-
Uni Emirat Arab resmi meninggalkan OPEC demi mengutamakan kepentingan nasional dan produksi minyak mandiri.
-
Konflik Iran dan perang energi global menjadi latar belakang pengunduran diri strategis Abu Dhabi.
-
Arab Saudi kini menanggung beban stabilitas harga minyak sendirian pasca keluarnya Uni Emirat Arab.
Suara.com - Langkah berani Uni Emirat Arab meninggalkan keanggotaan OPEC menjadi sinyal kuat runtuhnya dominasi kartel minyak dalam mengatur pasar energi global.
Keputusan ini diambil saat dunia sedang menghadapi guncangan ekonomi hebat akibat eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Dikutip dari Al Jazeera, mundurnya negara produsen besar ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan strategi untuk memerdekakan kapasitas produksi mereka dari belenggu kuota kolektif.

Alih-alih bertahan dalam solidaritas kelompok, Abu Dhabi memilih jalur mandiri guna mengamankan target ekonomi jangka panjang yang lebih agresif.
Keluarnya UEA secara resmi pada hari Jumat mendatang akan mengubah peta kekuatan eksportir minyak di tengah ancaman jalur pelayaran Selat Hormuz.
Pihak berwenang menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari evaluasi mendalam terhadap visi ekonomi dan profil energi negara yang terus berkembang.
“Selama waktu kami di organisasi tersebut, kami memberikan kontribusi signifikan dan bahkan pengorbanan yang lebih besar demi keuntungan semua orang,” jelas pernyataan resmi media pemerintah.
![Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/25/18701-ilustrasi-kilang-minyak-harga-minyak-dunia-minyak.jpg)
“Namun, waktunya telah tiba untuk memfokuskan upaya kami pada apa yang didiktekan oleh kepentingan nasional kami,” tambah keterangan tersebut.
Suhail Mohamed al-Mazrouei selaku Menteri Energi UEA menegaskan bahwa kebijakan ini murni didasarkan pada tinjauan strategi energi internal secara saksama.
Beliau juga mengungkapkan bahwa keputusan besar ini diambil tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pemimpin de facto OPEC, Arab Saudi.
“Ini adalah keputusan kebijakan. Ini dilakukan setelah melihat secara cermat kebijakan saat ini dan masa depan terkait tingkat produksi,” tutur sang menteri kepada kantor berita Reuters.
Kepergian salah satu anggota kunci ini diprediksi akan memicu kekacauan koordinasi di internal kelompok yang selama ini berusaha tampil solid.
Padahal, para produsen di kawasan Teluk sedang berjuang keras mengamankan pengiriman komoditas melalui titik rawan Selat Hormuz yang kian mencekam.
Konflik yang melibatkan Iran telah membuat arus keluar masuk sepertiga pasokan gas alam cair dan seperlima minyak mentah dunia terganggu.
Sentimen negatif ini diperparah oleh tekanan politik global yang sering menuding organisasi ini melakukan manipulasi harga demi keuntungan sepihak.