- Pemerintah Indonesia memutuskan bahwa peringatan Hari Kartini pada 21 April 2026 tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional.
- Media Belanda menyoroti peran RA Kartini sebagai tokoh pelopor kesetaraan gender yang pemikirannya terus menginspirasi masyarakat Indonesia.
- Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van Heutsz, berperan mendukung pendidikan perempuan melalui bantuan dana bagi Kartini Fonds sejak 1913.
Suara.com - Hari ini, Selasa 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Peringatan hari Kartini 2026 jadi sorotan salah satu media Belanda.
Media Belanda, Mixvale dalam ulasannya menyoroti perihal alasan pemerintah Indonesia tidak menetapkan hari Kartini sebagai hari libur nasional.
"Pemerintah Indonesia memastikan bahwa peringatan Hari Kartini pada 21 April 2026 tidak termasuk dalam daftar hari libur nasional," tulis media Belanda tersebut.
"Meski bukan hari libur nasional, peringatan Hari Kartini tetap memiliki makna historis yang kuat bagi masyarakat Indonesia,"
Dalam ulasannya, media Belanda itu menyebut sosok Kartini ialah pelopor kesetaraan gender di Indonesia.
"Pemikirannya yang tertuang dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi tonggak penting dalam gerakan perempuan dan terus menginspirasi hingga kini," tulis media Belanda itu.

Sementara itu, media Belanda lainnya, Dagblad010, mengangkat sosok Joannes Benedictus van Heutsz sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan RA Kartini.
Menurut media Belanda itu, sosok kolonial Belanda itu ternyata memiliki peran dalam mendukung pendidikan perempuan Indonesia.
Van Heutsz dikenal sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1904–1909, yang meninggalkan jejak kuat dalam pemerintahan kolonial.
Namun di sisi lain, ia juga terlibat dalam upaya mendorong pendidikan perempuan melalui dukungannya terhadap gagasan Raden Ajeng Kartini.
Pada 1913, setelah kembali ke Belanda, Van Heutsz aktif membantu penggalangan dana untuk Kartini Fonds.
Dana tersebut digunakan untuk mendukung sekolah-sekolah Kartini di Hindia Belanda yang memberikan akses pendidikan bagi perempuan pribumi.
Dalam salah satu pidatonya, Van Heutsz mengutip pemikiran Kartini tentang pentingnya peran perempuan dalam kemajuan masyarakat.
“Berikan Jawa ibu-ibu yang cakap dan bijaksana, maka kemajuan penduduk pribumi hanya soal waktu,” ujarnya.