Pola Kekerasan Sejak Lama, LPSK Sebut Masih Ada Potensi Lonjakan Korban Daycare Little Aresha

Bangun Santoso | Hiskia Andika Weadcaksana | Suara.com

Rabu, 29 April 2026 | 16:56 WIB
Pola Kekerasan Sejak Lama, LPSK Sebut Masih Ada Potensi Lonjakan Korban Daycare Little Aresha
Wakil Ketua LPSK RI Sri Suparyati. (Suara.com/Hiskia)
  • LPSK menduga jumlah korban kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta melampaui data kepolisian sebanyak 53 dari 103 anak.
  • Praktik kekerasan di daycare tersebut berlangsung selama bertahun-tahun dan berdampak buruk pada kondisi fisik serta psikologis anak.
  • LPSK berkolaborasi dengan UPTD PPA Yogyakarta untuk mendata korban serta memberikan pendampingan medis dan psikis yang dibutuhkan.

Suara.com - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mensinyalir jumlah anak yang menjadi korban kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta berpotensi jauh lebih besar dari data yang terlacak saat ini.

Hal itu berdasar pada temuan bahwa praktik kekerasan di yayasan tersebut diduga kuat sudah berlangsung dalam kurun waktu yang lama.

Adapun berdasarkan data kepolisian, tercatat ada sebanyak 53 anak yang telah terkonfirmasi mengalami tindakan kekerasan fisik secara langsung. Sementara ada total 103 siswa yang dititipkan pada lembaga tersebut.

Wakil Ketua LPSK RI, Sri Suparyati, menyatakan angka tersebut masih sangat dinamis.

Saat ini pihaknya terus melakukan pendataan untuk melihat seberapa luas dampak masif yang dialami oleh keluarga-keluarga lain yang pernah menitipkan anak mereka di sana.

"Kalau dari tadi yang sudah dikumpulkan bisa saja menambah dari 53, tapi kami belum mendapatkan angka yang lebih pasti ya. Tadi kami melihat ada sekitar 103 gitu ya, tetapi itupun juga kami masih mendata lebih jauh gitu dan apa dampak dan sebagainya," kata Sri ditemui di Kantor Perwakilan LPSK DIY, Rabu (29/4/2026).

Potensi pertambahan korban ini terdeteksi setelah LPSK menggali keterangan dari 10 orang tua korban. Adapun beberapa korban kini sudah duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).

Mereka disebut telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di daycare tersebut. Jauh sebelum kasus ini mencuat melalui penggerebekan kepolisian beberapa waktu lalu.

Fakta ini mengungkap bahwa korban bukan hanya bayi-bayi yang ditemukan dalam kondisi terikat saat penggerebekan, melainkan juga alumni daycare yang kini mulai menunjukkan trauma masa lalu.

LPSK melihat adanya pola kekerasan yang terstruktur dan berlangsung selama masa pertumbuhan anak di instansi tersebut.

"Dari sepuluh korban itu kami melihat bahwa sebenarnya tindakan kekerasannya itu bukan saja kepada bayi-bayi balita, tetapi kami melihat sebenarnya itu sudah terjadi jauh sebelumnya sebelum yang kemarin dilakukan penggerebekan," ungkapnya.

"Karena dari beberapa keterangan diketahui bahwa mereka-mereka, anak-anak yang saat ini berada di level TK itu sebenarnya dahulunya juga mereka berada di daycare tersebut dalam waktu yang cukup lama, sekitar tiga tahun," imbuhnya.

Sri memaparkan bahwa dampak masif ini terlihat dari perubahan perilaku dan kondisi fisik anak yang baru disadari orang tua setelah sekian lama.

Indikasi kemunduran psikologis hingga dugaan stunting menjadi bukti nyata bahwa ada banyak korban "tak terlihat" yang perlu segera mendapatkan intervensi medis dan psikis.

"Si anak ketika sebelum masuk ke dalam daycare dia bisa menghafalkan tahfizh cukup baik tetapi ketika sudah di sana tiga bulan ternyata dia tidak bisa hafal sama sekali dan dia sudah tidak mau berkeinginan untuk menghafal itu," tuturnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

UPT PPA Yogyakarta Beri Pendampingan Psikologis Anak dan Orang Tua Korban Little Aresha

UPT PPA Yogyakarta Beri Pendampingan Psikologis Anak dan Orang Tua Korban Little Aresha

Lifestyle | Rabu, 29 April 2026 | 16:30 WIB

Pemkot Yogyakarta Fasilitasi 37 TPA Pengganti Gratis bagi Anak Korban Little Aresha, Cek Daftarnya!

Pemkot Yogyakarta Fasilitasi 37 TPA Pengganti Gratis bagi Anak Korban Little Aresha, Cek Daftarnya!

Lifestyle | Rabu, 29 April 2026 | 16:02 WIB

Relokasi Korban Little Aresha, Pemkot Jogja Gratiskan Biaya Daycare 3 Bulan

Relokasi Korban Little Aresha, Pemkot Jogja Gratiskan Biaya Daycare 3 Bulan

News | Rabu, 29 April 2026 | 14:06 WIB

Kronologi Lengkap Kasus Kekerasan pada Anak di Daycare Little Aresha Sorosutan

Kronologi Lengkap Kasus Kekerasan pada Anak di Daycare Little Aresha Sorosutan

Lifestyle | Rabu, 29 April 2026 | 14:37 WIB

TIDAR Desak Pembenahan Sistem Daycare Nasional Usai Kasus di Yogyakarta

TIDAR Desak Pembenahan Sistem Daycare Nasional Usai Kasus di Yogyakarta

News | Rabu, 29 April 2026 | 12:57 WIB

Pesan di Balik Air Mata: Mengapa Orang Tua Harus Lebih Peka Saat Memilih Daycare

Pesan di Balik Air Mata: Mengapa Orang Tua Harus Lebih Peka Saat Memilih Daycare

Your Say | Rabu, 29 April 2026 | 11:41 WIB

UGM Tegaskan Dosen Jadi Penasihat Daycare Little Aresha Bukan Representasi Kampus

UGM Tegaskan Dosen Jadi Penasihat Daycare Little Aresha Bukan Representasi Kampus

Video | Rabu, 29 April 2026 | 11:00 WIB

Terkini

krisis Energi Tekan Kelas Menengah Indonesia, Satu Guncangan Bisa Jadi Miskin

krisis Energi Tekan Kelas Menengah Indonesia, Satu Guncangan Bisa Jadi Miskin

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:55 WIB

Transportasi Publik Belum Jadi Layanan Dasar, ITDP Dorong Penguatan Kebijakan Nasional

Transportasi Publik Belum Jadi Layanan Dasar, ITDP Dorong Penguatan Kebijakan Nasional

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:45 WIB

Dunia Harus Tahu! 8 Juta Warga Sudan Terancam Kelaparan, 700 Ribu Anak di Ambang Maut

Dunia Harus Tahu! 8 Juta Warga Sudan Terancam Kelaparan, 700 Ribu Anak di Ambang Maut

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:44 WIB

Stasiun Bekasi Timur Dibuka Lagi, KAI Pastikan Asepek Keselematan Sudah Terpenuhi

Stasiun Bekasi Timur Dibuka Lagi, KAI Pastikan Asepek Keselematan Sudah Terpenuhi

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:40 WIB

Dikritik Perang Lawan Iran, Donald Trump Murka ke Kanselir Jerman: Dia Gak Tahu Apa-apa

Dikritik Perang Lawan Iran, Donald Trump Murka ke Kanselir Jerman: Dia Gak Tahu Apa-apa

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:36 WIB

Ketergantungan Energi Fosil Bebani APBN, Transisi Energi Bisa Jadi Solusi?

Ketergantungan Energi Fosil Bebani APBN, Transisi Energi Bisa Jadi Solusi?

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:34 WIB

Raja Charles Sindir Trump di Gedung Putih, Candaan soal Bahasa Prancis Bikin Ruangan Pecah

Raja Charles Sindir Trump di Gedung Putih, Candaan soal Bahasa Prancis Bikin Ruangan Pecah

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:27 WIB

Bakal Hadiri May Day 2026 di Monas, Prabowo Subianto Siapkan 'Kejutan' untuk Buruh

Bakal Hadiri May Day 2026 di Monas, Prabowo Subianto Siapkan 'Kejutan' untuk Buruh

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:25 WIB

Lasarus PDIP: Pintu Kereta Api Jadi Akar Masalah, Harus Diurus Pemerintah Pusat

Lasarus PDIP: Pintu Kereta Api Jadi Akar Masalah, Harus Diurus Pemerintah Pusat

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:22 WIB

Analis Bongkar Misi Reshuffle Prabowo Hapus Bayang-bayang Jokowi dan Jadikan Dudung 'The New Luhut'

Analis Bongkar Misi Reshuffle Prabowo Hapus Bayang-bayang Jokowi dan Jadikan Dudung 'The New Luhut'

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:18 WIB