- Komisi Dipangkas: Perpres 27/2026 pangkas potongan komisi aplikator ojol dari 20 persen menjadi 8 persen.
- Tarif Reguler Aman: Gojek pastikan tarif GoRide reguler tidak naik demi menjaga stabilitas pesanan konsumen.
- GoRide Hemat Naik: Imbas aturan baru, Program Langganan dihapus dan tarif GoRide Hemat akan mengalami penyesuaian.
Suara.com - Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2026 lalu membawa angin segar yang luar biasa bagi para mitra pengemudi ojek online (ojol).
Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto resmi memangkas potongan komisi aplikator secara drastis, dari yang awalnya 20 persen kini hanya tersisa 8 persen.
Di atas kertas, ini adalah kemenangan besar bagi driver. Mereka kini bisa membawa pulang 92 persen dari total pendapatan per perjalanan.
Namun, di balik sorak-sorai kesejahteraan mitra, ada satu pihak yang diam-diam harus bersiap merogoh kocek lebih dalam: Anda, sang konsumen setia layanan ojol murah.
Akankah kebijakan ini memicu kenaikan tarif secara keseluruhan? Jawabannya ada di strategi kompromi yang diambil oleh aplikator raksasa seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo).
GoRide Reguler Aman, Tapi Layanan 'Hemat' Jadi Tumbal?
Menyikapi aturan baru tersebut, Direktur Utama/CEO GoTo, Hans Patuwo, menyatakan dukungan penuh perusahaannya terhadap arahan pemerintah. Langkah pertama yang mereka ambil tentu saja mematuhi skema bagi hasil 92:8.
Kabar baiknya, Gojek berjanji bahwa konsumen pengguna layanan standar tidak akan merasakan dampak langsung.
"Kami memastikan tidak ada perubahan harga bagi pengguna layanan GoRide reguler, sehingga jumlah order dari konsumen akan tetap stabil dan pendapatan total bagi mitra pengemudi akan terjaga," tegas Hans di Jakarta dilansir dari Antara.
Namun, kalimat berikutnya dari sang CEO menyiratkan realita bisnis yang tak terelakkan. Ketika pendapatan aplikator dipangkas hingga 12 persen, lubang finansial itu harus ditambal dari tempat lain.
Strategi Gojek? Membidik layanan paling murah mereka, yakni GoRide Hemat.
Berakhirnya Era Subsidi dan Promo "Bakar Uang"
Untuk menciptakan ekosistem bisnis yang tetap berkelanjutan setelah aturan baru ini berlaku, Gojek mengumumkan penghapusan “Program Langganan GoRide Hemat” bagi mitra pengemudi.
Lebih lanjut, Hans dengan transparan menyebutkan akan ada "penyesuaian" harga bagi konsumen penikmat layanan hemat ini.
"Ke depannya, GoRide Hemat juga akan mengikuti sistem bagi hasil 8 persen seperti GoRide reguler. Oleh sebab itu, akan ada penyesuaian harga konsumen yang moderat pada GoRide Hemat," ujar Hans.
Dalam bahasa korporat, "penyesuaian moderat" sering kali menjadi eufemisme untuk kenaikan tarif. Meski Gojek berjanji akan tetap mengutamakan keterjangkauan harga, ini menjadi sinyal kuat bahwa era ojek online yang luar biasa murah—hasil dari subsidi silang dan promo—akan segera berakhir.
![Pengemudi ojek online menunggu penumpang di kawasan senayan, Jakarta, Senin (11/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/11/83399-ojek-online-ojek-daring-ilustrasi-ojol-pengemudi-ojol-driver-ojol.jpg)
Kesejahteraan Bersama, Beban Bersama
Keputusan untuk menaikkan tarif GoRide Hemat adalah konsekuensi logis. Aplikator dituntut untuk tidak membebani driver, namun di sisi lain mereka juga harus mempertahankan program-program kesejahteraan yang sudah berjalan.
Gojek memastikan bahwa berbagai benefit untuk driver seperti Bonus Hari Raya (BHR), BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan, beasiswa, hingga umrah gratis akan tetap dilanjutkan untuk mendukung program Asta Cita pemerintah. Tentu saja, semua fasilitas tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Melalui kekuatan ekosistem dan inovasi yang berkelanjutan, kami optimis dapat melakukan penyesuaian dengan baik, sekaligus menjaga stabilitas jangka panjang Gojek dan GoTo," tutup Hans.
Pada akhirnya, Perpres 27/2026 mengajarkan satu pelajaran penting bagi ekosistem ojol di Indonesia. Kesejahteraan mitra pengemudi adalah hal yang mutlak, namun hal itu tidak datang secara gratis.
Kini, konsumen mendang-mending pemburu promo tampaknya harus mulai membiasakan diri: membayar harga yang lebih pantas untuk keringat para driver di jalanan.