- DPP GAMKI melaporkan Jusuf Kalla ke Polda Metro Jaya pada 12 April 2026 atas tuduhan penistaan agama.
- Laporan tersebut terkait ceramah Jusuf Kalla di Masjid UGM pada Maret 2026 mengenai konsep syahid.
- Jusuf Kalla mempertimbangkan langkah hukum untuk membela diri dari fitnah dan menjaga nama baiknya secara personal.
"Ada konflik karena ideologi kayak Madiun, ada konflik karena wilayah kayak Timtim (Timor Timur), ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu," katanya.
Persoalan muncul ketika JK membahas konflik bernuansa agama yang pernah terjadi di Maluku dan Poso. Ia menjelaskan bahwa dalam situasi konflik tersebut, masing-masing pihak memiliki keyakinan spiritual terkait pengorbanan nyawa.
Di sinilah istilah "syahid" dan "martir" muncul sebagai penjelasan sosiologis atas fenomena yang terjadi di lapangan pada masa itu.
"Saya berada di masjid dan jamaah tidak mengerti martir. Jadi, saya katakan, ya karena hampir sama, syahid dan martir hampir sama. Cuma beda caranya," ujarnya.
JK menambahkan bahwa pemilihan diksi tersebut disesuaikan dengan audiens yang hadir di dalam masjid agar pesan perdamaian yang dibawa dapat dipahami dengan mudah.
"Jadi, hanya istilah saja, tetapi karena saya di masjid maka saya pakai kata syahid. Karena kalau saya pakai kata martir, jamaah tidak tahu," katanya melanjutkan.
JK menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak sedang masuk ke dalam ranah perdebatan dogma agama, melainkan sedang memotret realitas sejarah konflik.
"Jadi, bukan saya bicara dogma agama, bukan. Saya bicara kejadian pada waktu itu. Kejadian pada waktu itu, semua merasa masuk surga," katanya.
Ia bahkan merujuk pada dokumentasi video konflik Maluku dan Poso di mana para pejuang dari kedua belah pihak mendapatkan dukungan doa dari pemuka agama masing-masing sebelum berangkat ke medan laga.
"Tadi lihat, sebelum mereka, pemuda-pemuda ini pergi perang, semua didoakan. Kau pergi berdoa, kau habisi musuhmu. Islam juga begitu, didoakan oleh para ustadz, kau pergi," ujarnya.
Serangan Isu Ijazah Jokowi
Selain menghadapi serangan terkait isu agama, Jusuf Kalla juga memberikan klarifikasi mengenai keterlibatannya dalam polemik ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
JK menegaskan bahwa posisinya dalam masalah ini adalah sebagai sosok senior yang ingin melihat kegaduhan publik segera berakhir.
Ia mengaku telah menolak bertemu dengan pihak-pihak yang mencoba menariknya ke dalam kubu tertentu, termasuk Rismon Hasiholan Sianipar dan Roy Suryo.
"Rismon mau ketemu saya dengan tujuh orang, saya tidak terima. Roy Suryo mau ketemu, saya tolak. Demi saya mau netral," ujarnya.