alexametrics

Nissan: Teknologi Hybrid Jadi Solusi Infrastruktur Mobil Listrik

RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
Nissan: Teknologi Hybrid Jadi Solusi Infrastruktur Mobil Listrik
Menjajal Nissan Kicks e-POWER di trek non-aspal. Sebagai ilustrasi mesin hyrid dengan pasokan tenaga dari baterai mobil listrik [Suara.com/Manuel Jeghesta Nainggolan].

Teknologi e-Power bisa menjembatani kebutuhan masa transisi menuju era mobil listrik total.

Suara.com - Popularitas mobil listrik terus meningkat, beberapa pabrikan otomotif tradisional--mengacu pada produk bermesin konvensional--telah mengumumkan untuk berhenti memproduksi kendaraan bermesin pembakaran internal dalam waktu dekat.

Toh di antara carmaker ada yang menilai bahwa peluang untuk mesin pembakaran internal masih ada. Setidaknya sampai biaya produksi baterai berkurang atau bisa menjadi lebih murah dari sekarang. Juga setelah kepadatan energi di mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) bisa lebih ditingkatkan, dan infrastruktur berupa Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) tersedia lebih memadai.

Seperti Toyota, Nissan merasakan hal serupa. Yaitu masih ada kehidupan untuk mobil hybrid yang memadukan mesin pembakaran dengan baterai.

Pabrikan asal Jepang ini bahkan menilai teknologi e-Power yang mereka miliki masih bisa dipadankan dengan supercar Nissan GT-R.

Baca Juga: Antisipasi Mobil Listrik Mogok, Hyundai Sediakan Donor Baterai

Nissan Note e Power di GIIAS 2017, ICE, BSD City, Tanggerang, Sabtu (12/8).
Nissan Note e-Power, sebagai ilustrasi mesin hybrid [Suara.com].

Naoki Nakada, kepala teknisi powertrain Nissan mengatakan bahwa saat Nissan mengembangkan Nissan R35 GT-R, pihaknya tidak hanya mengejar kecepatan, namun akselerasi.

"Jadi kendaraan listrik dari Nissan tidak hanya harus ramah lingkungan tetapi menyenangkan untuk dikendarai," ujar Naoki Nakada, dikutip dari Carscoops.

Untuk itu, sambungnya, dengan jaminan sebuah mesin tradisional, hasilnya adalah sistem penggerak e-Power.

Menurutnya, konsep e-Power benar-benar berbeda dari sistem hybrid pada umumnya. Untuk mempertahankan pengalaman berkendara yang sepenuhnya elektrik, motor listrik dengan output tinggi ditempatkan sebagai satu-satunya penyalur tenaga ke roda.

Secara bersamaan, mesin pembakaran internal terpasang mengisi baterai  Lithium-ion yang menggerakkan motor listrik tadi.

Baca Juga: Elon Musk Siap Menutup Pabrik di Shanghai, Jika ...

Hasilnya adalah kendaraan akan terasa sama dengan kendaraan listrik sepenuhnya, tanpa harus khawatir tentang jarak tempuh.

"E-Power terlihat seperti sistem sederhana yang mudah dikembangkan," kata Naoki Nakada.

Nissan sendiri telah meluncurkan teknologi e-Power untuk pasar Jepang pada 2016. Perusahaan ini sukses menjual sebanyak 500.000 unit untuk sejumlah model yang sudah mengadopsi teknologi itu.

Naoki Nakada meyakini dengan infrastruktur yang ada, saat ini belum mampu mengakomodasi era kendaraan listrik, e-Power adalah alternatif terbaik berikutnya.

"Kami ingin menawarkan E-Power kepada sebanyak mungkin orang, secepat mungkin. Kami memberi mereka pengalaman berkendara dengan listrik penuh, yang pada gilirannya bisa membantu mempercepat menuju dunia mobilitas listrik yang ramah lingkungan," tutup Naoki Nakada.

Komentar