Permenhut Perdagangan Karbon Dikritik, Pemerintah Diminta Fokus Hentikan Deforestasi

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Rabu, 13 Mei 2026 | 12:02 WIB
Permenhut Perdagangan Karbon Dikritik, Pemerintah Diminta Fokus Hentikan Deforestasi
Perdagangan Karbon atau Hutan. (Dok. Trend Asia/Melvinas Priananda)
  • Pemerintah menerbitkan Permenhut Nomor 6 Tahun 2026 untuk mengatur tata cara perdagangan karbon guna menurunkan emisi nasional.
  • Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan regulasi ini bertujuan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sektor kehutanan.
  • Organisasi masyarakat sipil mengkritik aturan tersebut karena lemahnya aspek akuntabilitas, transparansi, serta potensi penguasaan lahan oleh korporasi.

Suara.com - Pemerintah baru saja menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon melalui Offset Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Sektor Kehutanan.

Aturan ini disebut pemerintah sebagai langkah untuk memperkuat target penurunan emisi nasional sekaligus membuka manfaat ekonomi karbon bagi masyarakat.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengatakan regulasi tersebut bertujuan memastikan masyarakat dapat merasakan manfaat dari perdagangan karbon di sektor kehutanan.

Namun, sejumlah organisasi masyarakat sipil menilai aturan baru itu masih menyimpan banyak persoalan mendasar. Alih-alih menjadi solusi utama krisis iklim, perdagangan karbon dinilai berisiko mereduksi fungsi hutan menjadi sekadar komoditas ekonomi.

Perdagangan Karbon atau Hutan. (Dok. Trend Asia/Melvinas Priananda)
Perdagangan Karbon atau Hutan. (Dok. Trend Asia/Melvinas Priananda)

Kepala Divisi Kehutanan dan Keanekaragaman Hayati Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Adam Putra F., mengatakan prinsip perlindungan yang tercantum dalam aturan tersebut berpotensi berhenti sebagai pengakuan normatif tanpa jaminan implementasi yang kuat di lapangan.

“Peraturan itu mengatur tahapan pengaduan, mulai dari penerimaan hingga penyelesaian. Namun, tidak dijelaskan bentuk keputusan, tindakan korektif, maupun tindak lanjut konkret yang dapat dilakukan pemerintah terhadap pengaduan yang sudah terbukti,” kata Adam.

ICEL mencatat setidaknya tiga persoalan utama dalam Permenhut tersebut. Pertama, lemahnya dimensi penegakan hukum dan akuntabilitas. Menurut ICEL, mekanisme pengaduan yang ada berpotensi hanya menjadi prosedur administratif tanpa kepastian pemulihan bagi masyarakat terdampak.

Kedua, keterbukaan informasi publik dinilai masih sangat terbatas. Adam menyebut aturan tersebut memang mengacu pada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, tetapi tidak menjelaskan secara tegas informasi apa saja yang wajib dibuka kepada masyarakat.

“Akibatnya, informasi penting tetap berpotensi diklasifikasikan sebagai informasi dikecualikan, sebagaimana masih sering terjadi dalam tata kelola kehutanan saat ini,” ujarnya.

Ketiga, ICEL menilai ruang partisipasi publik dalam proses persetujuan proyek karbon masih minim. Dalam proses pengajuan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK), pelaku usaha memang diwajibkan menyampaikan dokumen seperti AMDAL, hasil konsultasi publik, dan Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa/FPIC). Namun masyarakat dinilai tidak memiliki ruang memadai untuk menguji atau menyanggah informasi tersebut.

“Tanpa mekanisme partisipasi publik yang bermakna, proses persetujuan proyek karbon berisiko menjadi tertutup dan minim pengawasan,” kata Adam.

Kritik serupa juga datang dari Trend Asia. Program Manager Bioenergi Trend Asia, Amalya Reza, menilai aturan perdagangan karbon berpotensi membuka celah penguasaan korporasi terhadap kawasan hutan.

“Masyarakat akan dipaksa bergantung pada mitra teregistrasi. Hal itu berpotensi menempatkan korporasi sebagai pengendali utama perdagangan karbon baik di wilayah hutan adat maupun hutan hak,” ujar Amalya.

Menurutnya, mekanisme offset emisi bukan solusi utama untuk menyelesaikan krisis iklim. Ia menilai skema tersebut justru berisiko menjadi alat legitimasi bagi perusahaan penghasil emisi besar untuk tetap beroperasi sambil mengklaim diri lebih ramah lingkungan.

Amalya menegaskan pemerintah seharusnya fokus pada solusi nyata untuk menekan emisi, seperti menghentikan deforestasi untuk megaproyek pangan dan energi, melindungi hutan alam tersisa, serta mempercepat pensiun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.

Trend Asia juga menyoroti program co-firing biomassa yang dinilai berpotensi memperburuk krisis iklim. Dalam laporan mereka pada 2022, program co-firing biomassa di 52 PLTU disebut membutuhkan sekitar 2,33 juta hektare lahan untuk pembangunan Hutan Tanaman Energi (HTE).

Selain memperbesar risiko deforestasi, rantai pasok biomassa tersebut diperkirakan dapat menambah emisi gas rumah kaca Indonesia hingga 26,48 juta ton setara karbon dioksida per tahun.

Bagi organisasi masyarakat sipil, perdagangan karbon seharusnya tidak menjadi jalan pintas yang mengalihkan perhatian dari akar persoalan krisis iklim. Mereka menilai perlindungan hutan alam dan penghentian energi fosil tetap menjadi langkah paling penting dalam upaya menekan emisi Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pasar Karbon Global Jadi Ladang Cuan Baru dari Bisnis Energi Surya

Pasar Karbon Global Jadi Ladang Cuan Baru dari Bisnis Energi Surya

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 08:10 WIB

Mampu Serap Banyak Karbon, Lahan Gambut Jadi Fokus Penelitian Global Untuk Perkuat Kebijakan

Mampu Serap Banyak Karbon, Lahan Gambut Jadi Fokus Penelitian Global Untuk Perkuat Kebijakan

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 13:45 WIB

Benarkah Internet Kita Menyumbang Jejak Karbon Tertinggi di Luar Angkasa?

Benarkah Internet Kita Menyumbang Jejak Karbon Tertinggi di Luar Angkasa?

Your Say | Selasa, 05 Mei 2026 | 09:23 WIB

Terkini

"Jangan Melawan, Video Saja", Pesan Tegas Prabowo ke Rakyat Hadapi Aparat Tak Beres

"Jangan Melawan, Video Saja", Pesan Tegas Prabowo ke Rakyat Hadapi Aparat Tak Beres

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 21:10 WIB

Warga Daerah Cuma Dapat Makan, KPK Sebut Duit Program MBG Balik Lagi ke Kota Besar

Warga Daerah Cuma Dapat Makan, KPK Sebut Duit Program MBG Balik Lagi ke Kota Besar

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 20:40 WIB

Terbukti Palsu, 14 Jam Tangan Mewah Jimmy Sutopo Ternyata Cuma Barang KW

Terbukti Palsu, 14 Jam Tangan Mewah Jimmy Sutopo Ternyata Cuma Barang KW

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 20:12 WIB

Demo Harkitnas di DPR, Ribuan Guru Madrasah dan Ojol Tuntut Kesejahteraan dan Perlindungan

Demo Harkitnas di DPR, Ribuan Guru Madrasah dan Ojol Tuntut Kesejahteraan dan Perlindungan

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 20:06 WIB

Buntut Sengketa SMAN 1 Bandung, Gugatan PLK di PTUN Dinilai Ancam Kepemilikan Aset Negara

Buntut Sengketa SMAN 1 Bandung, Gugatan PLK di PTUN Dinilai Ancam Kepemilikan Aset Negara

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 20:02 WIB

Wadanyon TPNPB-OPM Diciduk di Bandara Yahukimo, Satgas Damai Cartenz Sita Amunisi

Wadanyon TPNPB-OPM Diciduk di Bandara Yahukimo, Satgas Damai Cartenz Sita Amunisi

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 19:49 WIB

Penampakan Lukisan Emas dan Mercy Koruptor Jimmy Sutopo yang Dilelang Rp5,5 Miliar, Mewah Banget!

Penampakan Lukisan Emas dan Mercy Koruptor Jimmy Sutopo yang Dilelang Rp5,5 Miliar, Mewah Banget!

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 19:40 WIB

PDIP Balas Pujian Prabowo: Kami Memang Seharusnya di Luar Pemerintah

PDIP Balas Pujian Prabowo: Kami Memang Seharusnya di Luar Pemerintah

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 19:29 WIB

Bareskrim Bongkar Sindikat Kosmetik Merkuri di Cirebon, Pemilik Akun Lou Glow Ditangkap

Bareskrim Bongkar Sindikat Kosmetik Merkuri di Cirebon, Pemilik Akun Lou Glow Ditangkap

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 19:18 WIB

Andrie Yunus Nyaris Buta, Bakal Dikirim ke Profesor India yang Tangani Novel Baswedan

Andrie Yunus Nyaris Buta, Bakal Dikirim ke Profesor India yang Tangani Novel Baswedan

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 19:08 WIB