Jokowi dan Trump Berperan dalam Lambannya Reaksi Dunia Hadapi Covid-19

Liberty Jemadu | Suara.com

Senin, 13 April 2020 | 14:54 WIB
Jokowi dan Trump Berperan dalam Lambannya Reaksi Dunia Hadapi Covid-19
Presiden Jokowi berfoto bersama Presiden AS Donald Trump - (Dok Biro Pers Kepresidenan)

Suara.com - Pemimpin populis yang bermunculan di dunia - termasuk di Amerika serikat, Brasil, dan Indonesia – turut berkontribusi terhadap kegagalan skala global dalam merespons pandemi Covid-19 secara tepat. Resesi ekonomi dunia pun diperkirakan akan terjadi lebih cepat.

Per 9 April 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1,3 juta kasus COVID-19 dan sedikitnya 79.000 kematian di 212 negara dan teritorial.

Skenario terburuk adalah terjadinya pertumbuhan ekonomi negatif, termasuk di Asia Timur dan Pasifik.

Populisme dapat dipahami sebagai suatu ideologi yang memiliki dua dasar keyakinan:

Pertama, masyarakat anti-kemapanan (anti-establishment) terdiri atas dua kelompok bertentangan: rakyat (yang murni) dan para elit (yang korup).

Kedua, politik harus menyalurkan kehendak yang dimiliki rakyat.

Pemimpin populis meyakini bahwa mereka sejatinya adalah representasi kehendak rakyat dan karenanya, mereka dapat mewakili rakyat dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Karena populisme hakikatnya adalah ideologi politik yang tipis, dan dapat dikombinasikan dengan ideologi politik kiri atau kanan, pemimpin jenis ini hadir dalam berbagai variasi.

Mereka dapat membangun wacana dengan mengidentifikasi ancaman sosial-budaya seperti isu pendatang, atau membangun narasi isolasi ekonomi atas asumsi bahwa globalisasi adalah ancaman sosial-ekonomi.

Kami melihat bahwa di hampir semua spektrum politik, kepemimpinan populis memiliki sifat-sifat umum yang sama dalam menghadapi Covid-19: bias optimisme dan rasa puas diri, ambigu, dan anti-sains. Sifat-sifat ini membuat mereka tidak mampu memimpin dalam situasi krisis.

Saat ini negara adikuasa Amerika Serikat (AS) dipimpin oleh seorang populis dan cenderung kembali kepada kebijakan-kebijakan menutup diri. Situasi ini menempatkan keamanan kesehatan global dalam pertaruhan.

Merosotnya kepemimpinan AS di bawah Presiden Donald Trump telah menggerogoti pengelolaan pandemi dan membuat seluruh dunia dalam risiko.

1. Bias optimisme

Kita berharap bahwa pemimpin kita mampu mengantisipasi krisis lewat pemahaman dan tindakan yang dilakukan secara tepat.

Sayangnya, dalam pandemi ini, para pemimpin populis memiliki optimisme yang berlebihan dalam menilai kemampuan mereka merespons krisis.

Pemimpin jenis ini umumnya rentan terhadap rasa puas diri dan menunda-nunda (complacency), yang merupakan bentuk bias kognitif yang membuat seseorang percaya bahwa mereka memiliki kemungkinan kecil terkena masalah dibandingkan orang lain.

Ketika berbagai berita terkait Covid-19 di Tiongkok membanjiri layar kaca dan media sosial pada Januari, Trump di AS, Perdana Menteri Boris Johnson di Inggris dan Presiden Joko Widodo di Indonesia sangat optimistis dan cenderung naif berpikir bahwa semua akan baik-baik saja dan yakin wabah tidak akan menghantam negara mereka.

Kendati memiliki kapasitas luar biasa besar, pemerintahan Trump menunda respon terhadap wabah. Dia gagal mempersiapkan kebijakan fiskal, alokasi sumber daya, dan logistik, serta gagal mengambil langkah keimigrasian yang perlu pada Januari dan Februari. Akibat kelalaiannya, saat ini AS menjadi negara dengan kasus kematian tertinggi di dunia.

Jokowi praktis menganggap remeh peringatan-peringatan sejak awal mula wabah, serta menunda penyiapan sistem kesehatan secara menyeluruh termasuk mempersiapkan fasilitas uji kesehatan sejak dini. Akibatnya, Indonesia kini memiliki tingkat kematian tertinggi di dunia (di atas 8%).

Sebaliknya, pemerintahan seperti di Jerman, Kanada maupun Selandia Baru, bertindak lebih cepat. Jerman menerapkan kebijakan tes secara agresif (160.000 tes per minggu) dan mampu menemukan kasus lebih awal. Jerman saat ini memiliki tingkat kematian pada level 1,6%.

Strategi tes skala luas juga diterapkan di Kanada dan hal ini membantu Kanada menahan laju kematian pada angka 1,8%. Sedangkan Selandia Baru secara konsisten meningkatkan tes cepat dan menjaga tingkat kematian jauh di bawah 1%.

2. Kepemimpinan yang ambigu

Pemimpin populis seperti Trump atau Jair Bolsonaro di Brasil, cenderung memobilisasi berita bohong dan misinformasi dalam kampanye mereka.

Mereka tidak memiliki kemampuan menggunakan data dalam strategi kebijakan publik mereka. Pengabaian atas sains dan ilmu pengetahuan membuat mereka sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah pada saat yang genting.

Sayangnya, saat malapetaka terjadi, sikap ambigu mereka makin menjadi-jadi.

Ketimbang menunjukkan komitmen pada bukti dan mendengar para ahli, Trump mengalihkan perhatian rakyatnya pada simbol-simbol agama – misal, Trump justru mengumumkan hari doa nasional pada 15 Maret lalu.

Hal serupa terjadi juga di Indonesia. Pemimpin kita mengambil alih peran alim-ulama untuk menenangkan rakyat lewat doa dan narasi keagamaan, namun pada saat yang sama menunda upaya-upaya penanggulangan epidemi.

Indonesia terlambat merespon sedikitnya 45 hari sejak lockdown di Wuhan, Cina.

Bolsonaro di Brasil menganggap Covid-19 “cuma flu”, “trik media” dan malah menuduh media melakukan “kampanye konyol” dengan maksud melengserkan dia.

3. Anti-sains

Pemerintahan populis sering memiliki pendekatannya yang cenderung “membungkam” sains dan ilmu pengetahuan. Hal ini karena kebijakan berbasis bukti tidak selaras dan sepadan dengan pendekatan pemimpin populis dalam merumuskan kebijakan publik.

Penelitian menunjukan bahwa pemerintah populis cenderung menegasikan dan menyangkal sains terutama dalam isu-isu kompleks, termasuk kesehatan dan lingkungan, karena kepentingan ekonomi dan politik yang mengakar kuat.

Di Indonesia, pemerintah cenderung menghambat suara penelitian dan peneliti dengan tujuan melindungi agenda ekonomi dan politik di atas keselamatan rakyat. Hal ini membuat Jokowi bertentangan dengan suara para ilmuwan.

Dalam pandemi global seperti COVID-19, pemimpin populis seperti Trump terus bimbang untuk mengganti arah, mendengarkan apa kata ilmu pengetahuan, dan merelakan ilmu pengetahuan menuntun keputusan-keputusan krusial pemerintah dalam krisis COVID-19.

Ketika pemimpin seperti ini akhirnya menyadari masalah sebenarnya, rakyat kemudian dikorbankan dalam kebijakan ekstrem. Karena terlambat membalik arah kebijakan, mereka kemudian akan terjebak pilihan menerapkan kebijakan tangan besi.

Akibat menunda aksi dalam membatasi wabah, pemerintah Italia – yang terbentuk atas koalisi rapuh antara gerakan anti kemapanan Five Star Movement dan Democratic Party (yang kiri-tengah) – menyaksikan kasus kematian meningkat drastis. Italia lalu menerapkan pembatasan maksimum, yang melibatkan polisi and militer.

Merosotnya kepemimpinan AS di tingkat global

Dengan seorang pemimpin populis di pucuk pemerintahan AS, dunia melihat kepemimpinan AS di tingkat global semakin merosot termasuk sektor kesehatan.

Ini tidak seperti yang terlihat pada tahun 2014 ketika krisis Ebola menghantam Afrika Barat. Saat itu kepemimpinan AS di bawah Presiden Barack Obama dianggap berperan sangat penting dalam terhadap respon Ebola dengan alokasi dana 2.4 miliar dolar AS (sekitar Rp 38 triliun); ini sebuah kualitas kepemimpinan yang hilang dari krisis global saat ini.

Baru-baru ini AS mengumumkan paket stimulus sebesar 2 triliun dolar (Rp 32.000 triliun) dalam menyelamatkan ekonomi negeri Paman Sam. Namun pendanaan global untuk Covid-19 melalui Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) cenderung rendah: 37 juta dolar AS. Yang ditakuti kemudian adalah dana ini adalah hasil realokasi dari proyek-proyek penting seperti Global Fund dalam memerangi HIV, TBC, dan malaria.

Banyak pengamat termasuk akademisi mungkin percaya bahwa AS adalah rumah bagi institusi-institusi penting seperti Centers for Disease Control and Prevention yang dapat menginspirasi kepemimpinan global dalam menghadapi dan mengelola pandemi saat ini.

Tapi memiliki kapasitas yang luar biasa besar tidak serta-merta bermuara pada ketangguhan karena kepemimpinan yang lemah membawa lembaga dan rakyat ke arah yang berlawanan. Trump gagal dalam menegakkan nilai bahwa nyawa lebih penting dari ekonomi.

Lemahnya kepemimpinan AS kemudian berakibat pada ketiadaan kepemimpinan global. Hal ini berdampak pada ketidaksiapan dunia dalam menata kelola keamanan kesehatan global pada masa depan.

Pemimpin populis akan mengeksploitasi pandemi?

Pemimpin populis memiliki kemampuan “memancing di air keruh” dengan memanfaatkan krisis untuk keuntungan politik sebagaimana terlihat dalam naiknya approval rating Trump beberapa waktu lalu.

Dengan ketidakpastian pengetahuan seputar Covid-19, pemimpin populis dengan mudah mendiskreditkan lawan progresif dengan menciptakan narasi-narasi yang ambigu dan berusaha dalam membesarkan narasi-narasi yang diskriminatif.

Di tengah risiko resesi, para pemilik suara (voters) di dunia sudah seharusnya mencegah naiknya pemimpin populis.

Para pemilik suara perlu memahami bahwa taktik pemimpin-pemimpin ini memecah-belah publik sambil menciptakan ketidakpercayaan pada institusi publik yang ada yang justru lebih mungkin memiliki solusi efektif.

Artikel ini sebelumnya sudah tayang di The Conversation.

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya

Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:49 WIB

Perang Klaim AS-Iran: Teheran Tepis Kabar Damai yang Digagas Trump

Perang Klaim AS-Iran: Teheran Tepis Kabar Damai yang Digagas Trump

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 16:56 WIB

15 Butir Rencana Damai Trump: Apa Saja Isinya dan Mengapa Iran Menolak?

15 Butir Rencana Damai Trump: Apa Saja Isinya dan Mengapa Iran Menolak?

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 13:26 WIB

Blusukan Prabowo ke Bantaran Rel Senen Dinilai Lebih Spontan, Pengamat Bandingkan dengan Gaya Jokowi

Blusukan Prabowo ke Bantaran Rel Senen Dinilai Lebih Spontan, Pengamat Bandingkan dengan Gaya Jokowi

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 10:41 WIB

Israel Ketakutan AS-Iran Sepakat Damai, Tel Aviv Nekat Siapkan Serangan Darurat

Israel Ketakutan AS-Iran Sepakat Damai, Tel Aviv Nekat Siapkan Serangan Darurat

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 09:48 WIB

Intelejen Israel Bawa Kabar Buruk, Ambisi Trump dan Netanyahu Kuasai Iran Diprediksi Kandas

Intelejen Israel Bawa Kabar Buruk, Ambisi Trump dan Netanyahu Kuasai Iran Diprediksi Kandas

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 09:32 WIB

Ketegangan Perang Reda, Harga Minyak Dunia Turun Tipis

Ketegangan Perang Reda, Harga Minyak Dunia Turun Tipis

Bisnis | Jum'at, 27 Maret 2026 | 08:36 WIB

Donald Trump Geram, Larang Iran Pungut Biaya dari Kapal Dagang Selat Hormuz

Donald Trump Geram, Larang Iran Pungut Biaya dari Kapal Dagang Selat Hormuz

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 08:15 WIB

Senator AS Curigai Trump di Kasus Trader Misterius yang Raup Rp800 M dalam 15 Menit

Senator AS Curigai Trump di Kasus Trader Misterius yang Raup Rp800 M dalam 15 Menit

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 20:46 WIB

Donald Trump Blokade Minyak Kuba, Raul Castro Turun Gunung

Donald Trump Blokade Minyak Kuba, Raul Castro Turun Gunung

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 20:19 WIB

Terkini

5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!

5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!

Tekno | Minggu, 29 Maret 2026 | 12:45 WIB

4 HP RAM 12 GB Termurah di Bawah Rp3 Juta Akhir Maret 2026, Juara Gaming dan Multitasking!

4 HP RAM 12 GB Termurah di Bawah Rp3 Juta Akhir Maret 2026, Juara Gaming dan Multitasking!

Tekno | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:10 WIB

5 Rekomendasi Tablet Termurah di 2026 untuk Multitasking, Harga Mulai Rp1 Jutaan

5 Rekomendasi Tablet Termurah di 2026 untuk Multitasking, Harga Mulai Rp1 Jutaan

Tekno | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:10 WIB

5 Smartwatch Murah Terbaik Rp200 Ribuan, Bisa Cek WA dan Pantau Kesehatan

5 Smartwatch Murah Terbaik Rp200 Ribuan, Bisa Cek WA dan Pantau Kesehatan

Tekno | Minggu, 29 Maret 2026 | 08:05 WIB

36 Kode Redeem FF 29 Maret 2026, Trik Murah SG2 Lumut dan Bocoran Evo Bundle April

36 Kode Redeem FF 29 Maret 2026, Trik Murah SG2 Lumut dan Bocoran Evo Bundle April

Tekno | Minggu, 29 Maret 2026 | 07:45 WIB

30 Kode Redeem FC Mobile 29 Maret 2026: Sambut TOTS April, Klaim Pemain Bintang Gratis

30 Kode Redeem FC Mobile 29 Maret 2026: Sambut TOTS April, Klaim Pemain Bintang Gratis

Tekno | Minggu, 29 Maret 2026 | 07:32 WIB

Terpopuler: Baru 2 Platform Patuhi PP Tunas, Pilihan HP Android yang Terbukti Awet

Terpopuler: Baru 2 Platform Patuhi PP Tunas, Pilihan HP Android yang Terbukti Awet

Tekno | Minggu, 29 Maret 2026 | 06:05 WIB

Bocoran iPhone 18 Terbaru: Semua Model Dapat Dynamic Island Lebih Kecil, Ini Detailnya

Bocoran iPhone 18 Terbaru: Semua Model Dapat Dynamic Island Lebih Kecil, Ini Detailnya

Tekno | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:00 WIB

Teaser Honor 600 Series Beredar: Desain Mirip iPhone, Pakai Chip Snapdragon

Teaser Honor 600 Series Beredar: Desain Mirip iPhone, Pakai Chip Snapdragon

Tekno | Sabtu, 28 Maret 2026 | 18:26 WIB

65 Kode Redeem FF Max Aktif 28 Maret 2026: Raih Diamond, Bundel Panther, dan Skin Angelic

65 Kode Redeem FF Max Aktif 28 Maret 2026: Raih Diamond, Bundel Panther, dan Skin Angelic

Tekno | Sabtu, 28 Maret 2026 | 18:20 WIB