- Analis militer menganggap keputusan AS-Israel berperang dengan Iran ceroboh karena berisiko menjadi 'Vietnam Kedua' yang merugikan Amerika.
- Meskipun serangan awal AS-Israel berhasil secara taktis, Iran memicu "Jebakan Eskalasi" untuk menyeret AS pada konflik strategis.
- Iran menerapkan 'Eskalasi Horizontal' dengan memperluas konflik ke negara Teluk untuk menaikkan biaya perang bagi Amerika Serikat.

Strategi 'Eskalasi Horizontal' Iran
Menghadapi kecanggihan teknologi militer Barat, Teheran tidak membalas dengan kekuatan yang setara di udara.
Sebaliknya, mereka menerapkan 'Eskalasi Horizontal'. Strategi ini bertujuan memperluas cakupan geografis konflik, menyasar negara-negara Teluk, dan meningkatkan biaya perang bagi Washington serta ekonomi global, khususnya melalui gangguan pasokan energi di Selat Hormuz.
Langkah ini dirancang untuk menciptakan tekanan internal bagi sekutu-sekutu AS di kawasan tersebut.
Dengan menyerang fasilitas di negara-negara Teluk, Iran memaksa masyarakat setempat untuk mempertanyakan keberadaan militer Amerika di tanah mereka.
“Mereka memaksa publik di Teluk untuk bertanya: ‘Mengapa kita harus membayar harga dari perang yang tampaknya didorong oleh kebijakan ekspansionis Israel?’” kata Pape.
Strategi ini efektif menciptakan keretakan antara pemerintah negara-negara Arab dengan rakyatnya sendiri.

Psikologi Trump dan Risiko 'Incrementalism'
Di sisi lain, kebijakan luar negeri AS di bawah Donald Trump dianggap terlalu dipengaruhi oleh "ilusi kontrol".
Robert Malley, mantan utusan AS untuk Iran, mencatat bahwa Trump cenderung merasa nyaman berada di tangga eskalasi, yang justru merupakan medan permainan yang diinginkan oleh Teheran.
“Pada suatu saat, saya berasumsi akan ada jalur keluar, tetapi saya bisa membayangkan eskalasi mencapai tingkat yang benar-benar tidak akan kita duga bahkan sebulan yang lalu... pasukan di darat, mengincar infrastruktur dasar, mengambil alih bagian dari Iran, bekerja dengan kelompok etnis Kurdi atau kelompok etnis lainnya. Semua itu bersifat eskalatif dengan cara yang berbeda,” ungkap Robert Malley.
Kekhawatiran terbesar adalah "lereng licin inkrementalisme" (slippery slope of incrementalism). Ini adalah kondisi di mana keterlibatan militer AS bertambah sedikit demi sedikit hingga akhirnya mereka terjebak dalam perang besar yang tidak bisa dimenangkan.
Robert D Kaplan, seorang spesialis urusan luar negeri, memberikan peringatan keras melalui perbandingan sejarah yang nyata.
Ia melihat bahwa lintasan konflik di Iran saat ini memiliki kemiripan yang menakutkan dengan awal mula Perang Vietnam.
“Perang di Vietnam membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang menjadi perang ukuran menengah... Situasi di Iran mungkin mengikuti lintasan yang serupa,” tulis Robert D Kaplan dalam analisisnya.