- Tokoh perempuan adat Papua Selatan, Mama Sinta, melaporkan Ketua LBH Merauke ke Polda Metro Jaya.
- Laporan tersebut terkait dugaan pelanggaran data pribadi dalam film dokumenter Pesta Babi yang diputar tanpa izinnya.
- Mama Sinta kini menyatakan dukungan terhadap proyek food estate demi meningkatkan kondisi ekonomi dan kesejahteraan keluarga.
Suara.com - Nama Mama Sinta kembali menjadi sorotan publik setelah melaporkan Ketua LBH Merauke terkait film dokumenter Pesta Babi garapan Dandhy Dwi Laksono.
Laporan tersebut menarik perhatian karena melibatkan tokoh perempuan adat yang sebelumnya dikenal aktif menyuarakan isu lingkungan dan masyarakat adat di Papua Selatan.
Selain persoalan film dokumenter, perubahan sikap Mama Sinta terhadap proyek lumbung pangan atau food estate di Papua Selatan juga menjadi bahan perbincangan.
Lantas, siapa sebenarnya Mama Sinta dan mengapa namanya kembali ramai diperbincangkan?

Siapa Mama Sinta?
Mama Sinta merupakan nama yang dikenal luas di kalangan masyarakat adat Merauke, Papua Selatan.
Nama aslinya adalah Yasinta Moiwend atau Yasinta Mowend, seorang tokoh perempuan adat yang selama beberapa tahun terakhir aktif menyuarakan berbagai isu yang berkaitan dengan hak-hak masyarakat adat dan lingkungan hidup.
Sosok Mama Sinta kerap muncul dalam berbagai diskusi dan kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan di wilayah Papua Selatan.
Ia dikenal sebagai perempuan adat yang vokal menyampaikan aspirasi masyarakat setempat, khususnya terkait pemanfaatan lahan dan dampak pembangunan terhadap kehidupan warga adat.
Karena keterlibatannya dalam berbagai aktivitas advokasi, nama Mama Sinta mulai dikenal lebih luas di tingkat nasional.
Kehadirannya dalam sejumlah forum dan kegiatan yang membahas isu Papua membuat pandangannya sering menjadi perhatian publik.
Namun dalam perkembangannya, Mama Sinta mengaku mengalami berbagai kekecewaan yang membuatnya mengambil sikap berbeda dari sebelumnya.
Salah satunya terkait keterlibatannya dalam film dokumenter yang membahas persoalan tanah Papua.
Polisikan Ketua LBH Merauke Terkait Film Pesta Babi
Mama Sinta melaporkan Ketua LBH Merauke berinisial JTW ke Polda Metro Jaya terkait dugaan pelanggaran perlindungan data pribadi yang berkaitan dengan film dokumenter Pesta Babi.
Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya pada 29 Mei 2026. Menurut kuasa hukumnya, Hamonang Daulay, laporan tersebut ditujukan kepada individu, yakni Ketua LBH Merauke.
“Ini yang kita laporkan adalah untuk perorangan. Ketua LBH Merauke, Jhon. Ini inisialnya adalah JTW,” kata Hamonang di Polda Metro Jaya.
Mama Sinta mengaku merasa kecewa karena wajah dan keterangannya muncul dalam film yang kemudian diputar di berbagai daerah tanpa persetujuannya.
Ia menyatakan tidak pernah memberikan izin atas penggunaan dirinya dalam film dokumenter tersebut.
“Mereka putar film pesta babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali. Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan,” kata Mama Sinta.
Sebelumnya, Sutradara film Pesta Babi, Dandhy Laksono belum lama ini angkat bicara mengenai protes Mama Sinta yang mengaku tidak tahu dirinya ditampilkan dalam film dokumenter Pesta Babi.
Melalui akun Instagram pribadi, Dandhy meminta agar masyarakat tidak buru-buru menghakimi Mama Sinta atas pernyataannya tersebut.
"Kawan-kawan semua, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta Moiwen di pedalaman Papua sana," kata Dandhy.
Menurut Dandhy, setiap orang berhak untuk menentukan pilihan sikapnya sendiri. Oleh karena itu, ia meminta agar publik menahan diri untuk tidak berkomentar maupun memberikan penilaian terhadap sikap Mama Sinta.
"Apapun yang muncul di media sosial, sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau. Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan," katanya.
Dulu Menolak Food Estate, Kini Berubah Pikiran
Selain kasus film dokumenter, Mama Sinta juga menjadi perhatian karena perubahan sikapnya terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan atau food estate di Papua Selatan.
Sebelumnya, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang menyuarakan penolakan terhadap proyek tersebut bersama sejumlah kelompok masyarakat adat.
Namun kini, Mama Sinta menyatakan mendukung keberlanjutan program food estate yang dijalankan pemerintah.
Menurut pengakuannya, perubahan sikap tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga dan harapannya untuk memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik.
Mama Sinta mengungkapkan bahwa dirinya merasa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu ketika terlibat dalam gerakan penolakan proyek.
Ia juga mengaku tidak mendapatkan manfaat yang diharapkan setelah mengikuti berbagai kegiatan terkait advokasi tersebut.
“Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi,” kata Mama Sinta.
Ia berharap keberadaan perusahaan dan proyek pembangunan di wilayah Papua Selatan dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat adat, termasuk dirinya dan keluarganya.
Menurut Mama Sinta, kebutuhan ekonomi menjadi faktor penting yang membuatnya mempertimbangkan kembali pandangannya terhadap proyek pembangunan tersebut.
Ia berharap masyarakat adat dapat merasakan manfaat langsung dari investasi dan program pemerintah yang masuk ke wilayah mereka.
Mama Sinta juga menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah atas berbagai pernyataan yang pernah ia sampaikan sebelumnya terkait proyek food estate.
Itulah penjelasan mengenai siapa Mama Sinta dan kontroversinya.