Orang Dekat Donald Trump Pastikan Selat Hormuz Tidak Bakal Dibuka Sampai Ini Terjadi

Pebriansyah Ariefana

Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
Orang Dekat Donald Trump Pastikan Selat Hormuz Tidak Bakal Dibuka Sampai Ini Terjadi
Akses pelayaran komersial di Selat Hormuz dipastikan belum akan normal sebelum Amerika Serikat dan Iran menyepakati penghentian permusuhan secara permanen.
baca 10 detik
  • Pembukaan Selat Hormuz menunggu kesepakatan damai permanen antara Amerika Serikat dan Iran.

  • Menteri Energi AS memprediksi penyelesaian konflik memerlukan waktu sekitar dua minggu ke depan.

  • Gencatan senjata terancam gagal setelah terjadi aksi penembakan terhadap kapal Prancis dan Inggris.

Suara.com - Akses pelayaran komersial di Selat Hormuz dipastikan belum akan normal sebelum Amerika Serikat dan Iran menyepakati penghentian permusuhan secara permanen.

Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menegaskan bahwa pembukaan jalur air strategis tersebut bergantung sepenuhnya pada hasil meja perundingan kedua negara.

Dikutip dari The Hill, langkah diplomatik ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi ancaman militer yang mengganggu arus logistik energi di kawasan Teluk yang sangat sensitif.

Tiga supertanker bermuatan minyak berhasil keluar dari Selat Hormuz di tengah gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. [Tangkap layar X]
Tiga supertanker bermuatan minyak berhasil keluar dari Selat Hormuz di tengah gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. [Tangkap layar X]

Wright memberikan sinyal bahwa stabilitas keamanan di jalur distribusi minyak dunia tersebut memerlukan komitmen serius dari pihak Teheran untuk melucuti kekuatan militernya.

Kebijakan ini menjadi tekanan baru bagi pasar global yang sangat bergantung pada kelancaran lalu lintas kapal melalui selat yang memisahkan Teluk Oman dan Teluk Persia.

Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyampaikan pandangannya mengenai kapan waktu yang tepat bagi kapal-kapal untuk melintasi titik penyempitan yang kritis tersebut secara aman.

“Setelah sebuah kesepakatan tercapai,” ujar Wright kepada pembawa acara Jake Tapper dalam program “State of the Union” di CNN.

Keyakinan pemerintah Amerika Serikat muncul karena kesiapan armada laut serta kesepakatan yang diharapkan tidak memakan waktu lama untuk difinalisasi secara hukum.

“Itu tidak akan terjadi di masa depan yang terlalu jauh,” tambah Menteri Energi tersebut memberikan harapan pada percepatan solusi konflik.

baca juga

Wright menyatakan bahwa semua pihak saat ini dalam posisi siaga, termasuk kesiapan kapal-kapal yang sudah menunggu lampu hijau untuk segera berlayar kembali.

Opsi Militer dan Diplomasi

Amerika Serikat telah menunjukkan kekuatan fisiknya dengan mengirimkan armada tempur untuk memastikan kepentingan mereka di kawasan perairan internasional tetap terjaga.

“Orang-orang siap berangkat, kapal-kapal ada di sana. Amerika Serikat mengerahkan dua kapal perang melalui selat itu,” ungkap Chris Wright dalam wawancara tersebut.

Washington menekankan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memaksa jalur tersebut terbuka, namun tetap mengedepankan jalur diplomasi sebagai solusi paling ideal bagi semua.

“Kita bisa membukanya dengan satu atau lain cara, tetapi cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mengakhiri konflik dan Iran yang tidak lagi bertaring serta dilucuti senjatanya,” tegas Wright.

Pernyataan ini menggarisbawahi keinginan Amerika Serikat untuk melihat Iran kehilangan kemampuan militer yang ofensif sebelum normalisasi hubungan internasional terjadi di perairan itu.

Tapper kemudian mengejar kepastian waktu mengenai apakah solusi permanen ini dapat direalisasikan dalam kurun waktu empat belas hari ke depan kepada sang Menteri.

“Itu mungkin kerangka waktu yang wajar, itu tidak terlalu jauh,” jawab Wright menanggapi pertanyaan mengenai target dua minggu untuk penyelesaian masalah.

Di sisi lain, ketegangan justru meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan pemberlakuan kembali pengawasan ketat terhadap Selat Hormuz.

Langkah Iran ini cukup mengejutkan mengingat pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya yang menjamin jalur tetap terbuka selama masa gencatan senjata.

Gencatan senjata yang dijembatani oleh Pakistan tersebut sebenarnya baru dijadwalkan berakhir pada hari Rabu mendatang, namun situasi di lapangan berubah dengan cepat.

Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata

Pihak IRGC berkilah bahwa tindakan mereka merupakan respons langsung atas blokade angkatan laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Selat Hormuz belakangan ini.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, melalui platform media sosial X menyuarakan protes keras terhadap tindakan blokade yang dilakukan pihak Barat.

Baqaei menuliskan bahwa blokade AS terhadap selat tersebut “bukan hanya pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dimediasi Pakistan, tetapi juga melanggar hukum dan bersifat kriminal.”

Klaim Iran ini berseberangan dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang justru menuduh pihak Teheran sebagai aktor yang pertama kali mencederai kesepakatan damai sementara.

Trump merujuk pada konfirmasi IRGC yang melakukan serangan terhadap dua kapal kargo asing yang sedang mencoba melintasi wilayah perairan tersebut di hari Minggu.

Dalam pernyataan resminya di Truth Social, Presiden Trump menyebutkan bahwa dua kapal yang menjadi sasaran tembak Iran adalah kapal milik Prancis dan kapal barang Inggris.

Serangan ini memperkeruh suasana diplomasi yang sedang dibangun dan meningkatkan risiko asuransi bagi setiap kapal komersial yang berani melintasi jalur tersebut sekarang.

Ketika ditanya mengenai keamanan bagi kapal-kapal komersial untuk melakukan transit di celah perairan yang sempit itu, Wright memberikan jawaban yang sangat lugas.

“Itu benar,” jawab Menteri Energi Chris Wright saat mengonfirmasi bahwa saat ini kondisi Selat Hormuz masih sangat berbahaya untuk dilalui kapal mana pun.

Tanpa adanya jaminan keamanan dari kedua belah pihak, rantai pasokan global diperkirakan akan terus mengalami gangguan teknis dan kenaikan biaya operasional yang signifikan.

Krisis di Selat Hormuz berawal dari kegagalan kesepakatan jangka panjang antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu eskalasi militer di wilayah Teluk.

Jalur ini merupakan arteri utama bagi sepertiga minyak mentah dunia yang diangkut melalui jalur laut setiap harinya. Gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan awalnya diharapkan menjadi nafas bagi diplomasi, namun aksi saling klaim pelanggaran justru memperburuk keadaan.

Blokade laut Amerika Serikat dan respons militer Iran terhadap kapal asing kini menjadikan wilayah tersebut sebagai zona bahaya tinggi bagi perdagangan internasional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ribuan Pelaut Terjebak Akibat Selat Hormuz Ditutup Lagi, Mulai Stres dan Frustrasi

Ribuan Pelaut Terjebak Akibat Selat Hormuz Ditutup Lagi, Mulai Stres dan Frustrasi

News | Senin, 20 April 2026 | 13:29 WIB

Donald Trump Cari Musuh Baru! Washington Ancam Kuba: Bebaskan Tapol atau Kami Serang

Donald Trump Cari Musuh Baru! Washington Ancam Kuba: Bebaskan Tapol atau Kami Serang

News | Senin, 20 April 2026 | 13:02 WIB

3 Fakta Kapal Touska Iran yang Diserang dan Disita AS di Laut Oman

3 Fakta Kapal Touska Iran yang Diserang dan Disita AS di Laut Oman

News | Senin, 20 April 2026 | 13:00 WIB

Terkini

Kasus Pindah ke Kejagung, Status Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tetap Dicekal Imigrasi

Kasus Pindah ke Kejagung, Status Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tetap Dicekal Imigrasi

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:10 WIB

Bukan Cuma Nonton Konser Musik, Ini 3 Destinasi Wajib Mampir Saat Kamu ke Jazz Gunung Bromo 2026

Bukan Cuma Nonton Konser Musik, Ini 3 Destinasi Wajib Mampir Saat Kamu ke Jazz Gunung Bromo 2026

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:08 WIB

JPMorgan Upgrade Saham BBRI ke Overweight, Nilai Valuasi Murah dan Dividen Tetap Menarik

JPMorgan Upgrade Saham BBRI ke Overweight, Nilai Valuasi Murah dan Dividen Tetap Menarik

Batam | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:08 WIB

Dirjen Imigrasi Pastikan Status Cekal Febrie Adriansyah Masih Berlaku

Dirjen Imigrasi Pastikan Status Cekal Febrie Adriansyah Masih Berlaku

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:05 WIB

Piala Dunia 2026 Ubah Ranking FIFA, Spanyol 'Tendang' Prancis dari Puncak

Piala Dunia 2026 Ubah Ranking FIFA, Spanyol 'Tendang' Prancis dari Puncak

Bola | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:02 WIB

4 Cushion Tahan Lama yang Lagi Diskon Capai 50 Persen di Shopee, Harga Jadi di Bawah Rp100 Ribu

4 Cushion Tahan Lama yang Lagi Diskon Capai 50 Persen di Shopee, Harga Jadi di Bawah Rp100 Ribu

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:01 WIB

4 Rekomendasi Parfum Aroma Nanas Harga Terjangkau, Mulai Rp40 Ribuan Saja

4 Rekomendasi Parfum Aroma Nanas Harga Terjangkau, Mulai Rp40 Ribuan Saja

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 21:59 WIB

Megawati Berpesan Agar Anak Muda Jangan Jadi 'Bangbong'

Megawati Berpesan Agar Anak Muda Jangan Jadi 'Bangbong'

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 21:59 WIB

Optimistis terhadap BBRI, JPMorgan Tingkatkan Rekomendasi Saham Jadi Overweight

Optimistis terhadap BBRI, JPMorgan Tingkatkan Rekomendasi Saham Jadi Overweight

Jogja | Selasa, 21 Juli 2026 | 21:58 WIB

JPMorgan Naikkan Rating BBRI ke Overweight, Soroti Kuatnya Fundamental

JPMorgan Naikkan Rating BBRI ke Overweight, Soroti Kuatnya Fundamental

Bekaci | Selasa, 21 Juli 2026 | 21:54 WIB

×