Suara.com - Hampir seluruh rumah tangga di Indonesia kini telah teraliri listrik. Namun, akses listrik belum otomatis berarti masyarakat menikmati layanan energi yang andal dan berkelanjutan. Di banyak wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), tantangan justru muncul setelah pembangkit dibangun: bagaimana memastikan listrik tetap tersedia, terawat, dan mampu mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Persoalan ini menjadi perhatian Perkumpulan Pemasang PLTS Atap Seluruh Indonesia (PERPLATSI). Organisasi tersebut menilai keberhasilan program elektrifikasi, khususnya melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), tidak cukup diukur dari jumlah sistem yang terpasang, tetapi dari manfaat yang dihasilkan dalam jangka panjang.
"Tantangan hari ini bukan sekadar bagaimana membawa kabel ke desa, melainkan bagaimana memastikan energi tersedia secara andal, terjangkau, dan benar-benar bermanfaat bagi kehidupan masyarakat," kata Bendahara Umum PERPLATSI, Nimas Puspito Pratiwi, dalam Indonesia Solar Summit 2026, Kamis (9/7/2026).
Menurut Nimas, salah satu penyebab PLTS tidak berumur panjang adalah pendekatan pembangunan yang masih berorientasi pada proyek. Setelah instalasi selesai dan diserahterimakan, banyak sistem tidak lagi mendapatkan pendampingan, pemeliharaan, atau operator yang memahami cara mengelolanya.
Selain itu, desain PLTS sering kali mengikuti anggaran yang tersedia, bukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Akibatnya, kapasitas pembangkit bisa terlalu kecil atau terlalu besar sehingga tidak optimal digunakan.
Padahal, menurut Nimas, setiap wilayah membutuhkan pendekatan elektrifikasi yang berbeda. Daerah yang mudah dijangkau jaringan PLN lebih sesuai menggunakan perluasan jaringan (grid extension), sementara wilayah terpencil dapat memanfaatkan solar mini-grid, sistem hibrida, atau PLTS terdesentralisasi yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
PERPLATSI juga menilai listrik seharusnya menjadi penggerak aktivitas produktif, bukan hanya untuk kebutuhan rumah tangga. Di sektor pertanian, misalnya, PLTS dapat mengoperasikan pompa irigasi, sedangkan di sektor perikanan listrik dapat digunakan untuk penyimpanan hasil tangkapan. Bagi pelaku UMKM, listrik memungkinkan penggunaan mesin produksi dan memperpanjang jam operasional.
"Keberhasilan elektrifikasi tidak dilihat dari jumlah sistem yang terpasang, tetapi dari seberapa besar energi itu dimanfaatkan untuk kegiatan produktif masyarakat," ujar Nimas.
Untuk itu, PERPLATSI mengusulkan lima aspek yang perlu menjadi perhatian pemerintah, yakni perancangan berbasis kebutuhan (need-based design), jaminan kualitas instalasi, penguatan kapasitas operator lokal, sistem operasi dan pemeliharaan yang berkelanjutan, serta pemanfaatan energi untuk kegiatan produktif.
Menurut organisasi tersebut, elektrifikasi perlu dipandang sebagai layanan jangka panjang, bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Dengan desain yang sesuai kebutuhan, dukungan teknis, serta keterlibatan masyarakat lokal, PLTS dinilai dapat berkontribusi tidak hanya terhadap pemerataan akses energi, tetapi juga peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah.
Penulis: Chairunisa