- Polri memastikan pemadaman listrik massal di Sumatera pada 22 Mei lalu disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem, bukan sabotase.
- Puslabfor dan PLN menemukan kabel transmisi putus akibat beban cuaca, bukan karena tindakan pemotongan yang disengaja manusia.
- Gangguan transmisi tersebut memicu ketidakseimbangan frekuensi yang mengakibatkan 176 gardu induk di berbagai wilayah Sumatera mengalami pemadaman listrik.
PLN sempat berdalih jika listrik Sumatera padam akibat cuaca buruk.
Menurut penjelasan PLN, cuaca ekstrem menyebabkan kerusakan pada jaringan transmisi tersebut sehingga jalur itu terpaksa keluar dari sistem kelistrikan Sumatera. Akibatnya, sistem kelistrikan Sumatera Bagian Utara (SBU) dan Sumatera Bagian Tengah (SBT) terpisah.
Pemisahan sistem ini memicu ketidakseimbangan beban yang sangat besar. Frekuensi listrik turun drastis karena beban pembangkit yang berat, kemudian memicu efek domino.
Beberapa pembangkit listrik otomatis trip (padam) untuk melindungi diri dari kerusakan lebih lanjut akibat over supply atau lonjakan tegangan.