Sutrisna Wibawa: Media Sosial untuk Terapkan Kepemimpinan Partisipatif

Arsito Hidayatullah
Sutrisna Wibawa: Media Sosial untuk Terapkan Kepemimpinan Partisipatif
Rektor UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) Sutrisna Wibawa. [Instagram/screenshot]

Bagi Rektor UNY ini, komunikasi dengan mahasiswa dirasakan lebih cocok melalui bahasa-bahasa anak muda.

Suara.com - Seorang mahasiswi iseng mengirim pesan melalui jalur pribadi (direct message) di akun Instagram (IG) Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sutrisna Wibawa. Ia mengusulkan agar Dies Natalis ke-55 UNY diisi konser musik dan menghadirkan sejumlah musisi nasional seperti Tulus, RAN, HiVi, Maliq & d'Essentials, Raisa, atau Sheila on 7.

Pesan itu ditampilkan dalam tangkapan layar di IG story sang rektor. Sutrisna ingin menggalang sponsor untuk mewujudkan impian mahasiswinya. Uniknya, ia ingin konser itu dibayar dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).

Percakapan langka itu langsung ditangkap oleh warganet dan menjadi viral. Tak lama kemudian, Sutrisna mengumumkan bahwa konser itu terwujud dengan sponsor dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY.

Ketika ditanya lebih lanjut, Sutrisna mengaku sengaja menggunakan media sosial untuk menjaring aspirasi dan komunikasi yang lebih cair dengan mahasiswa. Berikut percakapan Suara.com dengan Rektor UNY Sutrisna Wibawa.

Konser berbayar IPK akhirnya terwujud. Bagaimana perkembangan terbaru?

Saya heran, dalam lima jam sejak kita buka, 7.500 tiket habis. Itu bukti bahwa mahasiswa itu dekat dengan teknologi informasi. Padahal kami umumkan di laman resmi UNY, lalu diposting di akun resmi IG UNY Official dan di IG saya. Banyak yang kecewa (tidak kebagian tiket), tapi hanya ada 7.500 tiket.

Yang IPK 3,75-4.00 ada 1,185 mahasiswa. IPK 3,5-3,74 ada 3.553 mahasiswa, yang 3,25-3,49 ada 2.042 mahasiswa, yang 3,00-3,4 ada 575 mahasiswa, yang IPK 2,75-2,90 hanya 149 mahasiswa. Saya membatasi hanya 2,75 dulu. Ternyata dengan batas 2,75 itu habis. Kita buat lelucon, yang lain live streaming, nanti kita pasang layar tancap misalnya. Ini kan memotivasi mahasiswa untuk berprestasi. Alumni juga banyak yang ingin menonton.

Ini luar biasa. Kalau melihat data itu, yang cum laude lebih dari separuh. Tinggal mengejar waktu, nanti kita tindak lanjuti melalui komunikasi berikutnya. Jadi, berkorelasi kan. Ini mendorong (peningkatan) IPK. IPK ini kan salah satu indikator keberhasilan. Bahkan dalam penerimaan pegawai, ada perusahaan yang menerima mahasiswa dengan IPK cum laude melalui jalur khusus.

Kenapa menggunakan media sosial?

Saya menggunakan media sosial sebagai salah satu cara untuk menerapkan kepemimpinan partisipatif. Karena untuk membuat transformasi harus partisipatif. Saya mendekati mahasiswa melalui bahasa-bahasa anak muda.

Kalau Anda lihat di media sosial saya kan bahasanya menggelitik. Orang Jawa bilang guyon parikena. Artinya, gojek (bersenda gurau) tapi mengena. Misalnya ketika Dies Natalis UNY ke-55. Ini kan monumental. Usulannya apa? Kemudian muncul (ide) konser itu, kemudian saya tanggapi. Tapi IPK-nya harus bagus. Itu kan sebenarnya guyon parikena. Saya ingin mahasiswa tidak sekadar mendapatkan hiburan, tapi juga menghargai prestasi mereka.

Kemudian bagaimana memberi inspirasi mahasiswa. Samsung saja sudah S10, (masa) mahasiswa S1 saja belum. Itu kan guyon parikena untuk mendorong mahasiswa menyelesaikan skripsi. Itu kan bahasa-bahasa anak muda, sehingga mahasiswa tidak tersinggung tapi merasa terpacu. Yang paling tinggi viewer-nya ya, yang Samsung itu, sampai 84 ribu. Itu paling tinggi dalam sejarah media sosial saya. Ternyata tidak hanya mahasiswa, dosen dan mahasiswa luar pun termotivasi. Jadi tidak hanya UNY, ada komunitas lain yang merasa terpacu.

Apa saja isi pesan mahasiswa ke DM Anda?

Sebelum (yang viral) itu, ada mahasiswa yang mengeluhkan di kosnya ada hantunya. Cerita itu kan muncul karena kedekatan. Yang terakhir, ada mahasiswa terkena demam berdarah. Itu langsung kita tindaklanjuti. Ada yang kehilangan uang atau barang, juga saya tindaklanjuti. Untuk kasus kehilangan, itu akan menunjukkan ke pencuri-pencuri juga, ternyata kampus memperhatikan. Inilah pendekatan komunikasi dua arah antara mahasiswa dengan tenaga pendidik, sehingga terbangun sinergi.

Akhir-akhir ini nampaknya mahasiswa lebih terbuka. Itu sesuai yang saya harapkan. Saya berpikir hubungan itu tidak harus formal. Banyak pesan dari media sosial yang saya tindaklanjuti. Misalnya mahasiswa mengeluhkan nilai yang belum keluar, dosennya dipanggil, keluar nilainya. Itu kan komunikasi yang efektif. Mungkin kalau bertemu saya, mahasiswa tidak berani. (Tapi) Dengan media sosial, mereka berani terbuka.

Tapi komunikasi di sosial media sering dianggap kurang sopan. Bagaimana menurut Anda?

Saya maklum, (namun) tidak menganggap itu tidak sopan. Itulah bahasa mahasiswa, itulah kedekatan dengan orangtua. Saya memandang secara positif. Kadang banyak orang bertanya, "Pak Tris, ini bagaimana sih mahasiswa enggak sopan?" Saya tidak memandang seperti itu. Dia kan hidup di era mahasiswa, kita dekati sesuai era mereka, supaya terbuka.

Teman-teman yang gemas itu mungkin berpikir, "Sama Rektor kok gitu?" Tapi ya, begitulah anak-anak, komunikasinya harus berbeda. Kalau komunikasi dosen dengan mahasiswa terjalin secara terbuka, kan enak. Kesulitan mahasiswa bisa diatasi, sehingga skripsi, tesis, disertasi, bisa cepat selesai. Bagaimanapun juga, hubungan antara anak dan orangtua pasti ada jarak. Tapi jangan terlalu dijadikan beban, harus dibangun kedekatan atau sinergi.

Prinsip kepemimpinan Anda seperti apa?

Filosofi kepemimpinan saya ada tiga. Pertama, transformatif. Kita harus berubah, baik pola pikir maupun budaya. Karena perkembangan zaman luar biasa. Kita tidak bisa mempertahankan pola-pola lama. Jadi, yang lama mendasari, kemudian kita harus bertransformasi.

Kedua, partisipatif. Civitas akademika harus bisa membangun bersama, sehingga saya berusaha agar semua keputusan tidak dibuat dengan prinsip top down, tapi bottom up. Bottom up dengan top down itu kita satukan di tengah, sehingga semua keputusan menjadi milik bersama. Pola pikir saya, jika satu keputusan itu diambil dengan bottom up dan top down di tengah-tengah, komitmen untuk menjalankan akan tinggi karena merasa memiliki.

Ketiga, kolegial. Saya tidak menganggap saya di atas. Dengan dosen saya menganggap sama (sejajar). Bahkan, dengan mahasiswa pun, saya juga tidak menempatkan diri di atas. Saya mendekati mahasiswa dengan era situasi anak muda.

Pandangan Anda tentang pendidikan di Indonesia, bagaimana?

Terus terang, pemerintah sudah memberikan perhatian luar biasa untuk pendidikan di Indonesia. Namun belum bisa menghasilkan sesuai harapan. Buktinya apa? Di dunia kan ada Program for International Student Assessment (PISA). Itu mengukur kemampuan anak-anak di seluruh dunia dari sisi matematika dan sains. Posisi Indonesia ada di peringkat 10 dari bawah, dari 72 negara. Jadi, masih memprihatinkan. Pemerintah terus memacu dengan memberikan tunjangan prestasi guru, program pelatihan, dan sebagainya. Tapi, belum berhasil dengan baik.

Tugas guru menghadapi dua tantangan ke depan, yaitu mentransformasikan atau mengubah nilai dan mentransfer ilmu. Saya selalu sampaikan, keduanya harus dilakukan. Jangan transfer ilmu saja. Transfer ilmu akan didukung oleh nilai-nilai, misalnya tanggung jawab, etos kerja, motivasi berprestasi, dan lain-lain. Dua ini harus berjalan seiring.

Ke depan tantangannya luar biasa. Karena kita ada di era yang sedang tidak menentu, non-linier, tidak bisa diprediksi. Maka dari itu, saya usulkan agar kurikulum kita harus dinamis. Jangan sampai lima tahun baru ganti. Harus menyesuaikan. Paling tidak, substansi pembelajaran harus disesuaikan dengan masa kini. Buku-buku otomatis harus update. Tugas guru adalah untuk meng-update terus.

Tapi salah satu yang sering dikeluhkan kan perubahan kurikulum? Kenapa (malah) mengusulkan kurikulum dinamis?

Dalam kurikulum dinamis, sekolah diberi kewenangan. Tidak lagi apa-apa dari atas, tapi desentralisasi. Nasional hanya mengatur pokok-pokok saja, sedangkan sekolah bisa mengembangkan keilmuan mutakhir. Jadi guru-guru, jangan apa-apa minta petunjuk. Harus secara inisiatif mengembangkan. Di era sekarang, kalau semua minta petunjuk, kita ketinggalan. Yang lain sudah lari, kita masih minta petunjuk.

Kurikulum di UNY juga dinamis. Kalau ada perubahan, kami segera menyesuaikan. Untuk antisipasi ke depan, ada kurikulum yang berisi mata kuliah antar program studi di dalam satu fakultas, lalu antar fakultas. Untuk membentuk kemampuan umum, supaya memiliki fleksibilitas dan adaptif. Jadi jangan fokus di bidangnya saja, harus ada pengetahuan umum yang fleksibel dan mengadaptasi.

Prinsip fleksibilitas dan adaptasi ini harus menjadi bagian untuk pengembangan kurikulum. Kalau di perguruan tinggi kan mudah, tinggal di senat dan penyelenggara. Oleh karena itu, dalam beberapa kesempatan, Presiden bilang, program studi harus dimutakhirkan. Tapi kalau di sekolah jalurnya lebih panjang. Kurikulum dinamis bisa menyederhanakan, karena pemerintah pusat hanya mengatur pokok-pokok saja, selebihnya sekolah mengembangkan. Jadi aturannya jangan rinci. Pokok-pokok saja, biar sekolah bisa berkembang.

Perjalanan karier Anda sampai bisa jadi Rektor UNY seperti apa?

Saya anak desa. Bapak saya guru, ibu saya pedagang. Oleh karena itu saya punya dua jiwa, jiwa enterpreneurship dan jiwa guru.

Saya dari pelosok di Sokoliman, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul. Itu adalah satu desa yang berbatasan dengan hutan milik negara. Ketika sekolah, saya berjalan kaki sekitar 4-5 kilometer. Berangkat jam 05.00 WIB, jam 06.30 WIB baru sampai sekolah. Seiring dengan itu, saya dibelikan sepeda. SLTA saya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Wonosari, saya mulai kos. (Kuliah) S1 saya IKIP Yogyakarta, S2 di IKIP Jakarta, dan S3 di Filsafat UGM.

Saya meniti karier dari bawah, tidak meloncat. Saya mulai dari tim-tim adhoc dan satgas di bidang kemahasiswaan, kemudian administrasi umum keuangan. Saya pernah menjadi ketua jurusan, wakil dekan, dan wakil rektor II. Kemudian saya ke Jakarta membantu Pak Menteri sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa). Terakhir saya kembali ke kampus diberi amanah sebagai rektor.

Anda berasal dari jurusan Bahasa Jawa. Ada anggapan sekarang pakar Bahasa Jawa sedikit sekali. Bagaimana pendapat Anda?

Sebenarnya dengan adanya S1 Pendidikan Bahasa Jawa dan S1 non-pendidikan atau Sastra Jawa, ada S2 dan S3, sekarang relatif banyak lah. Penelitian-penilitian banyak dilakukan, naskah-naskah lama banyak diunggah.

Di UNY ada 6 profesor dalam bidang Bahasa Jawa. Di universitas lain juga banyak. Mahasiswa kami juga banyak, per angkatan ada 120 orang. Dan anak-anak sekarang menurut saya, karena input bagus, menghasilkan output yang bagus juga. Karena sejak awal memang memilih (belajar Bahasa Jawa). Karena apa? Minat Bahasa Jawa itu cukup tinggi juga.

Kami banyak mengkaji naskah-naskah yang terkait pendidikan karakter. Disertasi saya sendiri tentang pendidikan karakter dalam Serat Centhini. Dan itu banyak hal yang bisa kita kaji dari naskah-naskah lama. Saya kebetulan melihatnya dari sisi filsafat. Filsafat itu kan mencari makna yang terdalam, sehingga hidup dengan kebijakan dan nilai kemanusiaan. Itu kan yang dicari di filsafat.

Kalau dalam filsafat Jawa itu kan ada dua. Sangkan paraning dumadi; asal-usul dari mana, kemudian bagaimana berkembang. Kemudian manunggaling kawula gusti atau kesempurnaan. Jadi hidup ini sejak awal sudah dilihat asalnya dari mana, nanti kembali ke Tuhan. Kan gitu di filsafat Jawa. Karena itu filsafat Jawa banyak upacara. Jadi kalau sudah hamil, empat bulan diperingati, tujuh bulan diperingati. Itu kan wujud syukur. Itu kan simbol-simbol pendidikan karakter. Kemudian sampai lahir, itu juga penuh upacara. Itu sebenarnya simbol-simbol bagaimana nenek moyang itu mendidik kita.

Kemudian, baru saja kan ada simposium internasional di Keraton Yogyakarta. Itu juga bagian dari mengangkat nilai-nilai dulu yang mungkin masih relevan dengan era sekarang. Itu kan dikaji mana yang relevan dengan sekarang. Kalau dulu orang harus ke Belanda, saya kira sekarang enggak. Sekarang banyak ahli di sini. Memang naskah kita, karena dijajah Belanda, kan banyak di sana, (juga) banyak di Inggris. Bahkan naskah keraton yang kembali ke keraton baru 75, itu pun baru dalam bentuk microcopy. Jadi yang lain masih di Inggris dan Belanda.

Kalau hobi Anda sendiri apa?

Saya lebih banyak generalist, tidak terlalu fokus tertentu. Saya kalau olahraga banyak bersepeda. Di waktu luang saya banyak menulis. Tulisan saya banyak kaitannya dengan karya ilmiah, misalnya artikel. Saya enggak bisa fiksi. Jadi lebih ke data, riset, dan sebagainya. Cuma, kadang-kadang terhambat waktu. Kadang saya menargetkan satu bulan satu tulisan, tapi belum tentu bisa.

Anda juga sering tampil dalam seni pertunjukan. Sejak kapan senang dengan kesenian?

Sejak awal sudah. Nggamel (memainkan gamelan) sudah sejak kecil. Tapi tidak terlalu menonjol. Senang saja, untuk apresiasi.

Apresiasi seni itu menurut saya dengan terjun langsung di dalamnya. Tidak bisa hanya mengamati. Karena itu, Dies Natalis UNY ke-55 nanti ada kegiatan namanya UNY Njathil, Festival Jathilan. Saya melibatkan mahasiswa, dosen, pimpinan, supaya mengapresiasi langsung. Jadi tidak hanya mengamati. Bagaimana sih rasanya menari?

Tanggal 2 Mei setelah upacara, kami langsung menari. Paling tidak ada 3.500 penari dari UNY dan luar; dari grup-grup (jathilan) kita undang untuk njathil bersama. Itu kan apresiasi langsung. Saya merasakan, apresiasi itu timbul jika kita melakukan. Kalau hanya mengamati, hanya senyum-senyum saja.

Seni itu penting untuk menyeimbangkan antara otak kanan dan otak kiri. Ini harus seiring. Tidak boleh melulu ilmu terus.

UNY sering menampilkan seni tradisional seperti jathilan, ketoprak, wayang, dan sebagainya. Sementara kampus lain lebih sering menampilkan budaya pop. Apa ingin membentuk style tersendiri?

Kami ingin leading in character education. Karakter itu bisa dikembangkan lewat seni. Itu kan membentuk jiwa. Jadi penanaman karakter jangan dijadikan hafalan. Kan jiwa, nilai kehalusan, kejujuran, tanggung jawab, itu kan ada di seni semua. Misalnya ketika diberi peran tokoh A, dia kan harus berlatih, diberi tanggung jawab, harus jujur. Karakter itu kita bangun langsung dari aktivitas.

Seni tradisional seperti wayang, (itu) penuh pendidikan karakter. Kesenian tradisional pada umumnya mengandung pertentangan antara baik dan buruk. Kalau buruk kan biasanya digambarkan di Rahwana, kemudian baik itu di Ksatria. Selalu pertentangan itu. Dan cerita itu selalu berakhir dengan cerita bahwa yang buruk akan tertutup. Kemenangan itu selalu ada di sisi yang baik. Selalu begitu kalau kita amati. Saya kira, peneliti-peneliti asing pun tertarik pada kesenian tradisional karena itu.

Nah, ini saya mengikuti mahasiswa saja untuk konser Maliq & d'essential itu. Mahasiswa dekatnya dengan itu, kan enggak apa-apa. Jadi, karakter itu kita bangun dari berbagai hal toh.

Enggak takut UNY dicap kuno atau ketinggalan zaman?

Enggak, enggak takut. Saya mengangkat jathilan itu justru karena saya mengangkat kesenian tradisional. Dan ini kita kontemporerkan. Gerakannya kita kontemporerkan. Dengan begitu, generasi muda akan berpikir, 'Itu UNY saja njathil kok, ada ketoprak, ada wayang'.

Sejak lama UNY diketahui ingin jadi world class university. Sekarang sudah sampai mana?

Kita punya target di tahun 2025 itu masuk peringkat 1.000 dunia. Sekarang UNY sudah masuk Asia. Kita sudah peringkat 500 Asia. Target saya 2019 masuk Asia, tapi kita sudah maju setahun. Jadi ada Asian University Ranking (AUR), ada World University Ranking (WUR). Nah, kita masih di AUR.

WUR kriterianya lebih rinci. WUR itu kriterianya ada sumber daya manusia, program-program internasional, ada mahasiswa asing kuliah di sini, ada mahasiswa kami kuliah di luar negeri, ada profesor ke dalam dan keluar, joined research, lalu credit transfer, jurnal internasional, PhD kuat, akreditasi. Itu semua sudah kita lakukan untuk mengejar.

Akreditasi kita sudah 63 A dari 106. Mungkin kita di Indonesia sudah termasuk tinggi. Kita di Indonesia kan masuk 11 dari 4500-an perguruan tinggi. Kita kejar nanti, tahun 2019 ini kita harus masuk 10. Di LPTK atau eks-IKIP, alhamdulilah kita tertinggi. Ini kita pertahankan karena Yogyakarta kan harus jadi pionir.

Pada 2021 kita ingin merambah ke dunia. Pada 2021, target UNY sudah masuk WUR. Entah nanti ranking berapa, terlepas dari situ, kita sudah main di WUR. Kita memang bertahap. Kampus-kampus lain untuk sampai ke WUR juga prosesnya panjang, disiapkan dengan baik. Yang penting kita by process, by target, by plan. Ada perencanaan yang jelas, tidak boleh pasif, terus mengejar.

Kemarin juga di-launching Times Higher Education (THE), kita di dunia sudah masuk peringkat 301, di Indonesia kita masuk ranking 7. Itu melihat dari sisi SDGs yaitu pendidikan berkelanjutan (long life education).

Kontributor : Sri Handayani

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS