Widodo Budiharto: Profesor Kecerdasan Buatan dan Robot Masa Depan - Bagian 1

Pebriansyah Ariefana
Widodo Budiharto: Profesor Kecerdasan Buatan dan Robot Masa Depan
Profesor Kecerdasan Buatan Universitas Binus, Widodo Budiharto. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Kecerdasan buatan di Indonesia sudah mulai berkembang.

Suara.com - Dalam dua bulan terakhir, dunia dikejutkan dengan dua peristiwa terkait perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Kabar mengejutkan itu datang dari Turki dan Uni Emirat Arab.

Di UEA, salah satu negara paling modern di dunia ini menunjuk menteri kecerdasan buatan Oktober lalu. Di adalah Omar Bin Sultan Al Olama, lelaki berusia 27 tahun. Menteri ini dibuat karena UEA ambisius menjadi yang terdepan dalam revolusi teknologi global. Selain itu UEA ingin ambil bagian dalam misi ke Mars.

Sebulan kemudian, Turki mendirikan pabrik pertama yang memproduksi robot mirip manusia. Pabrik itu bernama AkinRobotics Factory dan didirikan perusahaan peranti lunak Akinsoft. Mereka ingin membuat robot dengan massal. Robot-robot akan dapat memproses apa yang mereka dengar, katakan, cium serta menggunakan internet. Modal yang mereka tanamkan tidak kecil, Rp69,4 miliar untuk mendanai proyek robot.

Dua peristiwa itu, dinilai sebagai bukti jika kecerdasan buatan saat ini bukan hanya teori dan ambisi manusia semata. Berbagai negara sudah berlomba membuat teknologi yang menggunakan sistem kecerdasan buatan. Bagaimana Indonesia?

Di Indonesia, masih sedikit ilmuwan yang fokus mengembangkan teknologi bersistem kecerdasan buatan. Dari sedikit ilmuwan itu, ada nama Widodo Budiharto. Ilmuwan pembuat robot itu baru diangkat menjadi profesor Universitas Binus.

“Di Indonesia, kabar perkembangan teknologi kecerdasan buatan masih sepi dari isu publik,” kata Widodo.

Di Indonesia, hanya ada 3 profesor di bidang kecerdasan buatan. Ketiga orang itu memang fokus mengembangkan teknologi itu. Widodo jadi orang nomor 3 yang menjadi profesor kecerdasan buatan, di juga yang paling muda.

Salah satu ciptaan lelaki 40 tahun itu adalah kursi roda yang dijalankan dengan pikiran. Kursi roda itu sudah ada, dan teknologinya tinggal diterapkan di level industri. Dia bekerjasama dengan ilmuwan lain dalam penciptaan kursi roda itu.

Menurut Widodo, kecerdasan buatan di Indonesia sudah mulai berkembang. Tinggal negara, melalui pemerintah, melirik peluang ini. Jika tidak direspon dalam waktu 5 sampai 10 tahun lagi, Indonesia akan tertinggal.

Suara.com menemui Widodo di ‘bengkel’ robotnya di Universitas Binus Jakarta belum lama ini. Widodo banyak cerita tentang pekembangan teknologi kecerdasan buatan di dunia dan Indonesia. Dia juga cerita soal beberapa penemuan hebatnya.

Berikut wawancaranya:

Sejauhmana perkembangan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia?

Kecerdasan buatan yang mulai dipopuierkan istilahnya di tahun 1958, adalah suatu sistem berbasis komputer yang mampu menduplikasi kemampuan manusia yaitu berpikir dan mencan sebab. Proses berpikir tersebut mengacu pada teknologi jaringan saraf yang berusaha menyimulasi secara elektronik bagaimana otak memproses informasi melalui jaringan saraf-saraf yang saling terhubung untuk menyeiesaikan tugas yang diberikan.

Sistem berbasis komputer tersebut akan menjadi cerdas setelah diberikan sejumlah data pembelajaran dan dilatih. Komputer yang cerdas akan mampu mencari solusi dari masalah yang ada termasuk di antaranya kemampuan melakukan klasikasi

Istilah kecerdasan buatan sudah diusulkan tahun 1958 di Amerika Serikat oleh John McCarthy. Dia adalah ‘Bapak Kecerdasan Buatan’ di dunia. Prinsipnya, kecerdasan buatan merupakan sistem berbasis komputer yang mampu meniru perilaku manusia.

Jika dalam program komputer itu mampu menirukan yang dilakukan manusia, itu dikategorikan sebagai keceradasan buatan. Mulai dari mengenal wajah, bahkan melakuka hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia normal.

Di ponsel pintar, saat ini sudah dipasang kecerdasan buatan, seperti pemindai sidik jari sampai mengubah suara menjadi teks pesan.  Hal lain yang sudah terjadi, ada robot yang bisa mengantarkan minuman dan makanan kepada si pemesan. Robot itu bisa mengenal wajah si pemesan makanan dan minuman itu.

Saat ini kecerdasan buatan sudah sangat maju di dunia, di Indonesia sudah banyak yang senang mempelajari kecerdasan buatan. Piranti-piranti yang menggunakan kecerdasan buatan pun sudah banyak, tidak hanya di smartphone. Misal di perbankan, deteksi kebohongan sampai aplikasi ke mesin di Indusri. Saat ini terus berkembang.

Apakah penerapan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia sudah mendesak?

Teknologi kecerdasan buatan sangat dibutuhkan di masa depan. Bahkan saat ini sebuah perusahaan tanpa komputer dan internet, maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Saya memprediksi 5-10 tahun mendatang, perusahaan yang tidak menerapkan mesin learning atau komputer pintar tidak bisa bersaing dalam berbisnis.

Sebab dengan komputer pintar, akan punya kelebihan. Salah satunya efisiensi tenaga kerja. Selain itu dengan mesin ini prosesnya akurat dan cepat.

Di belahan negara maju, saat ini sudah banyak self company, sebuah perusahaan yang dijalankan dengan mesin learning. Sehingga tidak ada pegawai, sistemnya sudah terprogram. Di perbankan sudah ada sistem robotic process automation (RPA) yang memungkinkan menjalankan fungsi pengecekan dokumen pinjaman mulai dari pengisian data sampai persetujuan. Bayangkan, berapa jumlah tenaga kerja yang diminimalisasikan dari situ.

Ke depan, penerapan irtificial intelegence yang paling jelas adalah sistem robot. Di masa depan, manusia akan bekerja bersama robot. Bahkan manusia akan berinteransi denga robot, ini akan jadi hal biasa dan tidak bisa dihindari.

Kecerdasan buatan nantinya memiliki peranan sangat vital di dalam mewujudkan kehidupan yang memudahkan umat manusia. Tahun 2018, sebesar 45 persen dari 200 perusahaan ecommerce global akan menggunakan sistem robotiknya untuk pengoperasian sistem warehousing dan pengiriman barang.

Selain dari itu, exoskeletons dan drone merupakan robot masa depan yang sangat dibutuhkan. Kecerdasan buatan ini berfokus pada studi, bagaimana otak manusia berpikir, dan bagaimana manusia belajar, memutuskan sesuatu dan bekerja mengatasi masalah yang ada. Apakah bisa sebuah mesin cerdas berpikir dan berlaku seperti layaknya manusia? Jawabannya iya, karena tren teknologi saat ini seperti yang saya jelaskan tadi.

Tidak dapat dipungkiri lagi, ilmu kecerdasan buatan sangat dibutuhkan bagi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia. Sebagai langkah utamanya mengenal dan menguasai machine learning.

Riset yang lebih fokus dan mendalam saya sarankan di bidang computer vision dan deep learning. Beberapa topik yang perlu diperdalam dan dikuasai oleh Indonesia dan diperkuat dengan metode dan model probabilistik seperti deep learning, robot vision, big data, information Retrieval serta Natural Language Processing (NLP) untuk dapat berinovasi dan menghasilkan berbagai aplikasi cerdas dan handal yang dibutuhkan di masa kini dan masa depan.

Mengapa pengembangan teknologi kecerdasan di Indonesia masih jarang?

Karena ini adalah puncak perkembangan teknologi. Ini puncak bidang ilmu yang sangat sulit karena menerapkan sistem cerdas yang menerapkan persamaan matematika. Sehingga yang mempelajarinya akan lebih sedikit. Butuh riset dan studi mendalam. Ini ilmu sulit.

Berapa orang yang mempelajari di Indonesia?

Sudah banyak, sebab bidang ilmu teknologi informatika sudah diaplikasikan ke bidang kecerdasan buatan. Ini baru terjadi beberapa tahun belakangan.

Anda salah satu profesor bidang ilmu kecerdasan buatan…

Pihak Universitas Binus mengajukan saya sebagai profesor di usia 39 tahun. Tapi disetujui saat saya usia 40 tahun. Saya profesor paling muda di sini.

Dan untuk di bidang ilmu komputer, tidak banyak mempunyai profesor. 

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

Selamat pagi, Selamat beraktivitas💪🏻
.
#quotesoftheday #suaradotcom #infojakarta #quotesindonesia #katakatabijak #newsflash #portaljakarta #selamatpagi

INFOGRAFIS