- Muhammad Azzuhri dan warga RT 02/RW 10 Pondok Labu menciptakan alat pendeteksi banjir swadaya untuk memberikan peringatan dini warga.
- Sistem peringatan dini ini menggantikan metode tradisional yang tidak efektif agar warga dapat segera menyelamatkan diri saat banjir.
- Keberhasilan alat tersebut kini didukung program CSR untuk memperluas cakupan deteksi banjir di wilayah rawan lainnya di Jakarta.
Suara.com - DUA menit. Selama itulah sirene berbunyi nyaring di langit RT 01 dan RT 02 RW 10, Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan.
Bagi warga di sana, bunyi itu bukan lagi sesuatu yang mengagetkan. Justru sebaliknya, ia dinanti, bahkan disyukuri.
Sebab di balik dengungnya, tersimpan waktu berharga. Kesempatan untuk menyelamatkan barang, mengungsikan anak dan lansia, sebelum air Kali Grogol naik dan merangsek ke rumah-rumah.
Selama bertahun-tahun, warga di bantaran Kali Grogol dan Kali Krukut hidup berdampingan dengan ancaman banjir yang datang tanpa aba-aba.
Cara mereka mengetahui bahaya pun masih sangat sederhana. Kentongan dipukul bertalu-talu, pengeras suara masjid mengumandangkan peringatan, atau suara logam yang beradu dengan tiang listrik.
Metode itu bertahan lama, tapi punya satu kelemahan besar. Tidak selalu bisa diandalkan, terutama saat hujan turun deras di tengah malam dan warga tengah terlelap.
Banjir besar tahun 2020, yang airnya sempat mencapai hampir dua meter dan menghanyutkan kendaraan warga, menjadi pengingat pahit betapa mahalnya harga keterlambatan informasi.

Dari Pelatihan Kebencanaan ke Sebuah Gagasan
Titik balik itu datang dari sosok muda bernama Muhammad Azzuhri Ramdhani, 23 tahun, lulusan sarjana ekonomi manajemen Universitas Nasional yang juga aktif sebagai anggota Karang Taruna RT 02 RW 10.
Gagasan itu muncul setelah ia mengikuti pelatihan kebencanaan yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
"Setelah diklat, kami sudah merancang untuk alat ini terpasang di RT 02 sebagai contoh utama di wilayah Kelurahan Pondok Labu," katanya, Senin (20/7/2026).
Gagasan itu kemudian berwujud menjadi Smart Flood Warning System, alat pendeteksi banjir yang diklaim sebagai yang pertama hadir di Jakarta dengan inisiatif murni dari warga.
Bukan proyek besar dari instansi mana pun pada awalnya, melainkan hasil urunan swadaya masyarakat RT 02 pada akhir 2024.
"Alat seadanya, kami pakai kas RT dan juga swadaya masyarakat dan dibantu sama teman-teman Karang Taruna," tutur Azzuhri.
Yang menarik, alat ini pun tidak lahir dari komponen serba baru dan mahal.
"Ada warga yang punya sirine bekas, ada yang punya panel bekas. Kami pinjam dulu untuk uji coba. Setelah terbukti berhasil, baru kami mengganti komponennya dengan yang lebih baru," jelasnya.
Sebuah proses coba-coba yang sarat semangat gotong royong, mengubah barang bekas menjadi penjaga keselamatan bersama.
Menunggu Sirene, Bukan Lagi Mengecek ke Luar Rumah
Perubahan yang dirasakan warga setelah alat ini terpasang cukup signifikan. Sebelum adanya alat ini, informasi ke warga itu hanya berupa kentongan, toa masjid, ataupun suara dari tiang listrik yang dipukul.
“Sekarang hanya menunggu sirine berbunyi saja," tutur Azzuhri.
Ia juga menjelaskan bagaimana intensitas hujan berkaitan langsung dengan ketinggian air yang mengancam permukiman.
Hujan deras selama sekitar 30 menit bisa memicu banjir setinggi 50 sentimeter, sementara hujan yang berlangsung 45 menit hingga satu jam berpotensi mendorong ketinggian air hingga sekitar satu meter.
Skala kebutuhan yang dilayani alat ini pun tidak kecil. Di RT 01 RW 10 saja terdapat 158 kepala keluarga dengan total 540 jiwa, sedangkan RT 02 RW 10 dihuni 120 KK dengan 386 warga. Total hampir seribu nyawa yang kini bergantung pada dengungan sirene sebagai penanda waktu.
Dari Swadaya ke Dukungan CSR
Setelah keberhasilan alat pertama di RT 02, langkah berikutnya datang lewat jalur berbeda.
"Kalau untuk yang di RT 01, kami difasilitasi, dikasih akses sama Kelurahan Pondok Labu untuk mengirim proposal ke CSR FIF Group. Jadi, kami sejauh ini ada 2 alat pendeteksi banjir," lanjut Azzuhri.

Dua wilayah itu dipilih bukan tanpa alasan, karena keduanya merupakan kawasan paling sering terdampak luapan Kali Grogol, sekaligus kampung sang penggagas sendiri.
Namun, dua alat itu jelas belum cukup untuk kawasan seluas ini. Letak permukiman yang diapit oleh Kali Grogol dan Kali Krukut membuat ancaman banjir tersebar luas.
Setidaknya, enam rukun warga dengan sekitar 17 hingga 18 rukun tetangga berada dalam zona rawan. Kelurahan Pondok Labu pun telah mengancang-ancang untuk memperluas pemasangan alat serupa ke titik-titik rawan lainnya, dengan mengandalkan dukungan program CSR dan kolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan.
Peringatan yang Berhak Didapat Setiap Warga
Bagi Azzuhri, seluruh upaya ini berpijak pada satu keyakinan sederhana namun mendasar. "Alat ini dibuat supaya masyarakat mendapatkan informasi lebih awal. Karena banjir datang tanpa permisi, tetapi masyarakat berhak mendapatkan peringatan dini," tuturnya.
Dari alat seadanya yang dirakit dari barang bekas warga, kini lahir sebuah sistem yang mengubah cara satu kampung menghadapi ancaman tahunan mereka. Dari kepanikan mendadak di tengah malam, menjadi kesiapsiagaan yang tenang, cukup dengan menunggu bunyi sirene.
Kisah dari Pondok Labu ini menjadi bukti kecil namun nyata bahwa solusi atas persoalan besar tidak selalu harus menunggu proyek besar dari atas. Kadang, ia cukup dimulai dari niat baik segelintir pemuda, sedikit pengetahuan teknologi, dan kemauan untuk saling menjaga.