Lingkaran Setan Pernikahan Kelas Menengah India, Bayar Utang Bertahun-tahun Demi 1 Hari Pesta

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 22 April 2026 | 13:22 WIB
Lingkaran Setan Pernikahan Kelas Menengah India, Bayar Utang Bertahun-tahun Demi 1 Hari Pesta
Lingkaran Setan Pernikahan Kelas Menengah India, Bayar Utang Bertahun-tahun Demi 1 Hari Pesta (CNN)
baca 10 detik
  • Pernikahan di India memicu beban utang besar akibat tekanan sosial untuk menggelar pesta mewah.

  • Praktik mahar ilegal tetap berlangsung dan memicu ribuan kasus kekerasan terhadap perempuan setiap tahun.

  • Warga kurang mampu memilih pernikahan massal guna menghindari jeratan rentenir dan biaya tinggi.

Di kota-kota besar seperti Delhi, pernikahan bukan lagi sekadar penyatuan dua insan, melainkan instrumen untuk naik kasta sosial.

Layanan perjodohan profesional seperti The Vows mencatat bahwa saldo bank sering kali menjadi penentu utama dalam kesepakatan pernikahan.

Payal Mehta Chugh, seorang makelar jodoh, mengungkapkan bahwa keluarga kliennya memiliki ekspektasi yang sangat spesifik dan transaksional.

"Rekening bank, ya," kata Mehta Chugh secara terbuka.

"Dalam banyak kasus, ini sangat transaksional. Saldo bank adalah pengubah permainan, pembuat kesepakatan, sayangnya."

Rekan kerjanya, Ritika Bawa Sachdev, menambahkan bahwa kriteria fisik yang setara juga menjadi syarat mutlak bagi banyak pemesan.

"Mereka menginginkan seseorang yang berpenampilan serupa," katanya secara blak-blakan.

"Kita tidak bisa membiarkan gadis gemuk dengan pria kurus, atau sebaliknya."

Kontras dengan kemewahan di Mumbai atau Delhi, warga pedesaan mulai beralih ke pernikahan massal untuk menghindari lintah darat.

baca juga

Tejpal Singh, seorang tokoh masyarakat, mengorganisir acara kolektif agar para orang tua tidak perlu meminjam uang dengan bunga tinggi.

Anamika Upadhayay, salah satu pengantin muda, terpaksa memilih jalur ini karena ibunya yang merupakan orang tua tunggal tidak mampu membiayai pesta.

Pernikahan massal ini juga memberikan bantuan alat rumah tangga senilai 1.000 dolar AS untuk membantu ekonomi pasangan baru.

"Masalah terbesarnya adalah rentenir," kata Singh, merujuk pada beban bunga yang sering menghantui keluarga di desa.

Upaya ini dilakukan untuk memutus rantai kemiskinan agar dana yang ada bisa dialokasikan untuk pendidikan anak-anak mereka.

Bahaya Laten Mahar dan Kekerasan Domestik

Meskipun sistem mahar atau dowry telah dilarang secara hukum, praktiknya masih mendarah daging dan memicu banyak kasus kekerasan.

Data nasional menunjukkan lebih dari 6.000 kematian setiap tahun di India terkait dengan perselisihan pembayaran mahar oleh keluarga mempelai pria.

Pengacara Kunal Madan menyebutkan bahwa tuntutan harta sering kali muncul secara tidak langsung namun bersifat sangat menekan.

"Ini bukan tuntutan biasa," katanya.

"Ini adalah tuntutan untuk sejumlah besar uang, properti, atau emas—hal-hal yang sebagian besar wanita tidak mampu berikan."

Priyanka Dabla, korban lainnya, menceritakan bagaimana ayahnya sudah menghabiskan 32.000 dolar AS, namun tuntutan dari pihak suami tidak pernah berhenti.

Bahkan setelah pesta usai, banyak perempuan yang ragu melapor karena stigma sosial dan lambatnya sistem peradilan di India.

Bagi keluarga di India, melepaskan anak perempuan ke rumah suami sering kali dianggap sebagai cara untuk mengurangi beban ekonomi keluarga.

Ibu dari Vanamala merasa ada kelegaan sekaligus kesedihan saat harus menikahkan putrinya di hadapan 500 tamu undangan.

"Suatu hari kami harus menyerahkan putri kami," katanya dengan tenang.

"Ketika gadis itu pergi, beban kami menjadi lebih ringan."

Namun, bagi para mempelai wanita seperti Vanamala, rasa bahagia tersebut sering kali dibayangi oleh kecemasan membayar cicilan.

"Pernikahan itu adalah semua yang saya impikan," katanya.

"Tapi saya akan stres sampai pinjamannya selesai."

Tradisi pernikahan di India merupakan fenomena budaya yang kompleks di mana pengeluaran untuk pesta sering kali melampaui biaya pendidikan.

Tekanan sosiokultural memaksa keluarga dari berbagai lapisan ekonomi untuk berutang demi mempertahankan reputasi di komunitas mereka.

Meskipun pemerintah telah melarang praktik mahar sejak lama, ketergantungan pada status sosial melalui kemewahan pesta tetap menjadi akar masalah ekonomi dan kekerasan domestik hingga saat ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bahagia Jadi Duka, Istri Wafat Beberapa Jam Setelah Pernikahan

Bahagia Jadi Duka, Istri Wafat Beberapa Jam Setelah Pernikahan

Entertainment | Rabu, 22 April 2026 | 11:33 WIB

Curhatan Azizah Salsha Bocor, Singgung Lelahnya Menikah dengan Pratama Arhan

Curhatan Azizah Salsha Bocor, Singgung Lelahnya Menikah dengan Pratama Arhan

Entertainment | Rabu, 22 April 2026 | 11:14 WIB

Indra Priawan Blak-blakan Soal Hijrah Bareng Nikita Willy: Tujuan Kita ke Tuhan

Indra Priawan Blak-blakan Soal Hijrah Bareng Nikita Willy: Tujuan Kita ke Tuhan

Entertainment | Rabu, 22 April 2026 | 10:41 WIB

Terkini

Beli Pertalite Tak Lagi Bebas, Bakal Ada Aturan Baru

Beli Pertalite Tak Lagi Bebas, Bakal Ada Aturan Baru

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:44 WIB

Gus Ipul Beri Apresiasi atas Komitmen Pemkab Bandung Dukung Sekolah Rakyat

Gus Ipul Beri Apresiasi atas Komitmen Pemkab Bandung Dukung Sekolah Rakyat

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:41 WIB

Bukan Cuma Ganti Figur, DPR Desak Kepala BGN Baru Pengganti Nanik Deyang Berani Desain Ulang MBG

Bukan Cuma Ganti Figur, DPR Desak Kepala BGN Baru Pengganti Nanik Deyang Berani Desain Ulang MBG

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:40 WIB

PAM Jaya Ungkap Biang Kerok Kebocoran Berulang di TB Simatupang, Pipa Sudah Berusia 30 Tahun

PAM Jaya Ungkap Biang Kerok Kebocoran Berulang di TB Simatupang, Pipa Sudah Berusia 30 Tahun

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:38 WIB

Santunan Korban Motor Tembus Rp1,79 T, Penguatan Standar Keselamatan Dinilai Mendesak

Santunan Korban Motor Tembus Rp1,79 T, Penguatan Standar Keselamatan Dinilai Mendesak

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:37 WIB

9 Rekomendasi Parfum untuk Kulit Sensitif dan Sudah Terdaftar BPOM

9 Rekomendasi Parfum untuk Kulit Sensitif dan Sudah Terdaftar BPOM

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:35 WIB

Sampah Jakarta Capai 7.354 Ton per Hari, Bisakah Pengelolaan dari Rumah Jadi Solusi?

Sampah Jakarta Capai 7.354 Ton per Hari, Bisakah Pengelolaan dari Rumah Jadi Solusi?

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:35 WIB

JPMorgan Resmi Naikkan Rating BBRI ke Overweight, Simak Alasannya

JPMorgan Resmi Naikkan Rating BBRI ke Overweight, Simak Alasannya

Riau | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:33 WIB

Insentif Mobil Listrik Bisa Bikin Jakarta Rugi Rp2 Triliun

Insentif Mobil Listrik Bisa Bikin Jakarta Rugi Rp2 Triliun

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:33 WIB

Kasus Penganiayaan Warga Rupat Utara, Propam Polda Riau Periksa 9 Orang

Kasus Penganiayaan Warga Rupat Utara, Propam Polda Riau Periksa 9 Orang

Riau | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:30 WIB

×