-
Investigasi besar-besaran mengungkap 67.000 toko kue hantu ilegal yang beroperasi di platform digital.
-
Pemerintah China menjatuhkan denda rekor 3,6 miliar yuan akibat pelanggaran keamanan pangan masif.
-
Skandal ini mengungkap praktik perang harga brutal yang merugikan produsen dan konsumen sekaligus.
Perang harga ekstrem atau yang dikenal sebagai istilah 'involution' dianggap sebagai akar dari kehancuran margin industri makanan.
Harian Ekonomi milik pemerintah menyebutkan bahwa persaingan tidak sehat memaksa pengusaha mengorbankan kualitas demi volume penjualan.
Analis S&P Global Ratings, Flora Chang, menilai intervensi pemerintah mulai menunjukkan hasil dalam meredam kompetisi yang merusak.
Ia menyatakan bahwa denda besar ini memberikan jalan bagi platform untuk beralih fokus pada persaingan kualitas produk.
Meskipun demikian, jalan menuju pemulihan profitabilitas yang sehat di sektor pengiriman makanan masih memerlukan waktu lama.
Beberapa raksasa teknologi seperti Alibaba dan Meituan kini telah menyatakan komitmen untuk memperbaiki tata kelola kepatuhan mereka.
Krisis ini berawal dari fenomena neijuan di China, di mana persaingan bisnis menjadi sangat brutal hingga memaksa perusahaan melakukan efisiensi yang tidak masuk akal.
Di sektor kuliner, hal ini memicu munculnya makelar pesanan yang memotong komisi sangat besar sehingga baker asli hanya menerima sisa keuntungan yang sangat kecil.
Pemerintah China kini memperketat pengawasan digital untuk memastikan keamanan pangan tidak dikorbankan demi mengejar harga murah di aplikasi belanja.