Pengamat Soal Alarm '98 Jilid 2': Keresahan Publik Sudah Sangat Besar

Bangun Santoso, Hiskia Andika Weadcaksana

Jum'at, 05 Juni 2026 | 16:37 WIB
Pengamat Soal Alarm '98 Jilid 2': Keresahan Publik Sudah Sangat Besar
Ilustrasi demonstrasi. (Pexels.com/Mohamed Elamine M'siouri)
baca 10 detik
  • Immanuel Ebenezer memperingatkan Presiden Prabowo mengenai potensi konsolidasi penggulingan pemerintahan pada periode Juni hingga Juli 2026.
  • Sosiolog Zuly Qodir menyebut pelemahan ekonomi dan rupiah dapat memicu gejolak sosial serupa peristiwa Reformasi 1998.
  • Masyarakat saat ini cenderung diam karena adanya ketakutan terhadap tindakan represif serta pengamanan aparat yang berlebihan.

Suara.com - Wacana potensi terjadinya '98 jilid 2' kembali mencuat setelah eks Wamenaker Immanuel Ebenezer atau Noel memperingatkan Presiden Prabowo Subianto soal adanya konsolidasi besar yang untuk menggulingkan pemerintahan pada Juni hingga Juli 2026.

Isu tersebut muncul di tengah tekanan ekonomi, pelemahan rupiah, hingga meningkatnya keresahan publik.

Sosiolog Politik UMY, Zuly Qodir, menilai potensi gejolak sosial menyerupai Reformasi 1998 dapat terjadi apabila kondisi ekonomi terus memburuk. Menurutnya, pelemahan rupiah dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan bisa memicu kemarahan publik yang sulit dibendung.

"Kalau terus-menerus dan kemudian rakyat kemarahannya tidak bisa terbendung, '98 jilid 2' bisa terjadi, bulan Agustus atau bulan Juli," kata Zuly kepada Suara.com, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya pemerintah perlu berhati-hati menghadapi situasi ekonomi dan sosial saat ini. Kondisi masyarakat yang semakin tertekan dapat memunculkan tindakan-tindakan spontan akibat frustrasi dan kesulitan hidup yang berkepanjangan.

"Kalau rupiah semakin nyungsep, kesengsaraan semakin merajalela, orang lapar itu ya bisa berbuat semena-mena gitu. Setelah habis semena-mena, 'udah lah daripada gini demo aja sekalian. Kita rusuh-rusuh biar gak pusing.' Makanya jangan sampai terjadi," ujarnya.

Tingkat keresahan masyarakat saat ini, kata Zuly, sebenarnya tidak kalah akut dibandingkan masa menjelang Reformasi 1998 silam. Namun, ia menilai masyarakat cenderung memilih diam.

Hal ini tidak terlepas dari adanya rasa takut terhadap berbagai kemungkinan intimidasi maupun tindakan represif.

"Sebetulnya sama akutnya, cuma mereka malas ngomong, malas bicara keras karena daripada disiram air keras kan, jadi mereka diam-diam aja. Jadi ketakutannya sekarang sudah luar biasa seperti '98," ucapnya.

baca juga

"Cuman karena tentaranya sekarang kuat sekali membela presiden sehingga baik masyarakatnya diam. Daripada tiba-tiba habis pulang salat subuh disiram air keras, lagi pulang dari nonton tiba-tiba digebukin, maka mereka lebih baik diam saja," tambahnya.

Ia menambahkan, denyut kegelisahan publik saat ini cukup besar meski tidak selalu tampak di ruang publik. Hal itu bisa dipahami dari sejumlah respons masyarakat terhadap program pemerintah yang menunjukkan adanya ketidakpuasan terpendam.

"Secara denyut nadi, kegelisahan dan keresahan masyarakat itu sudah luar biasa, walaupun selalu dikatakan, 'enggak, masyarakat enggak resah,' buktinya pada saat ditanya 'apakah MBG penting?' kan mengatakan tidak," ujarnya.

Zuly menuturkan gerakan massa seperti tahun 1998 masih berpotensi muncul apabila ada momentum dan konsolidasi dari kelompok mahasiswa maupun masyarakat sipil.

Namun, dalam hal ini, ia menyoroti sebagian perguruan tinggi yang dinilai kini tidak lagi kritis terhadap pemerintah. Sejumlah kampus itu sekarang lebih memilih diam karena berbagai kepentingan proyek dan kebijakan tertentu.

Karena itu, menurutnya, potensi gerakan justru kemungkinan muncul dari kelompok kampus maupun elemen masyarakat di luar lingkaran tersebut.

Tak lupa, ia menyinggung pola pengamanan aparat yang dinilainya berlebihan dalam merespons aksi massa maupun kegiatan publik tertentu. Kondisi itu dapat menjadi pemantik aksi masyarakat sipil yang lebih besar.

"Yang demo 10 orang, yang mengamankan 30, nah ini kan bahaya sekali menurut saya, yang nonton film pesta babi 100, yang datang mengamankan 300, ini kan berlebihan," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sinyal Kemarahan Prabowo saat Kejagung-KPK Bergerak, Pengamat: Jangan Sekadar Panggung Politik

Sinyal Kemarahan Prabowo saat Kejagung-KPK Bergerak, Pengamat: Jangan Sekadar Panggung Politik

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 14:45 WIB

Wacana '98 Jilid 2' Mengemuka, Pakar Sebut Situasi Belum Selevel Reformasi

Wacana '98 Jilid 2' Mengemuka, Pakar Sebut Situasi Belum Selevel Reformasi

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 13:50 WIB

Bukan Hanya MBG, Mensesneg Sebut Semua Program Pemerintah Bakal 'Dipelototi' Ketat

Bukan Hanya MBG, Mensesneg Sebut Semua Program Pemerintah Bakal 'Dipelototi' Ketat

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 10:26 WIB

Roman Politik di Balik Harlah Pancasila, Kenapa Jokowi Tak Diundang?

Roman Politik di Balik Harlah Pancasila, Kenapa Jokowi Tak Diundang?

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 22:10 WIB

Bunga Zainal Kritik Prabowo Usai Dolar Tembus Rp18 Ribu: Pidato Tak Sesuai Kenyataan

Bunga Zainal Kritik Prabowo Usai Dolar Tembus Rp18 Ribu: Pidato Tak Sesuai Kenyataan

Entertainment | Kamis, 04 Juni 2026 | 12:48 WIB

Usai Dadan Terasangka, Prabowo Ultimatum Mitra Makan Bergizi Gratis: Yang Brengsek Segera Tobat!

Usai Dadan Terasangka, Prabowo Ultimatum Mitra Makan Bergizi Gratis: Yang Brengsek Segera Tobat!

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 11:58 WIB

Dadan Hindayana Dulu Dilantik Siapa? Eks Kepala BGN yang Kini Jadi Tersangka Korupsi Program MBG

Dadan Hindayana Dulu Dilantik Siapa? Eks Kepala BGN yang Kini Jadi Tersangka Korupsi Program MBG

Lifestyle | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:12 WIB

Terkini

Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay

Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay

Bisnis | Senin, 20 Juli 2026 | 23:07 WIB

Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub

Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 22:52 WIB

Berawal dari Dapur Rumahan, Camilan BUNCY Kini Mendunia Bersama BRI

Berawal dari Dapur Rumahan, Camilan BUNCY Kini Mendunia Bersama BRI

Bri | Senin, 20 Juli 2026 | 22:40 WIB

Terjaring OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tiba di KPK

Terjaring OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tiba di KPK

Foto | Senin, 20 Juli 2026 | 22:24 WIB

Banyak Sekolah Rusak? Prabowo Janji Bereskan Semuanya Sebelum 2029

Banyak Sekolah Rusak? Prabowo Janji Bereskan Semuanya Sebelum 2029

News | Senin, 20 Juli 2026 | 22:15 WIB

Gaji Bukan Hambatan, Pep Guardiola Berpeluang Tangani Timnas Italia

Gaji Bukan Hambatan, Pep Guardiola Berpeluang Tangani Timnas Italia

Bola | Senin, 20 Juli 2026 | 21:37 WIB

Pakar Jelaskan Soal BPA pada Galon Guna Ulang, Benarkah Berbahaya?

Pakar Jelaskan Soal BPA pada Galon Guna Ulang, Benarkah Berbahaya?

Health | Senin, 20 Juli 2026 | 21:27 WIB

Green Label Jadi Tren Baru Bangunan, Material Ramah Lingkungan Semakin Diminati

Green Label Jadi Tren Baru Bangunan, Material Ramah Lingkungan Semakin Diminati

Lifestyle | Senin, 20 Juli 2026 | 21:16 WIB

Mendagri Tito Heran Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Padahal Sudah Ikut Retret

Mendagri Tito Heran Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Padahal Sudah Ikut Retret

News | Senin, 20 Juli 2026 | 21:15 WIB

Kriminolog: TPPU Pintu Masuk untuk Kasus Eks Jampidsus

Kriminolog: TPPU Pintu Masuk untuk Kasus Eks Jampidsus

News | Senin, 20 Juli 2026 | 21:13 WIB

×