- Abdel Mahdi al-Wuheidi, warga berusia 85 tahun, mengalami tragedi pengusiran paksa Nakba tahun 1948 dan perang Gaza saat ini.
- Konflik yang pecah sejak Oktober 2023 menghancurkan rumah serta infrastruktur di kamp pengungsi Jabalia dan memaksa warga terus mengungsi.
- Meskipun hidup di tengah reruntuhan akibat perang berkepanjangan, Abdel Mahdi bersumpah tetap bertahan dan tidak akan meninggalkan tanah kelahirannya.
Suara.com - Di tengah puing-puing kamp pengungsi Jabalia yang porak-poranda, Abdel Mahdi al-Wuheidi yang kini berusia 85 tahun kembali membuka luka lama pengusiran paksa Nakba 1948 yang kini kembali ia rasakan di penghujung hidupnya.
Menyitat laporan jurnalis Al Jazeera, Maram Humaid, dikutip pada Senin (18/5/2026), pria kelahiran Bir al-Saba itu menegaskan bahwa penderitaan yang dialami warga Gaza saat ini jauh melampaui segala tragedi yang pernah ia saksikan sepanjang hidupnya.
Meski harus hidup di tengah reruntuhan akibat perang dan gagalnya berbagai upaya gencatan senjata, Abdel Mahdi bersumpah tidak akan pernah meninggalkan tanah kelahirannya, bahkan jika ditawari istana mewah di New York sekalipun.
Tragedi Nakba di Awal dan Akhir Kehidupan
Lahir pada 1940, Abdel Mahdi masih anak-anak ketika tragedi Nakba 1948 memaksa sekitar 750 ribu warga Palestina terusir dari tanah mereka.
Ia masih mengingat kehidupan damai bersama keluarganya sebelum semuanya berubah akibat konflik dan pengusiran.
Ingatan itu membawanya kembali ke masa ketika kabar kedatangan milisi Haganah mulai menyebar di Bir al-Saba.
“Kita semua pergi … Kita berjalan berhari-hari. Kita beristirahat, lalu melanjutkan berjalan,” kenangnya.
“Kita tidak pernah membayangkan itu akan menjadi pengasingan permanen,” tambahnya.
Keluarganya kemudian menetap di lingkungan Zeitoun di Kota Gaza sebelum akhirnya pindah ke kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara.
“Kita tinggal di tenda-tenda. Hujan dan angin membanjiri mereka, dinginnya tak tertahankan, lalu datang panas yang menyengat,” katanya.
“Ada kelaparan, kelelahan, antrean panjang untuk makanan dan air, toilet bersama, kutu, sanitasi buruk … kenangan yang menyakitkan,” lanjut Abdel Mahdi.
Kehidupan yang Kembali Hancur
Puluhan tahun pengasingan, perang, dan upaya membangun kembali kehidupan terus ia jalani dengan penuh kepahitan.
Abdel Mahdi sempat bekerja di sektor konstruksi di wilayah Israel ketika pekerja Palestina masih diberikan izin kerja.
Bersama saudara-saudaranya, ia berhasil membangun rumah dan membeli tanah sebelum perang terbaru kembali menghancurkan semuanya.
“Sebuah Nakba di awal hidup saya … dan Nakba lainnya di akhir hidup saya. Apa yang bisa kita katakan?” gumamnya.
Ia menceritakan bagaimana hidupnya kembali jungkir balik sejak perang terbaru di Gaza pecah pada Oktober 2023.
Dalam usia senja, ia harus mengungsi berkali-kali bersama istrinya yang juga telah lanjut usia.
Abdel Mahdi sempat berlindung di Gaza barat hingga Deir el-Balah di Gaza tengah demi menghindari serangan.
Derita di Tengah Reruntuhan Jabalia
Ia mengenang momen ketika tank dan tentara Israel menyerbu sekolah PBB yang menjadi tempat pengungsian warga sipil.
“Mereka memaksa kami keluar dari sekolah,” kenangnya.
“Istri saya yang sudah tua dan saya saling bersandar untuk berjalan. Beberapa orang tidak bisa keluar dan terbunuh di sana,” tambahnya.
“Kita berjalan jauh hingga tiba di Gaza barat bersama sisa keluarga yang tercerai-berai,” katanya.
“Kita pingsan karena kelelahan, tetapi pengeboman dan ketakutan memaksa kita terus bergerak,” lanjut Abdel Mahdi.
Harapan sempat muncul ketika warga diizinkan kembali ke Gaza utara setelah pengumuman gencatan senjata pada Oktober 2025.
Namun, pemandangan Jabalia yang hancur total justru memperdalam luka batinnya.
“Rasa sakit yang mendalam menguasai saya ketika melihat Jabalia berubah menjadi puing-puing tak berujung dan jalan-jalan yang hancur,” katanya.
“Sekarang saya berjalan dengan susah payah menggunakan tongkat saya,” tambahnya.
Cinta Tanah Air yang Tak Pernah Hilang
Abdel Mahdi menegaskan penderitaan rakyat Palestina hari ini tidak dapat dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.
“Dulu, Israel mundur dari tanah kami,” katanya.
“Hari ini, lebih dari separuh tanah Gaza telah dirampas … setiap hari kita mendengar suara tembakan dan kendaraan militer Israel.”
“Bahkan akhir perang yang mereka bicarakan adalah kebohongan,” lanjutnya.
“Kita telah hidup dalam bencana yang berkelanjutan selama tiga tahun.”
Ia juga mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap respons dunia internasional terhadap situasi Gaza.
“Sejarah berulang,” katanya.
“Kita ditinggalkan di setiap tahap dan dibiarkan sendirian menghadapi mesin militer yang kejam.”
Namun, di tengah kehilangan dan pengungsian yang terus berulang, Abdel Mahdi tetap memegang teguh cintanya terhadap tanah air.
“Bahkan jika mereka menawarkan saya istana di New York sebagai ganti rumah yang hancur ini, saya akan menolaknya,” tegasnya.
“Seseorang tidak boleh meninggalkan tanah airnya. Di sini saya akan mati, dan di sini saya akan dimakamkan,” pungkasnya.