Amerika Serikat Incar Pusat Nuklir Iran di Gunung Pickaxe, Mau Dihancurkan

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:27 WIB
Amerika Serikat Incar Pusat Nuklir Iran di Gunung Pickaxe, Mau Dihancurkan
Pusat nuklir Iran Gunung Pickaxe (SBS)
baca 10 detik
  • Donald Trump mengancam akan menghancurkan situs nuklir bawah tanah Gunung Pickaxe di Iran.

  • Fasilitas tersebut berada 600 meter di bawah granit dan kebal dari bom bunker-buster.

  • Target baru ini memicu pertanyaan karena sebelumnya Trump mengeklaim semua situs nuklir hancur.

Suara.com - Ancaman terbaru Amerika Serikat untuk menghancurkan situs nuklir bawah tanah Gunung Pickaxe memicu tanda tanya besar terkait klaim keberhasilan militer mereka sebelumnya. Amerika Serikat kini membidik fasilitas tersembunyi di Natanz yang dilaporkan selamat dari gelombang serangan udara tahun lalu.

Presiden AS Donald Trump secara terbuka memperingatkan Teheran untuk bersiap menghadapi gempuran terhadap kawasan perbukitan granit tersebut. Langkah agresif ini dinilai kontradiktif dengan pernyataan Gedung Putih terdahulu yang menyebut program nuklir Iran telah sepenuhnya lumpuh.

Ketegangan baru ini mencuat hanya berselang seminggu setelah Trump sesumbar bahwa persediaan uranium Iran terkubur sangat dalam. Ia menegaskan tidak ada satu pun kekuatan di dunia yang mampu menjangkaunya kecuali militer Amerika Serikat.

Donald Trump [The White House]
Donald Trump [The White House]

Sikap keras ini berbanding terbalik dengan klaim sepihak sang presiden pada pertengahan tahun lalu. Saat itu, ia menyatakan seluruh infrastruktur pengayaan uranium Teheran telah rata dengan tanah.

Publik kini mempertanyakan alasan Washington kembali menetapkan target baru jika seluruh fasilitas musuh diklaim sudah musnah. Kontradiksi ini mempertegas adanya miskalkulasi intelijen atau strategi propaganda yang tidak sinkron.

Gunung Pickaxe merupakan benteng pertahanan yang sangat kokoh dan terletak dekat dengan kompleks nuklir Natanz yang sebelumnya telah rusak. Di dalam perut bumi wilayah tersebut, terdapat 2 jaringan terowongan raksasa yang dicurigai menjadi pusat pengayaan uranium.

Para ahli geologi dan militer memperkirakan fasilitas rahasia ini berada sekitar 600 meter di bawah lapisan batu granit padat. Kedalaman ekstrem tersebut membuat lokasi ini mustahil ditembus oleh bom penghancur bunker (bunker-buster) tercanggih milik Pentagon.

Ketika jet tempur Amerika Serikat membombardir Fordow, Natanz, dan Isfahan tahun lalu, Gunung Pickaxe sama sekali tidak tersentuh. Hal ini membuktikan bahwa wilayah ini merupakan aset paling terlindungi yang dimiliki oleh Teheran.

Kendati demikian, Trump tetap bersikeras untuk melancarkan serangan udara dalam waktu dekat. Komitmen perang tersebut ia sampaikan secara langsung di depan awak media baru-baru ini.

baca juga

The Pentagon menyatakan terus memantau pergerakan di situs tersebut meski belum melihat adanya aktivitas mencurigakan. Trump mengeklaim tekanan bertubi-tubi dari Washington membuat Iran frustrasi dan enggan membahas program mereka.

"Kita akan menghancurkan Gunung Pickaxe. Katakan pada orang-orang Iran untuk bersiap-siap," ujar Trump pada hari Senin.

"Kami mengawasi (Gunung Pickaxe) dengan ketat. Kami tidak melihat adanya aktivitas di sana. Situasi nuklir mereka tidak berjalan baik. Setiap kali kami mendengarnya, kami meledakkannya. Jadi mereka tidak suka membicarakannya."

Pernyataan ofensif ini memicu perdebatan mengenai akurasi laporan intelijen dan efektivitas serangan udara Amerika Serikat pada periode sebelumnya. Trump sebelumnya sempat membela diri dengan mengeklaim citra satelit telah membuktikan kehancuran total di kubu lawan.

Ia menekankan bahwa kehancuran massal telah terjadi di semua titik strategis pertahanan Iran. Namun, munculnya nama Gunung Pickaxe sebagai target baru membantah narasi kemenangan mutlak tersebut.

"Kerusakan monumental terjadi di semua situs nuklir di Iran, seperti yang ditunjukkan oleh gambar satelit," kata Trump pada 25 Juni 2025. "Pemusnahan adalah istilah yang akurat!"

Sebagai latar belakang, konflik bersenjata antara kedua negara sempat memuncak saat militer Amerika Serikat menggempur 3 wilayah utama Iran. Serangan udara masif tersebut difokuskan untuk melumpuhkan instalasi nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Meskipun operasi setahun lalu itu diklaim sukses besar, eksistensi Gunung Pickaxe membuktikan program nuklir Teheran belum sepenuhnya mati. Kini, fokus geopolitik global tertuju pada respons Iran menghadapi ancaman penghancuran total berikutnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jet Tempur Amerika Serikat Hancurkan Pos Rudal Iran

Jet Tempur Amerika Serikat Hancurkan Pos Rudal Iran

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:01 WIB

Habis Serang AS, IRGC Iran Hasut Warga Yordania: Bebaskan Tanah Islam dari Penjajah Amerika

Habis Serang AS, IRGC Iran Hasut Warga Yordania: Bebaskan Tanah Islam dari Penjajah Amerika

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:14 WIB

Amerika Serikat Mau Hentikan Bantuan Rp 59,63 Triliun ke Israel

Amerika Serikat Mau Hentikan Bantuan Rp 59,63 Triliun ke Israel

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:59 WIB

Terkini

Sistem Pendidikan 'Tuli dan Buta', Sosiolog Sebut Aksi Bom Siswa Padang Sebagia Perlawanan Ekstrem

Sistem Pendidikan 'Tuli dan Buta', Sosiolog Sebut Aksi Bom Siswa Padang Sebagia Perlawanan Ekstrem

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:16 WIB

Prabowo Sempat Panggil Jaksa Agung Bahas Kasus Febrie Adriansyah, Begini Penjelasan Istana

Prabowo Sempat Panggil Jaksa Agung Bahas Kasus Febrie Adriansyah, Begini Penjelasan Istana

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:05 WIB

Jet Tempur Amerika Serikat Hancurkan Pos Rudal Iran

Jet Tempur Amerika Serikat Hancurkan Pos Rudal Iran

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:01 WIB

Kuntadi Selangkah Lagi Jadi Jampidsus, Keppres Ditargetkan Terbit Pekan Depan

Kuntadi Selangkah Lagi Jadi Jampidsus, Keppres Ditargetkan Terbit Pekan Depan

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:57 WIB

Jangan Asal Atur, Pengusaha Dapur MBG Minta BGN Libatkan Mitra Soal Kebijakan

Jangan Asal Atur, Pengusaha Dapur MBG Minta BGN Libatkan Mitra Soal Kebijakan

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:57 WIB

Misteri Pengganti Febrie Adriansyah Terjawab, Mensesneg Sebut Nama Kuntadi

Misteri Pengganti Febrie Adriansyah Terjawab, Mensesneg Sebut Nama Kuntadi

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:50 WIB

Jejak Elektronik Disita, KPK Bidik Peran Bobby Rizaldi dalam Skandal WTP Muara Enim

Jejak Elektronik Disita, KPK Bidik Peran Bobby Rizaldi dalam Skandal WTP Muara Enim

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:50 WIB

Detik-detik Bupati Gowa Pergi Saat Diperiksa Terkait Dugaan Korupsi dan Selingkuh

Detik-detik Bupati Gowa Pergi Saat Diperiksa Terkait Dugaan Korupsi dan Selingkuh

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:50 WIB

Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 4.734 Jiwa, 6.462 Orang Selamat

Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 4.734 Jiwa, 6.462 Orang Selamat

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:37 WIB

Indonesia Dinilai Terjebak 'Carbon Lock-in', Mengapa Target Energi Bersih Berisiko Sulit Tercapai?

Indonesia Dinilai Terjebak 'Carbon Lock-in', Mengapa Target Energi Bersih Berisiko Sulit Tercapai?

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:14 WIB

×