-
Beban berat mengangkut air bersih memicu krisis kesehatan tulang seperti skoliosis pada anak Gaza.
-
Kerusakan 90 persen infrastruktur air memperparah kelangkaan pasokan bersih di kamp-kamp pengungsian.
-
Hambatan distribusi bantuan luar negeri memicu dampak psikologis berat pada perkembangan mental anak-anak.
“Dia bukan hanya sedih karena usahanya sia-sia; dia juga sangat sedih karena tidak bisa membawa makanan untuk keluarganya.”
Rasa kecewa mendalam akibat lamanya mengantre di bawah terik matahari kerap berakhir dengan duka saat pasokan logistik habis sebelum giliran tiba. Maysara meluapkan kesedihannya setelah mengantre berjam-jam tanpa membawa hasil apa pun ke tenda.
“Saya sangat sedih dan marah,” kenang Maysara.
“Saya datang lebih awal dan mengantre di dapur umum selama satu jam di bawah terik matahari. Makanan habis sebelum giliran saya tiba. Ini tidak adil.”
Mengapa Perubahan Psikologis Terjadi pada Anak Pengungsi?
Beban berat bertahan hidup telah mengikis keceriaan alami dan merubah pola piker anak-anak di Gaza menjadi terlampau dewasa sebelum waktunya. Perubahan perilaku menjadi lebih tertutup dan keras kepala kini mendominasi keseharian anak-anak korban pengungsian.
“Hal itu sudah mendarah daging dalam kepribadian mereka,” ujar Fidaa.
“Sebagian besar waktu, mereka berpikir dan berbicara mengenai tanggung jawab sehari-hari layaknya orang dewasa. Mereka telah banyak berubah. Mereka menjadi lebih keras kepala, serta tidak terlalu banyak bicara maupun terbuka dalam mengungkapkan emosi.”
Kenangan masa lalu sebelum kehancuran menjadi satu-satunya penghibur saat emosi dan kerinduan akan kehidupan normal meluap. Ibu pengungsi tersebut kerap meneteskan air mata setiap kali mendengarkan anak-anaknya mengingat masa-masa bersekolah.
“Saya tidak bisa menahan air mata setiap kali anak-anak bercerita tentang kenangan kami sebelum perang,” tambah Fidaa.
“Mereka teringat sekolah, masakan rumah kami, serta acara jalan-jalan keluarga setiap minggu, dan wajah mereka pun berseri dengan senyuman. Kenangan-kenangan ini telah menjadi cara mereka menemukan sedikit kebahagiaan di tengah kenyataan hidup kami yang keras.”
Seperti Apa Upaya Warga Bertahan di Tengah Keterbatasan?
Para pengungsi terus berupaya menjaga asa anak-anak dengan mempertahankan dokumen kelulusan sekolah dan mendorong kegiatan seni serta belajar mandiri. Yamen bahkan berhasil dipercaya memimpin kelompok tari tradisional dabke di dalam lingkungan kamp pengungsian.
“Kami tidak bisa membawa sebagian besar barang-barang kami saat mengungsi dari rumah di Gaza utara pada awal perang, tetapi saya bersikeras membawa rapor sekolah anak-anak saya sebagai pengingat akan pentingnya pendidikan,” kata Fidaa.
“Hari ini, saya senang bisa mendidik anak-anak saya dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai inisiatif pendidikan serta kegiatan rekreasi kapan pun mereka bisa.”
“Saya juga sangat bangga dengan putra saya, Yamen, yang—terlepas dari segala tantangan dalam hidup kami—telah menjadi pemimpin tim tari dabke di kamp kami,” imbuh Fidaa dengan penuh kebanggaan.
Komite pengungsian mendirikan fasilitas tenda darurat tempat guru-guru relawan mengajar materi dasar dan menggelar acara hiburan pengurang stres. Semangat bertahan hidup warga terus dipelihara melalui kegiatan-kegiatan kolektif tersebut.
“Pesan saya kepada dunia terangkum dalam satu baris puisi karya penyair terkemuka Palestina, Mahmoud Darwish: ‘Kita mencintai kehidupan jika kita bisa menemukan jalan menuju kehidupan itu,’ yang juga menjadi semboyan kamp kami,” ungkap Mohammed Zaqout.
“Kami memimpikan kehidupan yang aman dan bermartabat, di mana anak-anak kami dapat bermain, belajar, dan tumbuh besar layaknya anak-anak lain di seluruh dunia.”
Angan-angan anak-anak di kamp pengungsian sangat bersahaja, yakni memiliki kamar pribadi, mainan, serta air mengalir langsung dari keran rumah. Maysara memimpikan momen dapat kembali mengenakan seragam sekolah yang rapi tanpa perlu membawa jeriken air lagi.
“Andai saja aku punya kamar sendiri dan banyak mainan,” ujar Maysara.
“Andai saja aku bisa bersekolah sungguhan, mengenakan seragam yang indah dan rambut yang tersisir rapi. Andai saja air mengalir ke tempat kami melalui pipa dan kami selalu memiliki keran yang mengalir, jadi kami tidak perlu lagi mengangkut air.”
Krisis air dan pangan skala besar di Jalur Gaza merupakan dampak langsung dari peperangan berkepanjangan sejak Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari 73.400 jiwa. Mayoritas dari 2,3 juta penduduk terpaksa meninggalkan rumah mereka dan hidup di tenda-tenda darurat yang minim sanitasi.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata sempat digulirkan pada Oktober tahun lalu, pemulihan infrastruktur terus terhambat oleh pembatasan akses logistik dari luar. Menurut data UNICEF, sebanyak 82 persen keluarga di Gaza mengalami kerawanan air parah dan 70 persen warga tidak dapat mengakses batas minimum kebutuhan harian sebesar enam liter air.