Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Dwi Bowo Raharjo | Suara.com

Sabtu, 18 April 2026 | 08:05 WIB
Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI
Danang Dwijo Kangko, Dosen Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi, Universitas YARSI. (Suara.com/ Ist)
  • Jika penggunanya tidak memiliki literasi yang kuat, AI tidak akan menjadi alat bantu.
  • Pustakawan berperan penting sebagai pemandu literasi yang menghubungkan pembaca dengan buku.
  • Pelatihan rekayasa perintah diberikan agar pustakawan mampu memvalidasi informasi dari mesin AI guna menangkal potensi halusinasi atau hoaks.

Suara.com - Di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kita sering kali melupakan satu fondasi paling mendasar: apakah kita sudah benar-benar bisa membaca?

Pertanyaan ini terdengar retoris, bahkan mungkin menyinggung. Namun, pesan kuat yang muncul dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas YARSI bersama Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI), pada Senin (6/4/2026) lalu, menyentak kesadaran kita.

Sebelum kita beradu canggih dengan "Akal Imitasi", literasi manusiawi kita harus beres terlebih dahulu.

Krisis Global: Saat Buku Menjadi Barang Mewah

Kehadiran Prof. James Swart dari Central University of Technology, Afrika Selatan, dalam acara tersebut membawa perspektif yang pahit namun nyata.

Krisis literasi ternyata bukan "penyakit" khas Indonesia semata.

Di Afrika Selatan, 81 persen pelajar kelas 4 SD belum mampu membaca dengan pemahaman yang utuh.

Akar masalahnya sangat akrab di telinga kita: minimnya infrastruktur. Bayangkan, 74 persen sekolah di sana tidak memiliki perpustakaan yang berfungsi.

Namun, Prof. James membagikan satu titik balik yang personal. Karier gemilangnya—berkeliling ke 24 negara dan mempublikasikan lebih dari 200 karya ilmiah—ternyata bukan bermula dari laboratorium canggih, melainkan dari satu buku yang tepat yang diberikan oleh seorang guru yang peduli.

Di sinilah peran pustakawan menjadi krusial. Prof. James mengajak kita mendefinisikan ulang posisi pustakawan: mereka bukan sekadar penjaga rak yang berdebu, melainkan seorang "makcomblang".

Ilustrasi perpustakaan desa. (Pexels)
Ilustrasi perpustakaan. (Pexels)

Pustakawan sebagai "Makcomblang" Peradaban

Mengutip Teori 5 Hukum Ilmu Perpustakaan dari S.R. Ranganathan (1931), tugas utama pustakawan adalah mempertemukan setiap pembaca dengan bukunya (Every reader his/her book).

Ketika seorang pustakawan berhasil menjodohkan seorang anak dengan buku yang sesuai minatnya, di situlah letupan literasi terjadi.

Namun, di era digital, peran "makcomblang" ini berevolusi.

Pustakawan kini harus bertransformasi dari sekadar kurator fisik menjadi pemandu literasi informasi. Kita tidak lagi sekadar butuh "bisa membaca", tapi butuh kemampuan "4i": Kenali, Cari, Evaluasi, dan Pakai.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gandeng OpenAI, Novo Nordisk Percepat Revolusi AI di Sektor Kesehatan

Gandeng OpenAI, Novo Nordisk Percepat Revolusi AI di Sektor Kesehatan

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 15:00 WIB

Wamenkomdigi: Generative AI Bikin Lansia Bingung, Konten Rekayasa Wajib Watermark

Wamenkomdigi: Generative AI Bikin Lansia Bingung, Konten Rekayasa Wajib Watermark

News | Jum'at, 17 April 2026 | 12:25 WIB

Wamenkes Dante Blak-blakan: AI Percepat Diagnosis Penyakit, Tapi RI Masih Bergantung Impor

Wamenkes Dante Blak-blakan: AI Percepat Diagnosis Penyakit, Tapi RI Masih Bergantung Impor

News | Jum'at, 17 April 2026 | 11:37 WIB

Mengintip Pengembangan Robot Cerdas Sektor Energi di Guangdong

Mengintip Pengembangan Robot Cerdas Sektor Energi di Guangdong

Foto | Jum'at, 17 April 2026 | 08:00 WIB

Terkini

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Opini | Rabu, 15 April 2026 | 12:29 WIB

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Opini | Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:32 WIB

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Opini | Senin, 16 Maret 2026 | 12:47 WIB

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Opini | Senin, 02 Maret 2026 | 14:26 WIB

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Opini | Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:31 WIB

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Opini | Selasa, 10 Februari 2026 | 15:33 WIB

Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Opini | Rabu, 04 Februari 2026 | 19:05 WIB

Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan

Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan

Opini | Jum'at, 30 Januari 2026 | 16:35 WIB

Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara

Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara

Opini | Kamis, 22 Januari 2026 | 19:05 WIB

Risiko Siber dan Keberlanjutan Keuangan

Risiko Siber dan Keberlanjutan Keuangan

Opini | Kamis, 22 Januari 2026 | 15:33 WIB