- Gejolak geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran kelangkaan BBM dunia akibat suplai yang terhambat di Selat Hormuz.
- Guru Besar UGM menyarankan Indonesia memanfaatkan tanaman nyamplung dan malapari sebagai biofuel guna mencapai kemandirian energi nasional.
- Pemerintah didorong mengawal riset berkelanjutan serta transisi energi terbarukan demi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil berbahaya.
Suara.com - Gejolak geopolitik perang di Timur Tengah memicu kekhawatiran soal kelangkaan dan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) mentah dunia. Hal ini tak terlepas dari suplai yang tersendat di Selat Hormuz.
Guru Besar Ilmu Kimia UGM, Wega Trisunaryanti, menilai kondisi ini dapat dijadikan momentum oleh Indonesia untuk berkembang ke arah negara yang mandiri terhadap urusan energi.
Menurutnya, pemerintah perlu mendorong pengembangan sumber energi terbarukan seperti vegetable oil yang bukan untuk dimakan. Ia mencontohkan tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum) dan malapari (Pongamia pinnata) yang bisa digunakan sebagai sumber biofuel.
"Kita bisa manfaatkan kekayaan alam seperti minyak nyamplung dan malapari untuk mendukung kemandirian energi," kata Wega dikutip, Minggu (19/4/2026).
Disampaikan Wega, kedua tanaman ini tumbuh melimpah di berbagai wilayah Indonesia dan tidak bersaing dengan kebutuhan pangan, sehingga sangat ideal ketika dijadikan sebagai bahan baku biofuel.
Tidak hanya untuk kendaraan, potensi kedua tanaman ini pun tengah diteliti untuk diuji coba terhadap kebutuhan bahan bakar pesawat seperti Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Kendati demikian, upaya penggantian bahan bakar dari sumber energi terbarukan untuk kendaraan tetap perlu memperhatikan aspek keselamatan. Mengingat, kendaraan yang ada saat ini memiliki standar bahan bakar sendiri, khususnya diperuntukkan untuk BBM.
"Kita bisa menggunakan bahan bakar lain, tetapi jika mesinnya tidak diperuntukkan untuk bahan tersebut, kemungkinan bisa rusak," ucapnya.
Wega menyoroti banyak penelitian yang belum berkelanjutan. Selain itu, pemerintah diminta untuk terus turut andil mengawal program ini.
Dalam kondisi sekarang, kata Wega, strategi yang paling mungkin dapat dilakukan masyarakat saat ini adalah dengan penghematan energi, termasuk untuk mulai mengembangkan teknologi dari sumber daya alam yang dimiliki.
"Apabila seluruh masyarakat kompak dan tidak boros dalam penggunaan bahan bakar, mulai menggunakan transportasi umum secara berkala, serta mematuhi kebijakan yang dibuat untuk menghemat energi maka akan sangat baik ke depannya," paparnya.
Wega mendorong Indonesia tidak terlalu bergantung terhadap energi dari fosil, tetapi dapat lebih memperhatikan energi terbarukan, seperti angin, air, matahari, hingga fuel cell (sel bahan bakar).
Adapun fuel cell sendiri merupakan perangkat elektrokimia yang mengubah energi kimia dari bahan bakar menjadi listrik, panas, dan air.
Wega saat ini terus melakukan riset pengembangan katalis, nanosilika, zeolit, dan graphene oxide untuk berbagai aplikasi, terutama proses hydrotreating biomassa menjadi biofuel.
Saat ini, ia tengah menekuni sintesis katalis heterogen untuk mengonversi minyak nabati menjadi bio-jet fuel atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Menurutnya, riset ini sangat penting untuk masa depan energi global.