- Badan Meteorologi Filipina melaporkan asap karhutla Kalimantan mencapai Filipina akibat angin muson barat daya yang kuat.
- Pejabat PAGASA menyatakan fenomena berulang saat El Nino ini berpotensi mengganggu transportasi udara serta kualitas udara.
- Kementerian Kesehatan Filipina mengimbau warga rentan memakai masker N95 dan membatasi aktivitas luar ruangan.
Suara.com - Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dilaporkan mencapai sejumlah wilayah Filipina.
Badan Meteorologi Filipina, Philippine Atmospheric, Geophysical and Astronomical Services Administration (PAGASA), menyebut kondisi tersebut dipengaruhi angin muson barat daya yang masih cukup kuat.
Spesialis cuaca PAGASA, Benison Estareja, mengatakan kekuatan habagat masih relatif tinggi dan diperkirakan bertahan dalam beberapa hari ke depan.
Kondisi tersebut memungkinkan partikel asap dari kebakaran di Kalimantan terbawa menuju wilayah Filipina.
“Sistem cuaca yang berlaku saat ini dan dalam beberapa hari ke depan masih merupakan muson barat daya, dan relatif belum melemah,” kata Estareja dinukil dari Manila Bulletin.
Menurut Estareja, selama kebakaran hutan masih berlangsung di sekitar Kalimantan, kemungkinan perpindahan partikel asap menuju Filipina tetap terbuka.
Salah satu wilayah yang berpotensi terdampak adalah Luzon bagian selatan.
“Selama masih ada kebakaran hutan di sekitar Kalimantan, Indonesia, masih mungkin terjadi transportasi partikel dari wilayah tersebut menuju bagian selatan Luzon,” ujarnya.
![Karhutla di Palangka Raya, Kalimantan Timur. [Antara/Auliya Rahman/tom]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/25/50494-karhutla-di-palangka-raya-kalimantan-timur.jpg)
Arah Kabut Asap Bergantung Angin Muson Barat
Estareja menjelaskan sebaran partikel asap tidak selalu mengarah ke wilayah yang sama.
Pergerakannya sangat bergantung pada orientasi atau arah angin muson barat yang sedang bertiup.
Wilayah yang terdampak dapat membentang dari Central Luzon hingga Visayas.
Namun, cakupan pastinya dapat berubah mengikuti perkembangan pola angin.
“Wilayah yang mungkin dituju partikel dapat sedikit berubah, tetapi bisa berkisar dari Central Luzon hingga ke Visayas, tergantung orientasi habagat,” kata Estareja.
Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah Filipina perlu meningkatkan pemantauan kualitas udara.
Kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan di negara lain dapat membawa partikel halus yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.
Kebakaran Indonesia Disebut Fenomena Berulang
Kepala Climate Monitoring and Prediction Section PAGASA, Ana Liza Solis, mengatakan kebakaran hutan di Indonesia bukan fenomena yang sepenuhnya baru.
Menurutnya, kejadian serupa dapat berulang terutama ketika kawasan mengalami episode El Nino yang kuat.
“Kebakaran hutan di Indonesia merupakan fenomena yang berulang. Kondisi itu terjadi selama episode El Niño yang kuat, seperti yang juga terjadi pada 2015,” ujar Solis.
Solis mengingatkan bahwa kebakaran hutan Indonesia pada periode sebelumnya juga pernah berdampak terhadap sejumlah wilayah di Filipina, khususnya Visayas dan Mindanao.
Dampak kabut asap bahkan dapat meluas hingga sektor transportasi udara.
Penurunan jarak pandang menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam operasional sejumlah bandara.
“Stasiun-stasiun pengamatan di bandara kita juga perlu terus dipantau,” katanya.
Warga Diminta Gunakan Masker N95
Kondisi tersebut membuat Kementerian Kesehatan Filipina mengeluarkan imbauan kepada masyarakat.
Warga, terutama kelompok rentan, diminta meningkatkan perlindungan diri selama kabut asap masih menyelimuti wilayah mereka.
Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta dianjurkan menggunakan masker N95 dan membatasi aktivitas di luar rumah.
Paparan kabut asap dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kesulitan bernapas, batuk, nyeri dada, hingga iritasi pada mata dan hidung.
Kondisi tersebut juga berpotensi memperburuk penyakit pernapasan seperti asma.
Pemerintah Filipina terus memantau pergerakan kabut asap dan kualitas udara di berbagai wilayah.
Perkembangan kondisi atmosfer menjadi faktor penting untuk menentukan seberapa jauh dampak kabut asap dari kebakaran hutan Kalimantan akan dirasakan di Filipina.