Pengangguran di AS Turun, Trump: Jobs, Jobs, Jobs... Tiru Jokowi?

Iwan Supriyatna | Achmad Fauzi
Pengangguran di AS Turun, Trump: Jobs, Jobs, Jobs... Tiru Jokowi?
Donald Trump punya alasan khusus kenapa menggunakan dasi kepanjangan dan lebar. (Evan El-Amin / Shutterstock.com)

Tingkat pengangguran di Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan.

Suara.com - Tingkat pengangguran di Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan. Tercatat tingkat pengangguran AS turun menjadi 3,6 persen, terendah sejak Desember 1969.

Seperti dilansir Reuters, laporan ketenagakerjaan bulanan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukan, bahwa terdapat 263.000 pekerjaan baru, sehingga membuat pengangguran turun.

Selain itu, penurunan tingkat pengangguran sebagian besar didorong oleh sebagian besar orang yang tetap bertahan di pekerjaannya saat ini.

Laporan itu mendukung keputusan Bank Sentral AS, Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga dan menyesuaikan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Gubernur The Fed Jerome Powell menggambarkan, ekonomi dan pertumbuhan pekerjaan sedikit lebih kuat dari yang diperkirakan dan inflasi cukup rendah.

"Keuntungan pekerjaan cukup kuat untuk menghilangkan kekhawatiran atas ketahanan ekonomi, sementara kenaikan upah tidak cukup kuat untuk memaksa Federal Reserve untuk memperketat kebijakan," kata Harm Bandholz, kepala ekonom AS di UniCredit Research in New York.

Ekonomi yang kuat, terutama pasar tenaga kerja, dapat mendorong harapan terpilihnya kembali Presiden Donald Trump tahun depan.

"Jobs, Jobs, Jobs," tulis Trump dalam twitternya.

Cuitan Trump mirip dengan seruan yang kerap digembar-gemborkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) 'kerja, kerja, kerja'.

Perekrutan tetap kuat, meskipun ada data yang menunjukan terdapat penurunan pekerja di industri transportasi, manufaktur dan konstruksi.

Sementara, upah yang terus naik sampai saat ini membuat pekerja bertahan, bahkan perusahaan menarik kembali beberapa pekerja yang keluar. Penghasilan per jam rata-rata naik 6 sen, atau 0,2 persen di bulan April.

Meskipun pertumbuhan upah tidak cukup kuat untuk mendorong inflasi, terlihat cukup untuk menopang pertumbuhan ekonomi karena stimulus dari pemotongan pajak 1,5 triliun dolar AS tahun lalu berkurang.

Ekonomi tumbuh pada tingkat tahunan 3,2 persen pada kuartal pertama, didorong oleh lonjakan ekspor.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS