- Klaim penemuan batu Shaligram alami seberat 31 ton di Nepal pasca banjir bandang terbukti menyesatkan.
- Objek viral tersebut sebenarnya adalah patung raksasa hasil pahatan seniman dari batu Sungai Kali Gandaki.
- Patung setinggi 22 kaki di Jomsom itu diresmikan untuk memperkuat pariwisata religi di Mustang.
Patung raksasa tersebut turut menjadi bagian dari agenda keagamaan dan pariwisata di Mustang.
Peresmiannya dilakukan oleh Jagadguru Shankaracharya Mahaswami Vidushekhara Bharati Maharaj dari Sringeri Sharada Peeth, Karnataka, India, saat berkunjung ke Muktinath.
Mohan Singh Lalchan, Ketua Gharpajhong Rural Municipality, juga mengonfirmasi bahwa patung tersebut dibangun di tepi sungai dan kemudian diresmikan dalam sebuah upacara.
Informasi mengenai proses pembuatannya turut beredar melalui sejumlah sumber daring.
Keterangan tersebut memperkuat bahwa objek yang viral merupakan karya pahatan, bukan penemuan batu alami dalam bentuk seperti yang diklaim.
Apa Itu Batu Shaligram?
Shaligram merupakan batu yang dianggap suci dalam agama Hindu, khususnya bagi penganut Vaishnava yang mengaitkannya dengan Dewa Wisnu.
Batu tersebut merupakan fosil ammonite yang secara alami ditemukan di sekitar Sungai Kali Gandaki di Nepal.
Shaligram alami umumnya berukuran jauh lebih kecil dibandingkan objek yang terlihat dalam video viral.
Batu tersebut lazimnya dapat dipegang dengan tangan atau ditempatkan di altar untuk keperluan keagamaan.
Karakteristik tersebut membuat klaim mengenai penemuan Shaligram alami seberat 31 ton menjadi patut dipertanyakan.
Ukuran ekstrem objek yang beredar tidak serta-merta menunjukkan bahwa benda tersebut merupakan Shaligram alami.
Bukan Penemuan Batu Shaligram 31 Ton
Berdasarkan penelusuran terhadap informasi yang tersedia, klaim “batu Shaligram seberat 31 ton ditemukan di Muktinath” masuk kategori menyesatkan.
Faktanya, terdapat patung Shaligram raksasa setinggi sekitar 22 kaki di Jomsom, Mustang.
Patung tersebut dibuat dengan memahat batu besar yang diambil dari Sungai Kali Gandaki dan sengaja dibuat sebagai bagian dari daya tarik keagamaan serta wisata religi.