- Imamudin Yuliadi menyatakan pelemahan rupiah saat ini memiliki konteks ekonomi berbeda dibandingkan masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.
- Besarnya utang luar negeri dan tekanan geopolitik global menyebabkan pemerintah menghadapi dilema sulit dalam menjaga stabilitas pembangunan nasional.
- Pelemahan rupiah berdampak pada meningkatnya beban utang luar negeri serta melonjaknya biaya produksi akibat harga barang impor yang mahal.
Selain itu, pelemahan rupiah juga membuat harga barang impor semakin mahal. Padahal, menurut dia, perekonomian Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
"Begitu rupiah melemah, maka barang-barang impor jadi semakin mahal juga. Karena semakin mahal otomatis ya mendongkrak biaya produksi. Ini yang kemudian langsung dirasakan oleh masyarakat," pungkasnya.