Ridlwan Habib: Peta Baru Jaringan Teroris Indonesia, Hingga Dunia

Pebriansyah Ariefana
Ridlwan Habib: Peta Baru Jaringan Teroris Indonesia, Hingga Dunia
Pakar Intelijen dan Terorisme, Ridlwan Habib. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Waspada serangan kelompok pro Al Qaeda.

Al Qaeda terbelah menjadi pro ISIS dan tidak pro ISIS, apa yang mereka rebutkan?

Sumber daya. ISIS itu menguasai minyak illegal di Suriah. Dia menguasai perdagangan senjata gelap di situ yang dugaannya dari Rusia. Dia menguasai perdagangan orang, jalur narkoba di Suriah. Karena Al Qaeda setelah kematian Osama, terpukul. Mundur, membangun basis dari awal dan mengembalikan kejayaan Al Qaeda.

Jangan lupa, Al Qaeda itu pembentukannya berbeda sekali dengan ISIS. ISIS itu jelas, satu negara yang anggotanya datang dari berbagai negara. Kalau Al Qaeda itu, satu kelompok yang ada di semua negara.

Mengapa ISIS meluaskan jaringan ke Indonesia?

Ini kaitannya dengan menunaikan perintah dari sel ISIS pusat. Sebelum teror Prancis, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan berahasil mengepung ISIS dan mereka tidak bisa keluar dari Irak dan Suriah. Tampaknya, pimpinan ISIS di Suriah itu terpancing, lantas dia menyiapkan serangan dadakan ke Prancis dan Afrika.

Seluruh jaringan ISIS ada di dunia, agar mereka menyerng target dengan apapun yang merek punya. Kalau punya bom, yah ledakan bom. Ini yang menginspirasi sel ISIS di Indonesia untuk melakukan itu. Mereka masih menanggap polisi dan pemerintah itu thogut.

Di berbagai negara ISIS selalu mengklaim jika serangan yang terjadi di sana adalah hasil ulah mereka. Sejauhmana kita bisa percaya klaim itu benar?

ISIS itu karakternya harus mengklaim, karena bagi mereka klaim itu meningkatkan reputasi secara internasional. Soal apakah di akhir kemudian itu dibantah, itu persoalan lain. Itu strategi, siapa yang lebih cepat melakukan sesuatu, dia yang bisa mendapatkan akreditasi baik. Itu dari kalangan militan, mujahidin dan lain-lain.

Deradikalisasi dinilai gagal cegah terorisme di Indonesia. Pandangan Anda seperti apa?

Saya tidak bilang gagal total, tapi sebagian orang yang tidak berhasil dideradikalisasi itu justru menjadi ideolog yang berbahaya. Mereka menarik kader di penjara dan menyebar virus ke luar masyarakat. Tapi ada juga yang berhasil. Mereka berjualan berbagai hal. Tapi itu hanya beberapa, bagaimana yang hilag setelah bebas murni?

Seperti Afif (terduga teroris bom Sarinah), begitu keluar tidak ada yang ‘menempel’ mereka. Tahunya jadi pelaku. Densus punya database, tapi kalau sudah berubah mau cari di mana?

Untu melacak orang ini kan harus menempel dan mengikuti ke mana pun orang itu peprgi. Berapa sumber daya intelijen kita? Sanggup nggak menempel mantan terpidana sampai 24 jam? Jadi jangan semata-mata menyalahkan intelnya juga.

Bahkan di dalam penjara, sipir nggak berani mendekat ke terpidana teroris. Sipir diancam dibunuh, bahkan ancamannya bunuh keluarga. Mereka yang dipenjara itu punya orang di luar. Aman Abdurrahman, orang yang mampu memerintah orang di luar sel.

Tahun 2010, Aman Abdurrahman ini bisa mengkader seseorang deserter Angkatan Darat, Yuli Harsono. Dia menjadi pembunuh berdarah dingin dan membunuh 3 polisi di Purworejo. Yuli mati ditembak Densus di Klaten.

Jadi Ustad Aman ini bisa mengkader orang. Mulai prajurit TNI, perampok, ahli hacker, itu bahaya. Kasus yang Yuli Harsono, Aman bertemu langsung saat sama-sama dipenjara di LP Sukamiskin, Bandung 2004-2008.

Ada juga yang cuma dengan membaca tulisan Ustad Aman, ikut langsung. Contohnya Santoso. Menurut saya, media perlu mengejar Dirjen Lapas, mengapa bisa bolong begitu? Mempengaruhi orang bisa lewat penjara.

Menurut Anda bagaimana solusi agar mereka tidak bisa mempengaruhi lewat ideologi dari penjara?

Ada hal yang namanya isolasi humanis. Napi teroris harus di klasifikasi, yang mau tobat dan tidak. Kalau yang nggak mau tobat, mereka harus masuk isolasi humanis. Jadi satu sel isinya untuk satu orang. Di sel itu mereka masih bisa salat, makan, minum dan mendapatkan hak-haknya. Fisiknya pun nggak ada penyiksaan, dan tetap diberikan buku.

Tapi akses ke dunia luar ditutup total. Boleh ada pembesuk, tapi periksa ketat. Tidak boleh ada perekam, kertas dan pulpen. Jangan juga ada internet dalam penjara. Karena Ustad Aman memuji teror Prancis lewat internet di Nusakambangan. Internetnya pakai apa itu? Mungkin satelit.

Negara mana yang menerapkan isolasi humanis seperti itu?

Tidak ada, ini ide saya sendiri. Karena teroris semakin ditekan, semakin kuat.

UU Terorisme didesak untuk direvisi, menurut Anda bagian mana yang harus direvisi?

Ustad Aman 2 tahun lagi bebas dan kita tidak ada dalih UU lain untuk menangkapnya. Menyebarkan ajaran ISIS misal, apa UU yang bisa menjerat dia? Bahkan mengirim orang ke Suriah itu tidak ada UU-nya.

Bagianmana yang direvisi? Aku dalam konteks pembinaan di penjara, kan belum ada di UU. Misal, sipir ini kan tidak boleh memaksa. Misal ada seminar di Lapas, sipir tidak bisa memaksa napi ikut seminar. Bagiamana nantinya ada mekanisme, sipir bisa memaksa napi untuk datang.

Kedua, misal penyebaran paham ideologi pro ISIS. Defisini harus jelas. Misal bunyinya, “barang siapa menyebarkan ideologi yang mempercayai ada gerakan ISIS di dunia maka akan dikaitkan dengan pasal makar pasal sekian dengan hukuman 20 tahun penjara”.

Dengan peta baru jaringan teroris ini, apakah ‘surga’ masih menjadi iming-iming mereka untuk merekrut anggota baru?

Ada 3 hal. Pertama pencarian jati diri. Usia 22-30 tahun itu kan masa rawan untuk pencarian jati diri. Di satu sisi dia mencari jawaban apa sih tanggungjawab dia di muka Tuhan? Ada di antara mereka bertemunya dengan kajian Ustad Aman, jika Anda ditugaskan Tuhan untuk menjadi kalifah.

Ada seorang anak pensinan BUMN. Ayahnya kaya sekali. Dia dulu mengadakan pengajian di Ciwidey, Bandung. Dia punya bisnis baju. Begitu kenal yang namanya ideologi ISIS, dia tinggalkan itu semua dan anaknya ikut untuk hijrah ke Suriah sampai sekarang. Motif dia bukan untuk alasan ekonomi, dia sudah kaya. Ini faktor ideologi, faktor galau.

Saya pernah bertemu bebas dengan Ustad Aman. Dia memang sangat lihai dalam mengubah hati seseorang, retoris dan pintar meyakin kan orang.

Kedua, faktor depresi sosial. Mantan napi teror ketika keluar dia berhadapan di situasi masyarakat yang tidak bisa menerima. Dia tidak punya masyarakat yang membantu. Negara pun tidak mempunyai program sistematis yang khusus mewadahi mantan napi teroris. Setelah mereka keluar penjara, yah keluar saja. Dalam situasi itu, mereka akan kembali ke kawan lama untuk hidup. Kawan lama itu yang bergabung dengan pro ISIS.

Ketiga, alasan murni ekonomi.Dia mendapatkan iming-iming dapat gaji. Tapi begitu ke sana kan banyak juga yang kecewa.

ISIS dikabarkan hasil bentukan lembaga intelijen asing. Bagaimana analisa Anda?

Kalau itu harus dibuktikan secara fakta. Tidak bisa dianalisa dari luar, harus dari dalam. Harus ada orang yang masuk ke dalam ISIS dan menyelidiki. Selama ini nggak ada. Kedua, sejarah Abu Bakr al-Baghdadi itu kenal dengan Al Qaeda. Dia bukan tiba-tiba langsung ISIS. Saya meyakini ISIS bukan bentukan intelijen.

Pascaserangan ISIS di Sarinah, apakah yang harus diwaspadai?

Kalau saya justru selanjutnya mengkhawatirkan ancama dari sel Al Qaeda. Karena ISIS sudah menyerang. Prinsipnya, kalau mereka sudah melakukan serangan harus putus selnya setelah itu. Tiarap, menyembunyikan diri, mengkonsolidasi jaringan.

Yang saya khawatirkan serangan tiba-tiba dari sel Al Qaeda. Sekarang aparat keamanan ini kan memburu jaringan bom Sarinah Thamrin. Nah, kelompok lain yang sedang mengkonsolidasikan diri ini merasa perlu melakukan serangan saingan.

Seperti apa sumber pendanaan terorisme saat ini?

Mereka membobol situs IT. Lalu dengan cara melakukan perampokan atau kriminal biasa yang digunakan untuk pembiayaan mereka. Kemudian sumbangan, mereka biasa jadi tidak tahu yang diberikan sumbangan itu adalah untuk jaringan itu. Kedoknya untuk sumbangan jaringan Suriah.

Tapi ini tidak semua seperti itu. Jangan sampai kita berpikiran semua sumbangan Suriah ini untuk ISIS, nggak begitu. Ada juga yang benar-benar untuk kemanusiaan. Tapi ada oknum yang diselewengkan. Ada yang face to face bertemu pengusaha muslim kaya, mengatakan akan berangkat ke Suriah untuk membantu.

Biografi Singkat Ridlwan Habib

Ridlwan Habib merupakan pakar intelijen dan terorisme dari Universitas Indonesia. Dia menyelesaikan S1 Hubungan Internasional di Universitas Gajah Mada. Lalu S2-nya diambil di Universitas Indonesia di bidang Kajian Stratejik Intelijen. Untuk menyelesaikan S2-nya, dia mempunyai bahasan tesis khusus terorisme di Indonesia. Tesisnya berisi soal kegagalan deradikalisasi dalam penjara. Dalam tesisnya, dia banyak mewawancarai mantan teroris yang sudah bebas dari penjara. Dia juga mengenal pentolan teroris nomor wahid, termasuk pentolan ISIS Indonesia, Aman Abdurrahman yang saat ini dipenjara di Nusakambangan.

Saat ini Ridlwan juga tergabung dalam Indonesia Intelligence Institute, sebuah lembaga yang didirikan sebagian alumni S2 Kajian Stratejik Intelijen dan S2 Kajian Terorisme Universitas Indonesia. Dia sebagai Koordinator Eksekutif Indonesia Intelligence Institute. Lembaga ini bertujuan memberikan pemahaman pendidikan dan sosialisasi disiplim ilmu intelijen secara akademis. Lembaga ini juga rutin melakukan penelitian, riset, pelatihan dan konsultasi terkait disiplin ilmu intelijen.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS