Menimbang Arah Baru Partai Berbasis Islam, Dari Ideologi ke Pragmatisme Kekuasaan

Chandra Iswinarno Suara.Com
Kamis, 13 November 2025 | 14:51 WIB
Menimbang Arah Baru Partai Berbasis Islam, Dari Ideologi ke Pragmatisme Kekuasaan
Peneliti Pusat Studi Politik dan Demokrasi FISIP Unpad Ari Ganjar Herdiansah. [Suara.com/Dok. pribadi]
Baca 10 detik
  • Partai Islam alami kemunduran pasca Pemilu 2024, dengan PPP gagal lolos ambang batas parlemen.
  • PKB, PAN, dan PKS pilih strategi realistis-pragmatis dengan bergabung ke pemerintahan.
  • Tantangan utama partai Islam: regenerasi kepemimpinan, relevansi isu publik, dan soliditas internal.

Akibatnya, mereka sering terjebak. Terlalu kaku untuk pemilih moderat, tetapi kurang militan bagi pemilih ideologis.

Bertahan dalam Strategi Realistis-Pragmatis

Langkah pasca-pemilu dari ketiga partai berbasis Islam di Senayan menunjukkan satu pilihan yang sama, yakni realistis-pragmatis.

PKB, meski sempat berseberangan di pilpres, membuktikan kecanggihan strategi elektoralnya. Manuver taktis menempatkan Cak Imin sebagai cawapres sukses mengamankan 10,61 persen suara.

Tidak butuh waktu lama, PKB kembali ke koalisi pemerintah. Pilihan pragmatis ini adalah cara PKB untuk 'menyelamatkan diri' sekaligus memastikan mereka tetap exsist di panggung utama.

Hal serupa dilakukan PAN. Strategi 'merekrut artis' dan gimmik kreatif 'PAN... PAN... PAN' terbukti efektif menggaet pemilih muda.

PAN juga cerdik menjauhkan diri dari label 'partai Islam' dan memilih identitas 'nasionalis-religius.'

Keberhasilan mereka mengamankan kursi di pemerintahan adalah buah dari konsistensi adaptasi ini.

Yang paling mengejutkan adalah manuver PKS. Partai yang selama satu dekade memantapkan diri sebagai kekuatan oposisi ini akhirnya balik badan.

Baca Juga: Ironi di Muktamar X PPP; Partai Islam Ricuh, Waketum: Bagaimana Mau Mendapat Simpati Umat?

Dengan bergabung ke pemerintahan Prabowo, partai ini memberi sinyal jelas bahwa era politik ideologis kaku telah usai.

PKS kini memilih jalan yang sama dengan PKB dan PAN, mengamankan pengaruh dan insentif melalui kekuasaan. Meski dengan catatan, ada kekecewaan dari sebagian basis massanya.

Tantangan bagi ketiganya kini serupa. Mereka harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar 'penumpang' di kabinet.

Langkah pasca-pemilu dari ketiga partai berbasis Islam di Senayan menunjukkan satu pilihan yang sama, yakni realistis-pragmatis.

Mereka mesti mampu memberikan kinerja nyata yang merepresentasikan aspirasi basis mereka, sekaligus membuktikan bahwa pilihan pragmatis dapat membawa manfaat lebih besar daripada sekadar bertahan di luar kekuasaan.

Prospek dan Tantangan

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI