-
Militer Israel mengaktifkan kembali unit Netzah Yehuda setelah skorsing satu bulan akibat menyerang jurnalis.
-
Penyelidikan polisi militer terhadap pelaku pencekikan wartawan CNN di Tepi Barat masih belum transparan.
-
Polisi Israel juga menyelidiki kasus patah tulang pergelangan tangan produser CNN akibat kekerasan petugas.
Hingga saat ini, pihak kepolisian belum memberikan informasi mendetail mengenai temuan atau langkah hukuman konkret bagi pelaku.
Prajurit yang secara langsung menyerang fotojurnalis CNN diketahui belum menghadapi penangguhan tambahan atau sanksi disiplin yang jelas.
Situasi ini semakin memperumit citra penegakan hukum militer Israel di tengah pengawasan komunitas internasional terhadap keselamatan pers.
Ketidakjelasan hasil investigasi menimbulkan kekhawatiran akan berulangnya insiden serupa di masa depan tanpa ada konsekuensi jera.
Kasus ini menjadi preseden penting mengenai bagaimana militer menangani pelanggaran hak asasi manusia oleh personelnya sendiri.
Selain kasus di Tepi Barat, unit investigasi internal kepolisian Israel juga sedang mendalami insiden kekerasan lainnya yang berbeda.
Kasus ini melibatkan Abeer Salman, seorang produser senior CNN yang mengalami patah tulang pergelangan tangan akibat ulah petugas.
Insiden tersebut berlangsung pada 17 Maret saat Salman meliput ibadah Ramadan di luar Gerbang Singa, Kota Tua Yerusalem.
Petugas kepolisian melemparkan granat kejut ke arah jemaah Muslim yang dilarang memasuki Masjid Al-Aqsa karena pembatasan masa perang.
Dalam kekacauan tersebut, dua jurnalis sempat ditahan sementara peralatan kerja mereka dirusak oleh aparat keamanan di lokasi.
Rekaman di lokasi menunjukkan bahwa kelompok jurnalis sebenarnya telah mematuhi semua instruksi polisi untuk mundur ke area tertentu.
Namun, seorang petugas berpakaian preman tiba-tiba menarik tangan Salman dan memelintirnya hingga mengakibatkan cedera tulang yang cukup parah.
Persatuan Jurnalis di Israel mengecam pernyataan awal kepolisian yang dianggap “secara faktual tidak benar” mengenai kronologi kejadian tersebut.
Pihak polisi mengklaim jurnalis menolak mematuhi arahan dan tidak menunjukkan identitas pers, yang kemudian memicu kecurigaan di lapangan.
Pernyataan polisi menyebutkan perilaku jurnalis menimbulkan kecurigaan dan kamera yang dibawa “tampak dimaksudkan untuk memprovokasi.”