Suara.com - Banyak orang berpikir bahwa menggunakan Pertamax (RON 92) selalu lebih bagus untuk motor. Padahal, faktanya tidak sesederhana itu.
Setiap motor memiliki rasio kompresi mesin berbeda, dan inilah yang menentukan jenis bahan bakar yang paling ideal.
Jika salah memilih BBM, efeknya bisa membuat mesin tidak optimal, bahkan boros tanpa manfaat berarti.
Secara umum panduannya adalah sebagai berikut:
- Kompresi 9:1 – 10:1, cocok Pertalite (RON 90)
- Kompresi 10:1 – 11:1, cocok Pertamax (RON 92)
- Kompresi >11:1, butuh BBM oktan lebih tinggi
Itu artinya, motor dengan kompresi rendah justru kurang cocok pakai Pertamax, karena pembakarannya tidak optimal.
Kenapa Motor Kompresi Rendah Tidak Cocok Pakai Pertamax?
Menggunakan Pertamax di motor yang tidak membutuhkan bisa menimbulkan beberapa hal:
- Pembakaran tidak maksimal
- Tenaga tidak meningkat signifikan
- Lebih boros biaya tanpa manfaat
- Respons mesin terasa “biasa saja”
Secara teknis, BBM oktan tinggi seperti Pertamax butuh tekanan dan suhu lebih tinggi agar terbakar sempurna. Jika mesin tidak mencapainya, performa justru tidak optimal.
Daftar Motor yang Kurang Cocok Pakai Pertamax
Berikut daftar motor yang umumnya lebih ideal menggunakan Pertalite dibanding Pertamax, berdasarkan rasio kompresinya:
1. Honda BeAT (karburator & FI awal)

- Rasio kompresi: sekitar 9,2 : 1
- Rekomendasi: Pertalite
Motor ini sangat populer di Indonesia, tapi kompresinya tergolong rendah. Menggunakan Pertamax tidak memberikan peningkatan signifikan.
Estimasi harga bekas mulai Rp4,5 juta.
2. Honda Scoopy (generasi lama)

- Rasio kompresi: sekitar 9,5 : 1
- Rekomendasi: Pertalite
Scoopy lama dirancang untuk efisiensi harian, bukan performa tinggi, sehingga tidak membutuhkan BBM oktan tinggi.
Estimasi harga bekas mulai Rp5 jutaan.
3. Honda Revo Series

- Rasio kompresi: sekitar 9,3 : 1
- Rekomendasi: Pertalite
Motor bebek ini terkenal irit dan bandel, tapi tidak dirancang untuk Pertamax.
Estimasi harga bekas Rp2,5 - 9,5 jutaan.
4. Honda Supra X 125

- Rasio kompresi: sekitar 9,3 : 1
- Rekomendasi: Pertalite
Mesinnya awet dan efisien, tapi tidak membutuhkan oktan tinggi untuk performa optimal.
Estimasi harga bekas mulai Rp5 jutaan.
5. Yamaha Mio Series (lama)

- Rasio kompresi: sekitar 9–9,5 : 1
- Rekomendasi: Pertalite
Motor matic generasi awal Yamaha ini termasuk kategori kompresi rendah.
Estimasi harga bekas mulai Rp3 jutaan.
6. Yamaha Jupiter Z / Jupiter MX lama

- Rasio kompresi: sekitar 9–9,3 : 1
- Rekomendasi: Pertalite
Walaupun terkenal kencang di zamannya, kompresinya masih belum cukup untuk membutuhkan Pertamax.
Estimasi harga bekas mulai Rp4,5 jutaan
7. Honda Blade / Mega Pro lama

- Rasio kompresi: sekitar 9–9,5 : 1
- Rekomendasi: Pertalite
Motor ini lebih cocok dengan BBM standar karena karakter mesinnya tidak tinggi kompresi.
Estimasi harga bekas mulai Rp4,5 jutaan
Catatan Penting: Boleh Pakai Pertamax, Asalkan
Perlu dipahami, bukan berarti dilarang menggunakan Pertamax di motor-motor di atas. Namun:
- Tidak ada peningkatan performa signifikan
- Tidak lebih irit
- Hanya menambah biaya operasional
Bahkan dalam banyak kasus, pengguna hanya “membayar lebih mahal” tanpa keuntungan nyata.
Kapan Motor Wajib Pakai Pertamax?
Sebagai perbandingan, motor yang memang butuh Pertamax biasanya punya ciri:
- Kompresi mesin di atas 10:1
- Mesin injeksi modern
- Performa tinggi
Contohnya seperti: Honda PCX 150, Yamaha NMAX, Yamaha Aerox, Honda ADV 150.
Tidak semua motor cocok pakai Pertamax. Justru banyak motor harian di Indonesia yang lebih ideal menggunakan Pertalite karena kompresinya masih rendah. Intinya cek rasio kompresi motor Anda serta ikuti rekomendasi pabrikan. Dengan memilih bahan bakar yang tepat, mesin motor akan lebih awet, irit, dan performanya tetap optimal.
Kontributor : Rishna Maulina Pratama