- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan transformasi gaya komunikasi yang tenang saat menanggapi kritik pedas Jusuf Kalla.
- Gibran menanggapi sentilan Jusuf Kalla dengan menyebutnya sebagai idola saat kunjungan kerja di Papua Barat Daya, Rabu (22/4/2026).
- Pakar komunikasi Ari Junaedi menilai strategi Gibran tersebut efektif meredam opini negatif dan mendinginkan suasana politik nasional saat ini.
Suara.com - Pakar komunikasi politik Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, menilai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah menunjukkan transformasi gaya komunikasi yang signifikan di level kepemimpinan nasional.
Putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi ini juga dianggap sudah belajar banyak mengenai pola komunikasi yang tepat, dengan tetap bersikap santun di tengah serangan kritik pedas dari politisi senior, Jusuf Kalla (JK).
Ari menyoroti ketenangan Gibran yang tidak terpancing emosi saat menanggapi pernyataan JK yang belakangan menyentil jasa masa lalu hingga menggunakan istilah "Termul" (Ternak Mulyono) bagi pendukung setia Jokowi.
“Gibran tidak terpancing dengan pancingan pertanyaan media yang jika ditanggapi dengan emosi justru akan memperuncing suasana politik nasional menjadi semakin panas. Dalam hal ini, Gibran sudah belajar banyak mengenai pola komunikasi yang benar,” ujar Ari dalam keterangannya, Jumat (24/04/2026).

Ari, yang juga Direktur Eksekutif Nusakom Pratama Institute, menganalisis bahwa manuver Gibran yang menyebut JK sebagai "idola" adalah strategi cerdas untuk meredam opini negatif.
Dalam teori sosiologi komunikasi, ia menyebut langkah tersebut dikenal sebagai upaya memecah spiral keheningan (spiral of silence).
"Gibran sepertinya ingin memecah dominasi arus pendapat umum tentang diri dan keluarganya,” jelas Ari.
Respons yang dianggap menunjukkan kematangan berpolitik ini muncul saat Gibran melakukan kunjungan kerja di Papua Barat Daya, Rabu (22/4/2026).
Alih-alih membela diri atau melancarkan serangan balik, Gibran yang saat itu ditanya wartawan, justru memberikan penghormatan terhadap rekam jejak panjang Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI tersebut.
"Pak JK itu senior saya. Pak JK itu mentor juga. Beliau sudah sangat berpengalaman. Beliau banyak kiprah dan kontribusinya untuk negeri ini, terutama di daerah-daerah konflik. Jadi beliau itu adalah teladan untuk kita semua dan ya, saya sangat berterima kasih sekali untuk masukan-masukan dan juga evaluasi dari Pak JK. Pak JK itu idola saya," tutur Gibran.
Ari menyebut kemampuan Gibran untuk tetap mendinginkan suasana batin masyarakat melalui pernyataan tersebut membuktikan bahwa sang Wakil Presiden kini lebih piawai dalam menavigasi dinamika politik elite dibandingkan masa-masa awal karier politiknya.