- Praktisi industri dan pemeriksa fakta mengingatkan ancaman siber dalam Jatim Media Summit 2026 pada 30 Juli.
- Kelalaian menjaga kebersihan digital dapat menghancurkan reputasi, bisnis, serta aset digital media dan kreator konten.
- Pengguna wajib menerapkan pengamanan seperti autentikasi dua faktor, kata sandi kuat, dan pemisahan akun profesional.
Mulai dari mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), menggunakan kata sandi yang kuat, rutin memperbarui sistem operasi, memasang antivirus dan firewall, menggunakan VPN bagi pekerjaan berisiko tinggi, hingga memisahkan akun pribadi dengan akun profesional.
Menurutnya, pengelolaan aset digital juga harus dilakukan secara profesional, terutama ketika sebuah media atau kanal YouTube sudah memiliki banyak admin.
Kasus hilangnya akses akun karena mantan admin masih menyimpan kata sandi, kata dia, masih sering terjadi di berbagai organisasi media maupun perusahaan kreatif.
Selain itu, seluruh data penting sebaiknya memiliki minimal tiga salinan, yakni di perangkat utama, media penyimpanan eksternal, dan layanan cloud agar tidak hilang ketika terjadi serangan siber.
Artika juga mengingatkan media agar tidak hanya fokus pada proses peliputan, tetapi mulai melibatkan tim teknologi informasi sejak tahap perencanaan liputan, terutama ketika mengangkat isu sensitif.
Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi kemungkinan serangan siber, pelaporan massal terhadap akun media, hingga upaya peretasan website.
Bagi korban serangan digital, ia menyarankan segera mengamankan akun dengan mengganti akses, mencabut izin perangkat asing, mengaktifkan kembali verifikasi berlapis, serta memanfaatkan dukungan organisasi seperti SAFEnet, AJI, LBH Pers maupun Yayasan Pulih apabila mengalami doxing atau tekanan psikologis akibat serangan digital.
"Keamanan digital bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Semakin besar akun dan pengaruh seseorang, semakin besar pula risiko yang harus diantisipasi," tegas Artika. (Dimas Angga Perkasa)