Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi RI, Ini Saran Bank Dunia

Laban Laisila | Dian Kusumo Hapsari | Suara.com

Rabu, 08 Juli 2015 | 14:46 WIB
Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi RI, Ini Saran Bank Dunia
Logo Bank Dunia. (foto: www.livinginrwanda.com)

Suara.com - Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Ndiame Diop menyarankan kepada pemerintah Indonesia untuk melakukan reformasi fiskal dan meningkatkan belanja infrastruktur untuk memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Saran itu disampaikan, lantaran pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada kuartal II 2015 hanya 4,7 persen, atau meleset dari estimasi Bank Dunia beberapa bulan lalu sekutar 5,2 persen. Bahkan menurut Ndiame, pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini merupakan pertumbuhan paling lambat sejak 2009.

“Jika Indonesia ingin memacu pertumbuhan ekonominya lebih tinggi lagi, pemerintah dapat bertindak dengan meningkatkan belanja infrastrukltur yang berkualitas selama tetap menjaga defisit fiskal dalam batasan 3 persen dari PDB. Selain itu, dibutuhkan reformasi fiskal guna peningkatan pendapatan dan belanja anggaran yang lebih baik,” kata Ndiame di Jakarta, Rabu (8/7/2015).

Kondisi yang kurang mendukung dari pertumbuhan ekonomi karena rendahnya harga komoditas dan melemahnya pertumbuhan investasi terus menekan, sehingga laju ekonomi Indonesia melambat.

Salah satu yang mesti dilakukan, menurut Rodrigo, dengan mengurangi biaya logistik.

"Perbaikan infrastruktur akan mengurangi biaya logistik dan harga berbagai barang dan jasa serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju kesetaraan," ujarnya.

Menurutnya, investasi saat ini berkontribusi 1,4 persen untuk pertumbuhan PDB year on year pada kuartal pertama tahun 2015 atau separuh dari rata-rata kontribusinya pada tahun 2010.

Investasi memang diharapkan akan untuk meningkat pada paruh kedua 2015, namun jumlahnya tidak akan setinggi seperti prediksi sebelumnya hal ini akibat pembelanjaan anggaran pemerintah yang diperkirakan lebih rendah.

"Fondasi makro ekonomi yang baik berhasil mencegah merosotnya pertumbuhan secara tajam, akibat jatuhnya harga dan permintaan komoditas. Indonesia tetap tumbuh dengan laju sangat cepat, namun dibutuhkan reformasi fiskal guna meningkatkan pendapatan," ungkapnya.

Selain memperbaiki fondasi makro ekonomi, Indonesia juga perlu memperbaiki kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi persaingan, perdagangan dan investasi swasta.

“Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi inflasi harga pangan. Sehingga dapat memperkuat kepercayaan konsumen,” kata Ndiame.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Indonesia Tandatangani Pendirian AIIB di Beijing

Indonesia Tandatangani Pendirian AIIB di Beijing

Bisnis | Senin, 29 Juni 2015 | 12:22 WIB

Komisioner KPPU: Target Pertumbuhan Ekonomi Akan Sulit Tercapai

Komisioner KPPU: Target Pertumbuhan Ekonomi Akan Sulit Tercapai

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2015 | 13:17 WIB

BI: Pertumbuhan Ekonomi di 2015 Sekitar 5,4 Persen

BI: Pertumbuhan Ekonomi di 2015 Sekitar 5,4 Persen

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2015 | 04:16 WIB

Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Harus Inklusif dan Berkelanjutan

Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Harus Inklusif dan Berkelanjutan

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2015 | 17:01 WIB

Terkini

Program Take Over dari BRI Mudahkan Nasabah Pindah KPR, Suku Bunga Mulai 2,50 Persen

Program Take Over dari BRI Mudahkan Nasabah Pindah KPR, Suku Bunga Mulai 2,50 Persen

Bisnis | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:08 WIB

Prabowo Berjumpa Kaisar Naruhito dan PM Sanae Takaichi di Jepang, Bahas Apa Saja?

Prabowo Berjumpa Kaisar Naruhito dan PM Sanae Takaichi di Jepang, Bahas Apa Saja?

Bisnis | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:04 WIB

Nostalgia di Semarang, D'Kambodja Heritage by Anne Avantie yang Berkembang Bersama BRI

Nostalgia di Semarang, D'Kambodja Heritage by Anne Avantie yang Berkembang Bersama BRI

Bisnis | Minggu, 29 Maret 2026 | 20:39 WIB

Pakar Ungkap Kemacetan Gerbang Tol Arus Balik Lebaran 2026 Bisa Dicegah lewat Sistem MLFF

Pakar Ungkap Kemacetan Gerbang Tol Arus Balik Lebaran 2026 Bisa Dicegah lewat Sistem MLFF

Bisnis | Minggu, 29 Maret 2026 | 20:12 WIB

BRILink Agen di Bakauheni, Berawal dari Modal Usaha Terbatas hingga Menjadi Andalan Masyarakat

BRILink Agen di Bakauheni, Berawal dari Modal Usaha Terbatas hingga Menjadi Andalan Masyarakat

Bisnis | Minggu, 29 Maret 2026 | 20:09 WIB

30 Hari Perang Iran Lawan AS-Israel, Empat Negara Gelar Pertemuan Darurat

30 Hari Perang Iran Lawan AS-Israel, Empat Negara Gelar Pertemuan Darurat

Bisnis | Minggu, 29 Maret 2026 | 19:57 WIB

Zero Fatality Bisa Dicapai Jika Perusahaan Implementasi Budaya K3 Ketat

Zero Fatality Bisa Dicapai Jika Perusahaan Implementasi Budaya K3 Ketat

Bisnis | Minggu, 29 Maret 2026 | 19:57 WIB

Emiten Produsen Sarung Tangan Medis MARK Raih Laba Bersih Rp 837,31 Miliar di 2025

Emiten Produsen Sarung Tangan Medis MARK Raih Laba Bersih Rp 837,31 Miliar di 2025

Bisnis | Minggu, 29 Maret 2026 | 18:46 WIB

Ancaman Selat Hormuz, RI Mulai Telusuri Sumber Minyak Selain Timur Tengah

Ancaman Selat Hormuz, RI Mulai Telusuri Sumber Minyak Selain Timur Tengah

Bisnis | Minggu, 29 Maret 2026 | 18:38 WIB

Dolar AS dan Harga Minyak Diprediksi Melonjak, Rupiah Tertekan

Dolar AS dan Harga Minyak Diprediksi Melonjak, Rupiah Tertekan

Bisnis | Minggu, 29 Maret 2026 | 18:10 WIB