- Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menyatakan kecerdasan buatan memicu produksi misinformasi masif di Jakarta pada Jumat.
- Kementerian Komdigi berencana menemui Kementerian Kesehatan guna menangani peredaran informasi kesehatan menyesatkan di masyarakat.
- Nezar Patria menilai literasi digital masyarakat harus meningkat agar mampu menghadapi risiko konten palsu.
Suara.com - Perkembangan artificial intelligence (AI) tidak hanya membuat pekerjaan manusia semakin mudah.
Teknologi ini juga membuat produksi misinformasi dan disinformasi semakin masif, termasuk melalui konten deepfake yang sulit dibedakan dari kenyataan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria mengatakan, masyarakat kini menghadapi tantangan baru karena AI mampu membuat konten palsu terlihat semakin meyakinkan.
Menurutnya, kemampuan tersebut membuat batas antara informasi yang autentik dengan realitas palsu semakin sulit dikenali.
“Penggunaan AI di dalam komunikasi misalnya, produksi misinformasi dan disinformasi sangat masif menggunakan AI deepfake,” kata Nezar dalam The 5 IABC Indonesia Conference & Awards | 2026, dengan tema “Driving Communications Impact: Building Trust in the Age of AI” di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat banyak pengguna smartphone maupun perangkat digital kewalahan ketika harus membedakan informasi yang benar-benar menggambarkan kenyataan dengan konten yang telah dibuat menggunakan AI.
“Untuk membedakan mana realitas yang sebenarnya, mana yang realitas yang fake atau yang palsu. Karena dengan AI, batas itu jadi blur,” ujarnya.
Bukan Cuma Soal Video Deepfake
Menurut Nezar, persoalan misinformasi dan disinformasi tidak berhenti pada konten deepfake. Informasi menyesatkan juga dapat muncul dalam berbagai isu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah informasi kesehatan. Nezar mencontohkan informasi yang menyebut pasien stroke perlu ditangani dengan cara menusuk telinga menggunakan jarum agar darah keluar.
Menurutnya, masyarakat seharusnya tidak membuang waktu untuk melakukan tindakan yang belum teruji secara klinis. Pasalnya, pasien stroke memiliki golden time yang penting untuk mendapatkan penanganan.
“Jangan biarkan golden time ini terbuang dengan sesuatu yang tidak teruji secara klinis,” kata Nezar.
Nezar mengatakan, persoalan seperti ini perlu menjadi perhatian dalam upaya menangani misinformasi dan disinformasi.
Komdigi, kata dia, juga akan bertemu dengan Kementerian Kesehatan untuk membahas penanganan informasi menyesatkan di sektor kesehatan.
Literasi Digital Harus Naik Kelas
Di tengah perkembangan AI yang begitu cepat, Nezar menilai literasi digital masyarakat juga harus ikut berkembang.

Menurutnya, literasi digital yang selama ini dilakukan tidak cukup hanya memberikan pemahaman mengenai cara menggunakan smartphone dan masuk ke dunia digital.
Masyarakat juga perlu memahami risiko yang muncul dari perkembangan teknologi.
“Literasi digital atau digital literasi yang sudah hampir 10 tahun kita laksanakan, saya kira harus naik kelasnya,” ujar Nezar.
Ia menilai, masyarakat perlu mendapat pemahaman yang lebih dalam mengenai risiko penggunaan teknologi, terutama karena AI membuat konten palsu semakin sulit dikenali.
Kelompok yang rentan pun cukup luas. Nezar menyebut anak-anak, orang tua, hingga masyarakat usia produktif dapat menjadi korban AI deepfake.
Bahkan Orang yang Ahli Bisa Terkecoh
Tantangan lain muncul karena AI mampu menghasilkan apa yang disebut Nezar sebagai synthetic reality atau realitas buatan.
AI dapat digunakan untuk memproduksi berbagai macam konten yang membuat masyarakat semakin bingung menentukan mana informasi yang autentik dan mana yang palsu.
“Paradoksnya adalah yang buat kekacauan informasi ini adalah juga AI,” katanya.
Nezar bahkan mengingatkan bahwa konten yang dihasilkan AI tidak selalu mudah dikenali oleh orang yang memahami teknologi.

“Bahkan yang sangat expert sekalipun kadang-kadang terkecoh dengan produk-produk AI ini,” ujarnya.
Karena itu, persoalan AI tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat teknologi tersebut berkembang, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu menghadapinya.
Menurut Nezar, ketika AI digunakan untuk berbagai kebutuhan publik, aspek trust menjadi hal yang penting. Teknologi yang digunakan masyarakat harus dibangun dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kepercayaan.
Di tengah derasnya perkembangan AI, kemampuan masyarakat memahami risiko informasi menjadi semakin penting.
Sebab, ketika batas antara realitas dan konten buatan AI semakin tipis, literasi digital menjadi salah satu bekal untuk menghadapi banjir informasi di ruang digital.