- Dr. Faris Basalamah menjelaskan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau memancarkan abu vulkanik berbahaya bagi organ tubuh.
- Partikel halus abu vulkanik yang terhirup memicu peradangan pembuluh darah serta meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
- Masyarakat disarankan menghindari aktivitas luar ruangan dan memakai masker KN95 untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
Tekanan Darah hingga Irama Jantung Bisa Terganggu
Risiko terhadap jantung tidak berhenti pada peradangan pembuluh darah. Paparan abu vulkanik juga dapat memengaruhi tekanan darah.
Menurut Dr. Faris, inhalasi partikel abu dapat memicu respons sistem saraf simpatis. Respons tersebut kemudian dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah atau vasokonstriksi sehingga tekanan darah meningkat.
Kondisi ini perlu diperhatikan terutama oleh orang yang sudah memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Selain tekanan darah, paparan abu vulkanik juga berpotensi memengaruhi irama jantung.
Gangguan tersebut dapat terjadi akibat efek toksik langsung dari partikel ultrafine serta stres fisik yang muncul ketika seseorang mengalami gangguan pernapasan akut. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengganggu sistem konduksi listrik jantung.
Artinya, masyarakat tidak sebaiknya hanya mewaspadai batuk atau mata perih ketika terpapar abu vulkanik. Kelompok yang memiliki penyakit jantung, tekanan darah tinggi, maupun faktor risiko kardiovaskular juga perlu lebih berhati-hati.
Kurangi Paparan, Gunakan Masker yang Tepat
Untuk mengurangi risiko kesehatan, Dr. Faris menyarankan masyarakat menghindari paparan abu vulkanik sebisa mungkin.
"Kalau memang tidak perlu, sebaiknya pindah keluar rumah dan kalau memang perlu maka gunakan masker yang mencukupi," katanya.
Ia merekomendasikan penggunaan masker KN95 untuk membantu menyaring partikel berukuran sangat kecil.
Masyarakat juga sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara masih dipenuhi abu vulkanik. Terlebih bagi kelompok rentan, seperti penderita asma dan orang dengan penyakit jantung atau pembuluh darah.
Paparan abu vulkanik mungkin terjadi setelah erupsi, tetapi dampaknya terhadap tubuh tidak selalu berhenti ketika aktivitas erupsi mereda. Karena itu, kewaspadaan dan upaya mengurangi paparan tetap penting dilakukan selama abu masih berada di lingkungan sekitar.