Anak-anak Pemikul Air di Gaza, Tinggalkan Sekolah Hingga Alami Kerusakan Tulang Belakang

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:21 WIB
Anak-anak Pemikul Air di Gaza, Tinggalkan Sekolah Hingga Alami Kerusakan Tulang Belakang
Anak-anak pengungsian di Gaza mengalami gangguan kesehatan tulang serius akibat rutinitas harian mengangkut air bersih. (Al Jazera)
baca 10 detik
  • Beban berat mengangkut air bersih memicu krisis kesehatan tulang seperti skoliosis pada anak Gaza.

  • Kerusakan 90 persen infrastruktur air memperparah kelangkaan pasokan bersih di kamp-kamp pengungsian.

  • Hambatan distribusi bantuan luar negeri memicu dampak psikologis berat pada perkembangan mental anak-anak.

“Dia bukan hanya sedih karena usahanya sia-sia; dia juga sangat sedih karena tidak bisa membawa makanan untuk keluarganya.”

Rasa kecewa mendalam akibat lamanya mengantre di bawah terik matahari kerap berakhir dengan duka saat pasokan logistik habis sebelum giliran tiba. Maysara meluapkan kesedihannya setelah mengantre berjam-jam tanpa membawa hasil apa pun ke tenda.

“Saya sangat sedih dan marah,” kenang Maysara.

“Saya datang lebih awal dan mengantre di dapur umum selama satu jam di bawah terik matahari. Makanan habis sebelum giliran saya tiba. Ini tidak adil.”

Mengapa Perubahan Psikologis Terjadi pada Anak Pengungsi?

Beban berat bertahan hidup telah mengikis keceriaan alami dan merubah pola piker anak-anak di Gaza menjadi terlampau dewasa sebelum waktunya. Perubahan perilaku menjadi lebih tertutup dan keras kepala kini mendominasi keseharian anak-anak korban pengungsian.

“Hal itu sudah mendarah daging dalam kepribadian mereka,” ujar Fidaa.

“Sebagian besar waktu, mereka berpikir dan berbicara mengenai tanggung jawab sehari-hari layaknya orang dewasa. Mereka telah banyak berubah. Mereka menjadi lebih keras kepala, serta tidak terlalu banyak bicara maupun terbuka dalam mengungkapkan emosi.”

Kenangan masa lalu sebelum kehancuran menjadi satu-satunya penghibur saat emosi dan kerinduan akan kehidupan normal meluap. Ibu pengungsi tersebut kerap meneteskan air mata setiap kali mendengarkan anak-anaknya mengingat masa-masa bersekolah.

baca juga

“Saya tidak bisa menahan air mata setiap kali anak-anak bercerita tentang kenangan kami sebelum perang,” tambah Fidaa.

“Mereka teringat sekolah, masakan rumah kami, serta acara jalan-jalan keluarga setiap minggu, dan wajah mereka pun berseri dengan senyuman. Kenangan-kenangan ini telah menjadi cara mereka menemukan sedikit kebahagiaan di tengah kenyataan hidup kami yang keras.”

Seperti Apa Upaya Warga Bertahan di Tengah Keterbatasan?

Para pengungsi terus berupaya menjaga asa anak-anak dengan mempertahankan dokumen kelulusan sekolah dan mendorong kegiatan seni serta belajar mandiri. Yamen bahkan berhasil dipercaya memimpin kelompok tari tradisional dabke di dalam lingkungan kamp pengungsian.

“Kami tidak bisa membawa sebagian besar barang-barang kami saat mengungsi dari rumah di Gaza utara pada awal perang, tetapi saya bersikeras membawa rapor sekolah anak-anak saya sebagai pengingat akan pentingnya pendidikan,” kata Fidaa.

“Hari ini, saya senang bisa mendidik anak-anak saya dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai inisiatif pendidikan serta kegiatan rekreasi kapan pun mereka bisa.”

“Saya juga sangat bangga dengan putra saya, Yamen, yang—terlepas dari segala tantangan dalam hidup kami—telah menjadi pemimpin tim tari dabke di kamp kami,” imbuh Fidaa dengan penuh kebanggaan.

Komite pengungsian mendirikan fasilitas tenda darurat tempat guru-guru relawan mengajar materi dasar dan menggelar acara hiburan pengurang stres. Semangat bertahan hidup warga terus dipelihara melalui kegiatan-kegiatan kolektif tersebut.

“Pesan saya kepada dunia terangkum dalam satu baris puisi karya penyair terkemuka Palestina, Mahmoud Darwish: ‘Kita mencintai kehidupan jika kita bisa menemukan jalan menuju kehidupan itu,’ yang juga menjadi semboyan kamp kami,” ungkap Mohammed Zaqout.

“Kami memimpikan kehidupan yang aman dan bermartabat, di mana anak-anak kami dapat bermain, belajar, dan tumbuh besar layaknya anak-anak lain di seluruh dunia.”

Angan-angan anak-anak di kamp pengungsian sangat bersahaja, yakni memiliki kamar pribadi, mainan, serta air mengalir langsung dari keran rumah. Maysara memimpikan momen dapat kembali mengenakan seragam sekolah yang rapi tanpa perlu membawa jeriken air lagi.

“Andai saja aku punya kamar sendiri dan banyak mainan,” ujar Maysara.

“Andai saja aku bisa bersekolah sungguhan, mengenakan seragam yang indah dan rambut yang tersisir rapi. Andai saja air mengalir ke tempat kami melalui pipa dan kami selalu memiliki keran yang mengalir, jadi kami tidak perlu lagi mengangkut air.”

Krisis air dan pangan skala besar di Jalur Gaza merupakan dampak langsung dari peperangan berkepanjangan sejak Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari 73.400 jiwa. Mayoritas dari 2,3 juta penduduk terpaksa meninggalkan rumah mereka dan hidup di tenda-tenda darurat yang minim sanitasi.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata sempat digulirkan pada Oktober tahun lalu, pemulihan infrastruktur terus terhambat oleh pembatasan akses logistik dari luar. Menurut data UNICEF, sebanyak 82 persen keluarga di Gaza mengalami kerawanan air parah dan 70 persen warga tidak dapat mengakses batas minimum kebutuhan harian sebesar enam liter air.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harga Korek Api Naik 100 Kali Lipat di Jalur Gaza, Jadi Barang Paling Langka, Kenapa Bisa Begitu?

Harga Korek Api Naik 100 Kali Lipat di Jalur Gaza, Jadi Barang Paling Langka, Kenapa Bisa Begitu?

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:27 WIB

Dosa Baru Israel, Wanita Palestina Pengidap Kanker Payudara Bertaruh Nyawa Gara-gara Ini

Dosa Baru Israel, Wanita Palestina Pengidap Kanker Payudara Bertaruh Nyawa Gara-gara Ini

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:06 WIB

Israel Tolak Peta Jalan Damai AS Hingga Picu Kemarahan 8 Negara, Termasuk Indonesia

Israel Tolak Peta Jalan Damai AS Hingga Picu Kemarahan 8 Negara, Termasuk Indonesia

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 09:59 WIB

Terkini

The Walk Hadir di Serpong, Satukan Kuliner dan Beauty dalam Satu Destinasi Lifestyle

The Walk Hadir di Serpong, Satukan Kuliner dan Beauty dalam Satu Destinasi Lifestyle

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 02:04 WIB

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

×