-
Hizbullah menolak pertemuan Lebanon-Israel di Washington karena menganggapnya sebagai taktik pelucutan senjata.
-
Naim Qassem memilih melanjutkan perlawanan fisik daripada berunding saat Israel terus membombardir Lebanon.
-
Konflik telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan jutaan warga Lebanon terpaksa mengungsi.
Suara.com - Hizbullah secara resmi menutup pintu dialog terkait rencana pertemuan antara pemerintah Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung di Washington DC.
Langkah ini diambil karena agenda utama pertemuan tersebut dianggap hanya menjadi alat politik untuk memaksa Hizbullah menyerahkan seluruh kekuatan militernya.
Dikutip dari Al Jazeera, Naim Qassem menegaskan bahwa perundingan ini tidak memiliki urgensi di tengah intensitas serangan udara Israel yang justru semakin mengganas.
![Wilayah penyerbuan Hizbullah di Israel utara. [ANTARA/Anadolu/py/am]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/05/40166-wilayah-penyerbuan-hizbullah.jpg)
Sikap keras ini menunjukkan bahwa Hizbullah lebih memilih konfrontasi fisik di lapangan daripada terjebak dalam skema diplomasi Amerika Serikat.
Penolakan ini memicu ketegangan baru bagi kedaulatan Lebanon yang saat ini berada di antara tekanan militer dan tuntutan perdamaian internasional.
Naim Qassem memandang kehadiran delegasi Lebanon dalam pertemuan tersebut sebagai tindakan yang merugikan posisi pertahanan nasional mereka sendiri.
Ia menyebut bahwa target utama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam meja perundingan hanyalah melemahkan posisi tawar Hizbullah.
"Israel dengan jelas menyatakan bahwa tujuan negosiasi ini adalah untuk melucuti senjata Hizbullah, seperti yang berulang kali dinyatakan oleh (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu. Jadi, bagaimana mungkin Anda pergi ke negosiasi yang tujuannya sudah jelas?" kata Qassem.
Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal kepada pemerintah Lebanon untuk membatalkan keterlibatan mereka dalam agenda di Amerika Serikat tersebut.
Qassem meminta otoritas negara untuk menunjukkan keberanian moral dengan tidak memenuhi undangan yang dirancang oleh sekutu utama Israel itu.
Sinyal Perlawanan dari Medan Perang
Eskalasi yang terjadi saat ini membuat Hizbullah yakin bahwa meja diplomasi bukan solusi efektif untuk menghentikan kekejaman di perbatasan.
Bagi kelompok ini, setiap upaya pembicaraan yang dilakukan saat bom masih jatuh di pemukiman warga adalah sebuah kesia-siaan.
"Upaya sia-sia," kata Qassem menambahkan bahwa pasukan Israel mengintensifkan serangan mereka terhadap Lebanon.
Hal ini merujuk pada realita di lapangan di mana jet tempur Israel terus menyasar berbagai titik strategis dan pemukiman di wilayah Lebanon.