-
Loni resmi menjadi kota dengan kualitas udara paling buruk dan beracun di dunia.
-
Konsentrasi polutan PM2.5 di Loni melampaui ambang batas aman WHO sebesar 22 kali.
-
Penduduk menderita gangguan pernapasan kronis akibat lemahnya penegakan regulasi emisi industri lokal.
Kombinasi debu konstruksi dan asap kendaraan menciptakan lapisan udara tebal yang sulit ditembus cahaya matahari.
Pemerintah sebenarnya telah meluncurkan Program Udara Bersih sejak 2019 untuk menekan angka polusi nasional.
Namun, lemahnya penegakan hukum membuat strategi pengurangan emisi sebesar 40 persen tampak sulit tercapai.
Fenomena inversi suhu saat cuaca dingin turut memerangkap zat beracun tetap berada di permukaan tanah.
Keluarga di Loni terpaksa membersihkan rumah berulang kali karena debu masuk hingga ke ruang terdalam.
"Kami harus membersihkan rumah dua hingga tiga kali sehari karena begitu banyak debu yang masuk," kata Khushi Feroze.
Perbandingan Regional dan Harapan Warga
"Anda bahkan dapat melihat debu di ruangan terjauh di dalam rumah," keluh Feroze mengenai polusi itu.
Di sisi lain, China menunjukkan kemajuan signifikan dalam pembersihan udara yang kontras dengan situasi di Asia Selatan.
Pakistan justru tercatat sebagai negara dengan tingkat polusi paling parah secara nasional pada tahun 2025.
Masyarakat Loni kini merasa terjebak dalam lingkaran polusi yang tidak pernah menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
"Tidak ada yang berubah selama 40 tahun terakhir," kata Kumar, sang pengemudi e-rickshaw dengan nada kecewa.
Loni adalah kota satelit di dekat Delhi yang berkembang pesat sebagai basis industri manufaktur dan konstruksi.
Laporan IQAir 2025 mengonfirmasi bahwa konsentrasi rata-rata PM2.5 di kota ini mencapai 112,5 mikrogram per meter kubik.
Angka ini menempatkan Loni sebagai wilayah paling berpolusi di dunia, memicu protes warga dan tuntutan aksi pemerintah.