Powel Pidato, Rupiah Terpuruk Hingga Rp13.793 per Dolar AS

Suwarjono Suara.Com
Kamis, 01 Maret 2018 | 11:39 WIB
Powel Pidato, Rupiah Terpuruk Hingga Rp13.793 per Dolar AS
Warga menukarkan uang Rupiah yang tidak layak edar dari berbagai pecahan di loket Gedung C Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (26/7/2017). [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Rupiah terus tertekan oleh sentimen pidato Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell yang menyiratkan optimisme perbaikan pertumbuhan ekonomi AS dan kenaikan inflasi, hingga mencapai Rp13.793 per dolar AS, Kamis.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diumumkan Bank Indonesia di Jakarta, Kamis, menunjukkan, kurs rupiah Rp13.793 per dolar AS itu melemah 86 poin dibanding Rabu (28/2) yang sebesar Rp13.707/per dolar AS.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan pelemahan rupiah karena dua faktor yakni pertama data perbaikan ekonomi AS seperti indeks keyakinan konsumen yang meningkat sejak 2000.

"Dan juga pidato Powell yang mengindikasikan ekonomi ke depan membaik dan inflasi yang akan naik," kata Dody kepada Antara.

Namun kondisi ekonomi domestik, diyakini Dody, tidak akan membuat pelemahan rupiah terlalu dalam, terutama karena sasaran inflasi yang masih terjaga di jangkar Bank Sentral dan proyeksi pertumbuhan yang lebih baik tahun ini.

"Tidak ada alasan rupiah melemah jika melihat faktor domestik," ujar Dody.

Nilai tukar rupiah antarbank di Kamis pagi bergerak melemah sebesar 35 poin menjadi Rp13.791 dibanding posisi sebelumnya Rp13.756 per dolar AS.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan pelaku pasar menterjemahkan pidato Powell sebagai sikap yang "hawkish".

"Sikap 'hawkish' The Fed itu direspon oleh pelaku pasar dengan melepas sebagian aset di mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia sehingga rupiah mengalami tekanan," katanya.

Di depan Kongres AS, Selasa malam lalu, Powell menyampaikan optimismenya terhadap pemulihan ekonomi Amerika Serikat sehingga perlu dilakukan langkah antisipasi dari sisi moneter untuk mencegah "overheating" ekonomi, yaitu melalui penyesuaian tingkat suku bunga.

"Pernyataan itu memperkuat kenaikan suku bunga Fed lebih lanjut tahun ini," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI