SEA Games: Indonesia Lewati Target Emas, Tapi Gagal Jadi Runner-up, Kenapa?

Rizki Nurmansyah | Arief Apriadi
SEA Games: Indonesia Lewati Target Emas, Tapi Gagal Jadi Runner-up, Kenapa?
Kontingen Indonesia berparade bersama kontingen 10 negara lainnya dalam upacara penutupan SEA Games ke-30 di Stadion Atletik New Clark, Filipina, Rabu (11/12). [ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana]

"Kalau Presiden minta Indonesia di peringkat 2, harusnya diterjemahkan minimal 16 persen dari total medali."

Suara.com - Kontingen Indonesia berhasil sekaligus gagal memenuhi target yang diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di ajang SEA Games 2019 Filipina.

Skuat Merah Putih dikatakan berhasil karena mampu melampaui target jumlah medali emas yang dirumuskan National Olympic Committe (NOC) Indonesia.

Ditantang untuk merebut minimal 60 medali emas, para atlet dan ofisial Indonesia tampil garang hingga melampaui dengan raihan 72 medali emas, 84 perak, dan 111 perunggu.

Namun, jumlah medali yang berhasil diraih, nyatanya tak mampu mendongkrak posisi Indonesia ke urutan dua klasemen akhir perolehan medali SEA Games 2019, seperti yang diinginkan Presiden Jokowi.

Kontingen Indonesia tertahan diposisi keempat. Sementara posisi tiga besar beruturut-turut dikuasai Filipina, Vietnam, dan Thailand.

Kenapa Indonesia berhasil memenuhi target medali emas, namun gagal finis diperingkat kedua klasemen SEA Games 2019?

Pengamat olahraga, Djoko Pekik berpendapat bahwa target 60 medali emas yang dicanangkan NOC Indonesia maupun tim Chef de Mission (CdM) sedari awal memang tak mencukupi untuk bisa merebut peringkat kedua klasemen.

Kontingen Indonesia berparade bersama kontingen 10 negara lainnya dalam upacara penutupan SEA Games 2019 di Stadion Atletik New Clark, Filipina, Rabu (11/12). [AFP/Ted Aljibe]
Kontingen Indonesia berparade bersama kontingen 10 negara lainnya dalam upacara penutupan SEA Games 2019 di Stadion Atletik New Clark, Filipina, Rabu (11/12). [AFP/Ted Aljibe]

Seperti diketahui, sebelum diminta Jokowi untuk mengamankan peringkat dua klasemen, tim CdM, NOC Indonesia, KONI, dan Kemenpora satu suara bahwa skuat Merah Putih ditargetkan duduk diperingkat kelima dengan raihan minimal 45 medali emas.

Apabila 45 medali emas dirasa mampu menghantarkan Indonesia ke peringkat lima, maka revisi target 60 emas jelas bukan jumlah ideal untuk bisa merangsek ke peringkat dua besar klasemen.

Menurut hitung-hitungan Djoko Pekik, Indonesia membutuhkan minimal 85 medali emas untuk bisa memenuhi target Jokowi. 85 medali emas merupakan 16 persen dari total 530 medali emas yang diperebutkan.

"Padahal kami sudah memperhitungkan kalau 45 medali emas paling peringkat 5 atau 6. Kalau mau peringkat 4 itu minimal 63 medali emas. Kenapa? Itu 12 persen dari total medali yang dipertandingkan," ujar Djoko saat dihubungi Suara.com, Rabu (11/12/2019).

"Kalau Presiden minta Indonesia di peringkat 2, harusnya diterjemahkan minimal 16 persen dari total medali. Minimal 85 medali emas, jadi miss-nya di situ. Saya kira menterjemahkannya salah," jelasnya

Sebagai perbandingan, Vietnam yang berhasil duduk diperingkat kedua bahkan harus mengumpulkan 98 medali emas untuk bisa mempertahankan posisinya.

Di sisi lain, Thailand juga harus mengumpulkan lebih dari 90 medali emas yakni 92, untuk bisa duduk diperingkat ketiga.

Djoko menegaskan bahwa NOC Indonesia dan Tim CdM harus bisa menentukan kebutuhan medali Indonesia untuk mencapai target peringkat tertentu.

Kondisi saat ini, disebutnya jadi cerminan bahwa ada koordinasi yang kurang maksimal antar stakeholders terkait.

Hal itu juga, kata Djoko, amat berkaitan dengan pemilihan CdM yang berlangsung sangat mepet dengan penyelenggaraan SEA Games 2019.

Seperti diketahui, Harry Warganegara dipilih sebagai Chef de Mission Indonesia hanya tiga bulan menjelang keberangkatan kontingen.

Hal itu disebut Djoko sangat berpengaruh terhadap persiapan tim CdM secara keseluruhan.

CdM Indonesia untuk SEA Games 2019, Harry Warganegara, di Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (30/9/2019). [Suara.com/Arief Apriadi]
CdM Indonesia untuk SEA Games 2019, Harry Warganegara, di Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (30/9/2019). [Suara.com/Arief Apriadi]

Koordinasi mereka dengan masing-masing cabang olahraga terkait jadi berjalan terburu-buru.

"Dari awal sudah miss, dengan target yang berubah-ubah itu saya bingung. Dengan 60 medali emas tidak efisien karena kontingennya saja ada 800 sekian masa target emas segitu," beber Djoko.

Di sisi lain, jauh sebelum SEA Games 2019 bergulir, pemerintah konsisten dengan kebijakan untuk mengirim kontingen dengan kompisisi 60 persen atlet muda.

Dengan mengirimkan 60 persen atlet muda, Indonesia nyatanya masih mampu bersaing untuk setidaknya melampaui raihan medali dan peringkat pada SEA Games 2017.

Sebagaimana diketahui, pada SEA Games 2017 Malaysia, Indonesia harus puas duduk diperingkat lima klasemen akhir, dengan raihan 38 medali emas, 63 perak, dan 90 perunggu.

Kontingen Indonesia untuk SEA Games 2019 resmi dikukuhkan. Proses pengukuhan berlangsung di Hall Basket, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (27/11/2019). (Suara.com / Arief Apriadi)
Kontingen Indonesia untuk SEA Games 2019 resmi dikukuhkan. Proses pengukuhan berlangsung di Hall Basket, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (27/11/2019). (Suara.com / Arief Apriadi)

Hasil tersebut tentu menjadi modal sekaligus harapan besar bagi prestasi Indonesia di event-event internasional selanjutnya, dengan yang terdekat adalah Olimpiade 2020 Tokyo.

"Kita apresiasi atlet muda berbakat. Contoh Windy Cantika Aisah (dari angakt besi). Itu aset penanda kita punya atlet muda berpotensi," beber Djoko.

"Tapi kita juga harus hati-hati, jangan dihabiskan di berbagai event. Saya sarankan disimpan dan buat olimpiade 2024."

"Masih muda jangan diberikan beban. Semua pihak masyarakat, federasi cabang olahraga, KONI, NOC Indonesia dan pelatih harus memahami masih panjang perjalanannya," pungkasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS