TANTRUM - Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Kota Bandung menyebutkan remaja rentan menjadi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Hal itu disebabkan anak muda sekarang ini memiliki banyak masalah.
Menurut Ketua PDSKJI Kota Bandung Arlisa Wulandari masalah yang kerap kali ditemui di anak muda adalah terlibat narkoba, bullying (perudungan) dan melukai diri sendiri.
Arlisa mengatakan terpaan informasi yang tinggi bisa disebut sebagai pemicu terjadinya masalah kejiwaan terhadap anak muda.
"Biar pun enggak pake narkoba, mereka membully teman - teman mereka karena kalau kita lihat kan banyak juga film - film mungkin drama Korea atau tentang remaja itu kalau membully itu adalah keren, misalkan begitu. Mereka punya geng yang bisa membully teman - temannya sendiri, itu justru geng yang dianggap orang - orangnya keren gitu. Hal - hal seperti itu kalau yang nonton tidak didampingi, mereka akan menjadi ingin seperti itu," kata Arlisa ditulis Bandung, Selasa, 24 Mei 2022.
Arlisa mengatakan pendampingan anak muda oleh keluarga saat menerima berbagai macam bentuk informasi tersebut perlu dilakukan.
Namun syaratnya tutur Arlisa, latar belakang pendidikan, agama dan budaya keluarga harus memiliki pondasi yang kuat.
Berbeda halnya dengan anak muda yang hidup sendiri atau pun tidak dilindungi oleh keluarganya, yang ikut menyeleksi informasi yang diperoleh.
Selain keluarga kata Arlisa, kelompoknya harus bekerja sama dengan berbagai institusi pemerintah seperti Kementerian Informasi dan Dinas Pendidikan soal pencegahan anak muda terjerumus menjadi ODGJ.
"Sama saja dengan paparan selebgram yang tidak selalu menunjukkan hal baik. Ada menunjukkan hal konsumtif, cara gaya hidup seperti pacaran yang bebas itu adalah hal keren. Saya lihat pengikutnya banyak banget selebgram yang justru aneh - aneh itu," ujar Arlisa.
Otoritasnya meminta seluruh kelompok masyarakat terlibat untuk mengantisipasi pemicu masalah terhadap anak muda.
Hal itu untuk meminimalisir bertambahnya ODGJ yang ada. Data yang dimiliki PDSKJI pada beberapa tahun lalu, tercatat sebanyak 73 ribu masyarakat di Jawa Barat terpapar gangguan kejiwaan.
Sedangkan anggota PDSKJI Kota Bandung Teddy Hidayat menjelaskan rokok bisa menjadi pemicu gangguan kejiwaan.
Sebab kandungan kimia yang ada dalam rokok yang banyak digemari oleh anak muda, masuk dalam kategori zat adiktif sesudah kokain, heroin atau putaw dan alkohol.
Menurut Teddy secara kejiwaan, kandungan dalam rokok dapat membuat perilaku bahagia, nyaman dan ceria akibat rangsangan nikotin terhadap nainnya zat dophamine di otak.
Teddy menuturkan jika kekurangan nikotin maka perilaku murung, tidak ada minat dan sedih akan terjadi.