- Pemerintah berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem nasional dari 1,26 persen menjadi 0,78 persen selama periode Maret 2024 hingga September 2025.
- Program Makan Bergizi Gratis berkontribusi signifikan dengan menjangkau 60,2 juta penerima manfaat untuk mempercepat pengentasan kemiskinan di seluruh wilayah Indonesia.
- Pemerintah menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem menjadi nol persen pada tahun 2026 melalui penguatan sektor pangan, energi, serta reformasi agraria.
Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut menjadi salah satu program paling berpengaruh terhadap pengentasan kemiskinan dalam setahun terakhir. Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menyampaikan, pemerintah berhasil memangkas kemiskinan ekstrem dari 1,26 persen pada Maret 2024 menjadi 0,78 persen per September 2025.
"Yang paling berdampak tentu program Makan Bergizi Gratis. Program MBG telah menjangkau 60,2 juta penerima manfaat," kata Cak Imin usai Rapat Tingkat Menteri (RTM) di Plaza BP Jamsostek, Kuningan, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Cak Imin menilai, keberhasilan tersebut tidak lepas dari intervensi program yang langsung menyasar kebutuhan dasar masyarakat.
"Kedaulatan pangan misalnya, hari ini soal ketersediaan pupuk sangat berdampak pada tingkat produktivitas petani, nilai tukar petani naik dengan baik. Nelayan juga. Itu program-program yang langsung konkret bisa dirasakan akibat skala prioritas yang tepat," imbuhnya.
Ia menambahkan, penguatan sektor pangan dan energi ke depan diyakini akan memberikan efek lanjutan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Kita berharap swasembada pangan, ketahanan pangan, dan ketahanan energi akan berdampak langsung pada industri yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat," imbuhnya.
Peningkatan ketahanan pangan tersebut, berdasarkan data Kementerian Pertanian, tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang pada 2025 mencapai angka 125,35.
Selain itu, sebanyak 111 ribu pekerja migran telah difasilitasi penempatannya, serta 28 ribu keluarga mendapatkan pendampingan melalui program reformasi agraria.
Secara jumlah, penduduk miskin ekstrem berkurang dari 3,56 juta jiwa menjadi 2,2 juta jiwa. Artinya, sekitar 1,36 juta penduduk miskin ekstrem telah naik kelas ekonomi. Untuk mencapai angka tersebut, pemerintah mengalokasikan APBN hingga Rp503,2 triliun, serta diperkuat dengan Rp129 triliun dari APBD.
Cak Imin menekankan bahwa program pengentasan kemiskinan akan terus dilanjutkan karena pemerintah menargetkan nol persen kemiskinan ekstrem pada tahun ini.
“Kita akan terus bekerja keras untuk mencapai target nol persen kemiskinan ekstrem pada 2026, dan menurunkan angka kemiskinan hingga maksimal lima persen pada 2029. Ini membutuhkan kerja bersama, konsistensi, dan fokus pada hasil nyata,” tegasnya.