Demokrasi dan Pemilu Rutin Digelar, tapi Kenapa Rakyat Tetap Tak Berdaya?

Bangun Santoso

Senin, 31 Agustus 2026 | 13:35 WIB
Demokrasi dan Pemilu Rutin Digelar, tapi Kenapa Rakyat Tetap Tak Berdaya?
Peraih Nobel Perdamaian asal India, Kailash Satyarthi, dalam diskusi bertajuk A Conversation with Kailash Satyarthi - Democracy, Human Rights, and Social Welfare yang digelar Universitas Harkat Negeri di Jakarta, Minggu (30/8/2026).
baca 10 detik
  • Peraih Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi membedah paradoks demokrasi dalam diskusi di Jakarta pada Minggu (30/8/2026).
  • Satyarthi menyatakan bahwa hak asasi manusia sering gagal melindungi kelompok rentan dan masyarakat miskin secara nyata.
  • Pakar hukum Todung Mulya Lubis menilai Indonesia mengalami kemunduran demokrasi serta masalah kemiskinan yang masih masif.

Terkait konteks Indonesia, Satyarthi menyinggung Pancasila yang memiliki kemiripan filosofis dengan kata Sanskerta panchashila.

Ia secara khusus menyoroti sila keempat mengenai hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Ia mempertanyakan sejauh mana penyusunan undang-undang di Indonesia benar-benar menyerap aspirasi kolektif rakyat secara langsung, bukan sekadar melalui perwakilan di parlemen.

"Saya tidak sedang mengkritik. Saya hanya mengatakan bahwa hal-hal ini ada dalam konstitusi dan patut dibanggakan, dan masih banyak yang harus dikerjakan." kata Satyarthi.

Kondisi demokrasi di Indonesia juga mendapat catatan kritis dari pakar hukum Todung Mulya Lubis.

Sebelum Satyarthi naik ke podium, Todung mengungkapkan keresahannya mengenai apa yang ia sebut sebagai kemunduran demokrasi di tanah air.

"Di Indonesia, kita melihat supremasi sipil perlahan diambil alih oleh militer. Kampus tampak berada di bawah tekanan, dengan pimpinan universitas yang dikriminalisasi. Masyarakat sipil dituduh sebagai agen asing. Media independen tampak menyerah, dan hanya sedikit yang masih berusaha menegakkan kebebasan pers." kata Todung.

Todung mengaku frustrasi melihat kenyataan bahwa setelah 81 tahun merdeka, sebagian besar penduduk Indonesia masih terjebak dalam kemiskinan jika merujuk pada kriteria Bank Dunia.

Ia mempertanyakan hakikat keberadaan pemerintah jika rakyatnya tetap menderita.

baca juga

"Nyatanya kita masih butuh lebih banyak orang yang mau mengabdikan diri untuk mendampingi kaum miskin. Untuk apa pemerintah ada? Pemerintah untuk rakyat, atau rakyat untuk pemerintah?" kata Todung.

Senada dengan hal tersebut, Sudirman Said dalam sambutan pembukanya mengaitkan diskusi ini dengan gelombang unjuk rasa yang baru saja melanda sejumlah kota di Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa prosedur formal demokrasi seperti pemilu dan pengadilan bukanlah tujuan akhir jika rakyat tetap merasa tidak berdaya.

"Sebuah demokrasi bisa saja menjaga prosedurnya sementara rakyat justru merasa semakin tidak berdaya. Pemilu tetap digelar sementara ketimpangan kian dalam. Hukum melindungi hak di atas kertas, sementara hak itu tetap tidak terjangkau oleh mereka yang paling membutuhkannya. Kita tidak hanya butuh pengkritik sistem, tetapi juga pembangun sistem yang lebih baik." kata Sudirman.

Sebagai solusi atas kebuntuan sistemik ini, Satyarthi menawarkan konsep compassion atau welas asih yang menggerakkan.

Ia menegaskan bahwa compassion berbeda dengan simpati atau empati yang cenderung pasif. Compassion adalah kekuatan disruptif yang mampu membongkar sistem eksploitasi.

"Compassion bukan emosi yang lembut. Compassion adalah kekuatan." kata Satyarthi.

Ia menyerukan agar dunia mulai mengglobalkan compassion sebagaimana dunia telah mengglobalkan pasar dan teknologi.

Satyarthi sendiri memiliki rekam jejak panjang dalam aksi nyata; ia pernah mengalami luka fisik serius akibat serangan mafia perbudakan dan kehilangan rekan kerja demi membebaskan anak-anak dari eksploitasi.

Menutup rangkaian diskusi, Sudirman Said memperkenalkan konsep fourth sector movement, di mana universitas diharapkan menjadi jembatan kolaborasi antara sektor bisnis, publik, dan sosial untuk mengembangkan kepemimpinan yang berbasis compassion.

"Kalau kita bisa menumbuhkan compassion di dalam kampus, saya kira kita bisa memainkan peran sebagai jembatan kolaborasi antarsektor. Karena pada kenyataannya bekerja bersama itu sebuah keharusan." pungkas Sudirman.

Kailash Satyarthi sendiri merupakan sosok yang meninggalkan karier sebagai insinyur listrik demi membebaskan anak-anak dari perbudakan.

Gerakan Global March Against Child Labour yang ia inisiasi pada 1998 menjadi tonggak lahirnya Konvensi ILO tentang bentuk-bentuk terburuk pekerja anak yang kini telah diratifikasi oleh seluruh negara di dunia.

Kini, melalui Satyarthi Movement for Global Compassion, ia terus berkeliling dunia untuk menyebarkan gagasan tentang pentingnya memanusiakan manusia di dalam sistem demokrasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

KPU-Bawaslu Mulai Cicil Tahapan Pemilu 2029, Usul Tambahan Anggaran Ratusan Miliar di DPR

KPU-Bawaslu Mulai Cicil Tahapan Pemilu 2029, Usul Tambahan Anggaran Ratusan Miliar di DPR

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:48 WIB

Mayoritas Nahdliyin Gerah NU Diseret ke Politik dan Bisnis Tambang

Mayoritas Nahdliyin Gerah NU Diseret ke Politik dan Bisnis Tambang

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 13:56 WIB

Kenapa Muktamar NU Sepakat Rais Aam dan Ketum PBNU Dilarang Rangkap Jabatan Politik?

Kenapa Muktamar NU Sepakat Rais Aam dan Ketum PBNU Dilarang Rangkap Jabatan Politik?

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:33 WIB

Hendri Satrio Soroti 12 Ribu Peserta Merdeka Run: Jangan Dianggap Dukungan Politik

Hendri Satrio Soroti 12 Ribu Peserta Merdeka Run: Jangan Dianggap Dukungan Politik

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:51 WIB

Hasto PDIP Kaget Isu Percepatan Muncul di Depan Jokowi: Itu Inkonstitusional

Hasto PDIP Kaget Isu Percepatan Muncul di Depan Jokowi: Itu Inkonstitusional

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:20 WIB

Ketua MPR Jawab Isu 'Percepatan' Budi Arie: Demokrasi Bukan Soal Insting, Tapi Aturan

Ketua MPR Jawab Isu 'Percepatan' Budi Arie: Demokrasi Bukan Soal Insting, Tapi Aturan

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:24 WIB

Bukan Cuma RUU Perampasan Aset, Membaca Keresahan di Balik Demo 27 Agustus

Bukan Cuma RUU Perampasan Aset, Membaca Keresahan di Balik Demo 27 Agustus

Your Say | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 20:15 WIB

Terkini

Minifootball Asia Bergulir di Jakarta, 10 Negara Bersaing jadi yang Terbaik

Minifootball Asia Bergulir di Jakarta, 10 Negara Bersaing jadi yang Terbaik

Bola | Senin, 14 September 2026 | 00:29 WIB

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Sumsel | Minggu, 13 September 2026 | 23:10 WIB

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 21:43 WIB

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

News | Minggu, 13 September 2026 | 21:20 WIB

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

Sport | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 21:00 WIB

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 20:41 WIB

eK Cross EV: Mobil Listrik Murah Mitsubishi yang Harganya Mirip Wuling Air EV, Jarak Tempuh?

eK Cross EV: Mobil Listrik Murah Mitsubishi yang Harganya Mirip Wuling Air EV, Jarak Tempuh?

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 20:39 WIB

×