.300 orang akibat serangan udara AS.
-
Amerika mengancam hancurkan kilang minyak Iran jika blokade di Selat Hormuz terus berlanjut.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa jumlah korban jiwa akibat gempuran udara ini telah menyentuh angka yang sangat memprihatinkan.
Data terkini mencatat lebih dari 1.300 orang telah tewas di Iran akibat bombardir yang dilakukan secara terus-menerus.
Di antara ribuan korban yang kehilangan nyawa tersebut, banyak ditemukan warga sipil termasuk anak-anak dan kaum perempuan.
Situasi kemanusiaan di wilayah konflik dilaporkan semakin memburuk seiring dengan tidak adanya tanda-tanda penghentian serangan udara.
Iran tidak tinggal diam melihat wilayahnya hancur dan pemimpin tertingginya tewas akibat serangan mendadak tersebut.
Teheran segera melancarkan serangan balasan yang ditujukan ke wilayah Israel dan berbagai pangkalan militer milik Amerika Serikat.
Intensitas serangan balasan dari pihak Iran justru semakin meningkat tajam setelah kabar kematian Khamenei dikonfirmasi ke publik.
Selain melakukan serangan fisik, Iran juga mengambil langkah strategis dengan melakukan pemblokiran pada jalur distribusi energi dunia.
Penutupan Selat Hormuz menjadi senjata utama Iran untuk mengganggu stabilitas ekonomi global sebagai bentuk protes atas agresi AS.
Baca Juga: Jurgen Habermas, Filsuf Ternama dan Tokoh Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
Langkah ini memicu reaksi keras dari Washington yang kembali mengirimkan armada tempurnya untuk melakukan serangan udara tambahan.
Pihak Amerika Serikat baru saja melaporkan keberhasilan serangan udara besar ke sebuah instalasi militer strategis milik Iran.
Sasaran utama serangan terbaru tersebut adalah pangkalan militer yang terletak di Pulau Kharg, lokasi yang sangat dekat dengan Selat Hormuz.
Trump mengklaim bahwa operasi di Pulau Kharg merupakan salah satu aksi militer paling hebat yang pernah terjadi di kawasan itu.
Meskipun melakukan serangan masif, Pentagon sengaja menghindari penghancuran pada fasilitas infrastruktur minyak yang ada di lokasi tersebut.
Kebijakan ini diambil untuk menjaga agar stabilitas pasokan energi tidak benar-benar runtuh meskipun perang sedang berlangsung hebat.