- Influencer Inggris di Dubai menuai kritik karena memamerkan gaya hidup mewah saat terjadi serangan rudal Iran.
- Konten kemewahan tersebut dituding merupakan upaya menutupi dampak serangan rudal yang menyebabkan kerusakan dan evakuasi.
- Beberapa influencer menyatakan Dubai tetap aman, sementara pakar menduga ini adalah bagian dari kampanye media berbayar.
Suara.com - Sejumlah influencer asal Inggris yang tinggal di Dubai menuai kritik setelah tetap mengunggah konten mewah di media sosial saat kota itu dilaporkan terkena dampak serangan rudal Iran.
Para influencer ini dituding jadi buzzer dari pemerintah UEA untuk menutupi realita perang yang sesungguhnya.
Unggahan bikini, makan malam glamor, dan olahraga di tepi kolam dinilai menutupi situasi sebenarnya yang terjadi di Dubai, UEA.
Dilansir dari The Sun, salah satu influencer yang paling disorot ialah Arabella Chi, yang tetap membagikan foto pantai dan makan malam romantis dengan latar gedung pencakar langit Dubai.
Padahal, pada waktu yang sama dilaporkan terjadi ledakan, kebakaran, dan evakuasi di beberapa titik kota.
Dalam salah satu unggahan, Arabella menulis keterangan romantis saat makan malam, "Cinta yang akan bertahan selamanya."
Postingan ini hanya beberapa hari setelah kebakaran dilaporkan terjadi di dekat hotel mewah Burj Al Arab.
Laporan investigasi media Inggris menyebut sejumlah influencer sengaja menampilkan citra aman dan normal.
Padahal, sejak konflik memanas, ribuan warga asing dilaporkan meninggalkan Dubai setelah serpihan rudal memicu kebakaran di hotel Fairmont The Palm dan merusak area bandara.
Konten kreator lain, Mitchell Armstrong, bahkan mengejek orang yang panik akibat ledakan.
“Apa maksudnya ada bom dan ledakan? Selama saya masih punya sauna dan rumah 2,1 juta dolar, saya tidak peduli. Saya tidak bisa mendengar apa pun karena suara kesuksesan,” katanya dalam video.
Influencer lain, Soudi Al Nadak, juga mengatakan Dubai tetap aman meski serangan terjadi.
“Tidak ada tempat lain yang lebih ingin saya tinggali. Kami merasa aman karena kami tahu siapa yang melindungi kami,” ujarnya kepada pengikutnya.
Namun sejumlah warganet mempertanyakan unggahan tersebut.
“Berapa banyak kamu dibayar untuk posting propaganda?” tulis salah satu komentar di media sosial.