- Presiden Bolivia Rodrigo Paz memangkas gaji kabinet sebesar 50 persen pada 25 Mei 2026 guna meredam protes nasional.
- Kebijakan ekonomi pro-Amerika Serikat memicu blokade jalan oleh masyarakat adat dan serikat pekerja di seluruh Bolivia.
- Pemerintah menuduh mantan presiden Evo Morales memanfaatkan krisis sosial untuk memperkeruh situasi politik di tengah status buronnya.
Pemerintah menilai Morales sengaja menggunakan pengaruhnya di kalangan serikat pekerja untuk menciptakan instabilitas nasional.
Morales sebelumnya dilarang mengikuti pemilu 2025 yang dimenangkan oleh Rodrigo Paz.
Menanggapi tudingan tersebut, Morales justru menyerang balik pemerintah lewat media sosial.
“Rodrigo Paz sedang mengatur kejatuhannya sendiri di jalan-jalan ini,” tulis Morales di platform X.
Ia bahkan menyebut Paz kini hanya memiliki dua pilihan, yakni memberlakukan militerisasi penuh atau menggelar pemilu baru.
Evo Morales Masih Buron
Situasi politik Bolivia semakin rumit karena Evo Morales saat ini berstatus buronan.
Surat perintah penangkapan terhadap mantan presiden itu diterbitkan pada 11 Mei setelah ia mangkir dari persidangan kasus dugaan pemerkosaan dan perdagangan manusia.
Morales dituduh memiliki anak dari seorang gadis berusia 15 tahun saat masih menjabat sebagai presiden Bolivia.
Kasus tersebut semakin berat karena Morales juga diduga memberikan keuntungan politik dan ekonomi kepada keluarga korban, demikian Antara.