- Iran meluncurkan serangan rudal ke selatan Israel, meliputi Dimona dan Arad, melukai total lebih dari 100 warga sipil.
- Serangan balasan Iran ini terjadi setelah fasilitas nuklir Natanz diserang oleh serangan gabungan AS dan Israel sebelumnya.
- Pascaperistiwa, Israel menghentikan sekolah tatap muka dan Hezbollah juga menyerang utara, eskalasi konflik meluas di kawasan.
Suara.com - Lebih dari 100 warga sipil Israel terluka setelah Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah selatan Israel, termasuk ke kota Dimona yang berada dekat fasilitas nuklir.
Serangan ini terjadi sebagai balasan setelah lokasi nuklir Iran di Natanz dihantam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Rudal Iran menghantam kota Arad dan Dimona, yang merupakan lokasi Shimon Peres Negev Nuclear Research Center, fasilitas yang diduga terkait program nuklir Israel.
Pemerintah Israel tidak pernah secara resmi mengakui kepemilikan senjata nuklir.
Otoritas medis melaporkan korban luka dalam jumlah besar akibat serangan tersebut.
“Setidaknya 88 orang terluka di Arad, termasuk seorang anak perempuan berusia lima tahun, dan sepuluh orang dalam kondisi serius,” kata petugas penyelamat setempat seperti dilansir dari NY Post.
Serangan di Dimona juga menyebabkan puluhan korban.
![Lebih dari 100 warga sipil Israel terluka setelah Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah selatan Israel, termasuk ke kota Dimona yang berada dekat fasilitas nuklir. [@IsraelMFA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/22/94663-rudal-iran-gempur-israel.jpg)
“Serangan di Dimona menimbulkan 59 korban luka, termasuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dalam kondisi kritis,” menurut laporan layanan darurat.
Relawan medis United Hatzalah, Tomer Segev, menggambarkan situasi di lokasi sebagai sangat kacau.
“Itu pemandangan yang sangat sulit. Saat tiba di lokasi, saya langsung menangani sekitar 40 korban,” ujarnya.
Serangan ini sempat memicu kekhawatiran bahwa Iran menggunakan jenis rudal baru yang mampu menembus pertahanan udara Israel.
Namun militer Israel membantah hal tersebut.
Juru bicara militer Israel, Brigjen Effie Defrin, mengatakan sistem pertahanan tetap bekerja.
“Sistem pertahanan udara beroperasi, tetapi rudal tidak berhasil dicegat. Kami akan menyelidiki insiden ini. Ini bukan jenis amunisi baru,” katanya.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan doa bagi korban dan menegaskan operasi militer akan terus berlanjut.