Risiko Siber dan Keberlanjutan Keuangan

Dwi Bowo Raharjo | Suara.com

Kamis, 22 Januari 2026 | 15:33 WIB
Risiko Siber dan Keberlanjutan Keuangan
Praktisi Manajemen Risiko Perbankan/Mahasiswa Doktoral Perbanas Institute, Rini Marlina. (Suara.com/ dok. Pribadi)
  • Industri jasa keuangan Indonesia menghadapi perang siber asimetris; keamanan siber kini menjadi penentu tata kelola dan keberlanjutan (ESG).
  • Frekuensi serangan siber diproyeksikan melonjak, menyebabkan kerugian finansial masif serta mengancam stabilitas sistem keuangan dan kepercayaan nasabah.
  • Regulator menerapkan aturan ketat, sementara LPS menunjukkan keberhasilan menangkal ancaman, menjadikan keamanan siber investasi krusial bagi ekonomi berkelanjutan.

Investasi pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki keahlian siber tingkat lanjut menjadi tantangan tersendiri di tengah kelangkaan talenta global. Gholami et al. (2022) dalam Information & Management menekankan pentingnya manajemen risiko siber yang berbasis pada resource-based view.

Resiliensi siber dibangun melalui kombinasi antara teknologi keamanan canggih dengan kesadaran keamanan (security awareness) karyawan yang mendalam guna memitigasi ancaman dari dalam (insider threats).

Ilustrasi keamanan siber. [Pexels]
Ilustrasi keamanan siber. [Pexels]

Pembangunan ekonomi berkelanjutan di tahun 2026 juga harus mempertimbangkan efisiensi energi dari infrastruktur keamanan siber itu sendiri. Munculnya tren Green Cybersecurity mengajak industri untuk menggunakan algoritma enkripsi yang lebih hemat daya tanpa mengurangi tingkat proteksi.

Keamanan siber harus dipandang sebagai komponen integral dari strategi ESG terpadu. Perlindungan data pribadi nasabah adalah bentuk nyata dari tanggung jawab sosial (Social).

Tanpa fondasi digital yang aman, inklusi keuangan hanyalah sebuah kerentanan yang terdistribusi secara luas. Boeke (2020) dalam Ethics and Information Technology menyatakan bahwa kedaulatan siber nasional merupakan prasyarat bagi pencapaian SDGs. Kegagalan melindungi ekosistem digital akan menyebabkan inefisiensi masif yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Kebocoran modal keluar negeri akan terjadi melalui aktivitas kriminal digital.

Strategi mitigasi di masa depan juga harus melibatkan pemanfaatan teknologi blockchain untuk menjamin integritas data transaksi dan penggunaan identitas digital terdesentralisasi guna meredam serangan spoofing. Sinergi antara regulator seperti OJK, Bank Indonesia, Komdigi, dan BSSN melalui platform berbagi informasi ancaman (threat intelligence sharing) menjadi kunci untuk menciptakan deteksi dini yang kolektif.

Industri perbankan harus meningkatkan belanja modal (capex) untuk keamanan siber sebagai bentuk asuransi terhadap risiko eksistensial. Di tengah persaingan ekonomi global 2026 yang kian tajam, lembaga keuangan yang mampu memposisikan dirinya sebagai entitas yang "aman secara siber" akan memenangkan kepercayaan pasar dan menarik aliran dana investasi hijau yang lebih besar.

Resiliensi siber di sektor jasa keuangan adalah refleksi dari ketangguhan bangsa dalam menghadapi era disrupsi digital.

Pelajaran dari ketangguhan LPS dan peringatan dari para pakar siber global seperti Kaspersky harus dijadikan pedoman dalam menentukan arah kebijakan teknologi informasi nasional.

Keamanan siber bukanlah garis finis, melainkan perjalanan berkelanjutan yang memerlukan kewaspadaan tanpa henti. Jika Indonesia mampu membangun benteng digital yang kokoh, maka transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan dan inklusif bukan lagi sekadar impian. Kedaulatan data dan stabilitas keuangan adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

Rini Marlina
Praktisi Manajemen Risiko Perbankan/Mahasiswa Doktoral Perbanas Institute

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Aturan Baru, OJK Bisa Ajukan Gugatan Pelaku Usaha Jasa Keuangan

Aturan Baru, OJK Bisa Ajukan Gugatan Pelaku Usaha Jasa Keuangan

Bisnis | Selasa, 20 Januari 2026 | 13:49 WIB

YLKI Catat 1.977 Aduan Konsumen Sepanjang 2025, Jasa Keuangan Paling Dikeluhkan

YLKI Catat 1.977 Aduan Konsumen Sepanjang 2025, Jasa Keuangan Paling Dikeluhkan

News | Rabu, 14 Januari 2026 | 13:35 WIB

OJK Waspadai Efek Domino Operasi Militer AS di Venezuela terhadap Stabilitas Keuangan RI

OJK Waspadai Efek Domino Operasi Militer AS di Venezuela terhadap Stabilitas Keuangan RI

Bisnis | Jum'at, 09 Januari 2026 | 11:46 WIB

Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar

Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar

Bisnis | Kamis, 08 Januari 2026 | 12:18 WIB

Terkini

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Opini | Sabtu, 18 April 2026 | 08:05 WIB

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Opini | Rabu, 15 April 2026 | 12:29 WIB

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Opini | Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:32 WIB

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Opini | Senin, 16 Maret 2026 | 12:47 WIB

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Opini | Senin, 02 Maret 2026 | 14:26 WIB

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Opini | Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:31 WIB

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Opini | Selasa, 10 Februari 2026 | 15:33 WIB

Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Opini | Rabu, 04 Februari 2026 | 19:05 WIB

Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan

Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan

Opini | Jum'at, 30 Januari 2026 | 16:35 WIB

Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara

Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara

Opini | Kamis, 22 Januari 2026 | 19:05 WIB