Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.575.000
Beli Rp2.447.000
IHSG 5.643,194
LQ45 553,105
Srikehati 276,229
JII 331,154
USD/IDR 17.957

Kisah Lahirnya Kopi Sarongge, Produk Unggulan Asal Cianjur

Dany Garjito, Chyntia Sami Bhayangkara

Kamis, 14 Mei 2020 | 18:50 WIB
Kisah Lahirnya Kopi Sarongge, Produk Unggulan Asal Cianjur
Kopi Sarongge yang telah dikemas (dok. Tosca Santoso)

Suara.com - Kopi Sarongge, salah satu produk kopi unggulan asal Cianjur, Jawa Barat dengan cita rasa unik. Kopi yang lahir dari kaki Gunung Gede ini menjadi andalan para petani di Sarongge, kampung kecil yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, menggantungkan hidupnya.

Mereka yang dulunya bergelut dengan tanaman sayuran, kini menjadikan kopi sebagai penghasilan utama mereka.

Dibawah binaan Tosca Santoso, sang inisiator kopi Sarongge, para petani tak hanya membuat asap di dapur terus mengepul, melainkan juga telah berhasil mengembalikan hutan di Sarongge.

Wujud kecintaan Tosca Santoso dalam lingkungan sudah tak perlu diragukan lagi. Bahkan, jurnalis senior sekaligus pendiri Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) itu juga pernah ditangkap saat mendampingi petani Cimacan yang tanahnya hendak dijadikan lapangan golf Cibodas pada 1986.

Berikut kisah lahirnya kopi Sarongge, kopi berkualitas dengan cita rasa dari hutan yang terjaga.

Perhutanan Sosial, Lahirnya Kopi Sarongge

Petani tak bisa jauh dari tanah. Kebun adalah semangat dan daya hidup mereka. Maka tak lama setelah hutan di kaki Gede itu ditutup, sebagian anggota Koperasi Sugih Makmur, sudah rindu cangkul dan bau tanah. Tentu saja sebab utama adalah sumber asap dapur belum aman. Bahkan setelah program adopsi pohon selesai.

Awal 2014, di bawah pimpinan Dudu Duroni, sekira 20 petani meminta izin, menggunakan tanah desa di kaki Gn. Geulis. Lokasi yang sering disebut Pojok Tunggilis itu, masih satu desa dengan Sarongge. Hanya terpisah jalan raya, penghubung Bogor-Cianjur.

Atas dukungan perangkat Desa Ciputri, mereka dibolehkan berkebun sayur di sana. Membawa pengetahuan dari Sarongge, mereka tanam wortel, sawi, brokoli dan berbagai jenis sayur seperti di kampung asalnya. Toh lokasi hanya berjarak sekira 5 km. Tetapi ternyata berkebun sayur di sana hasilnya tak sebagus di Sarongge. Karena beda ketinggian, cuaca di sini lebih panas. Tanahnya pun lebih tipis lapisan hara. Beberapa petani langsung balik badan, ketika hasil sayur tak sebagus yang diharapkan. Dudu bertahan.

baca juga

Bersama Yayasan Prakarsa Hijau Indonesia (GIF), kami kembangkan pola adopsi pohon di lahan desa. Bukan pohon hutan, tetapi buah-buahan : nangka, alpukat, jeruk limau. Pohon buah dipilih karena, selain menambah tutupan bukit-bukit tanah desa, juga menambah penghasilan petani. Rupanya tanah di Tunggilis memang cocok untuk buah-buahan.Hingga  suatu waktu, Dudu dan kawan-kawannya berpikir untuk menanam kopi.

Perkebunan kopi Sarongge (dok. Tosca Santoso)
Perkebunan kopi Sarongge (dok. Tosca Santoso)

November 2014, saya bagikan 20.000 bibit kopi Arabika kepada 25 petani Tunggilis. Tidak semuanya eks petani yang turun dari Gunung Gede. Sebagian mereka yang sudah lama tinggal di Tunggilis. Jadi, kopi menyatukan petani pendatang dan lokal di kaki Gn Geulis itu. Sayangnya, banyak yang di tak sabar menunggu tiga tahun, sampai kopinya panen. Mereka berhenti dan membiarkan kebun terlantar. 

Ketika Dudu panen perdana, tahun 2017, ia sengaja pamer hasil panennya dalam kantong plastik cerah. Naik motor, ia bawa panennya itu ke tempat pengolahan kopi di Sarongge. Banyak tetangganya melihat dan jadi tertarik bertanam kopi. Kebun lama yang ditinggal petani mulai dirawat lagi. Dan tentu saja, tanah tak cukup.

Saat itulah kabar tentang perhutanan sosial sampai ke Kampung Tunggilis. Negara memberi akses 35 tahun kepada petani, untuk memanfaatkan hutansekaligus merawatnya. Dudu dan kawan-kawannya segera membentuk KTH. Satria Mandiri. Kelompok Tani Hutan itu mengajukan izin perhutanan sosial seluas 21,5 ha kepada Menteri Kehutanan.
Proses itu tergolong cepat. Hanya lima bulan setelah pengajuan, izin perhutanan sosial (PS) untuk KTH Satria Mandiri keluar Juli 2018. 

Presiden Jokowi menggenapi kebahagiaan 35 petani Tunggilis, ketika ia serahkan langsung sertifikat perhutanan sosial itu di Bandung, 11 November 2018. Kabar baik itu menyebar cepat. Petani Gn Geulis yang di balik Tunggilis, di Desa Pakuon, segera membentuk KTH Rindu Alam. Mereka ajukan 58,5 ha lahan untuk 30 keluarga tani. Dan izin keluar cepat, sebelum Pemilu 2019.

Para petani sedang makan bersama (dok. Tosca Santoso)
Para petani sedang makan bersama (dok. Tosca Santoso)

“Kami urus izin, biar tenang bertaninya,” kata Suarsa, yang biasa dipanggil Alo, Ketua KTH Rindu Alam.Mereka umumnya menanam robusta, karena ketinggian lahan sekitar 800-1.000 mdpl. KTH Rindu Alam dengan didampingi GIF juga mengembangkan wisata lingkungan. Rumah pohonnya di tengah hutan dan kebun kopi, Saung Kanoman, menarik untuk disinggahi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kopi Sarongge dan Kisah Petani Kembalikan Hutan

Kopi Sarongge dan Kisah Petani Kembalikan Hutan

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2020 | 19:22 WIB

Terkini

Pegadaian Praya Dukung Infrastruktur Sekolah dan Edukasi Investasi Emas bagi Siswa

Pegadaian Praya Dukung Infrastruktur Sekolah dan Edukasi Investasi Emas bagi Siswa

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:33 WIB

Berlaku Agustus 2026, DJP Klaim Pungutan ke Marketplace Bukan Pajak Baru

Berlaku Agustus 2026, DJP Klaim Pungutan ke Marketplace Bukan Pajak Baru

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:22 WIB

IHSG Akhirnya Perkasa ke Level 5.695 Hari Ini

IHSG Akhirnya Perkasa ke Level 5.695 Hari Ini

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:01 WIB

Harga Tiket Pesawat Turun Setelah BBM Avtur Melemah?

Harga Tiket Pesawat Turun Setelah BBM Avtur Melemah?

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 16:54 WIB

B50 Resmi Berlaku, INDEF Beberkan Ancaman Kenaikan Harga Minyak Goreng

B50 Resmi Berlaku, INDEF Beberkan Ancaman Kenaikan Harga Minyak Goreng

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 16:44 WIB

BI Rate Naik, Kemenperin Sebut Kepercayaan Industri Melambat

BI Rate Naik, Kemenperin Sebut Kepercayaan Industri Melambat

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 16:21 WIB

Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini

Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 16:03 WIB

BPKH Pangkas Anggaran Operasional Rp100,31 Miliar

BPKH Pangkas Anggaran Operasional Rp100,31 Miliar

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 15:56 WIB

Neraca Perdagangan RI Tekor Pada Mei, Penyebabnya Impor Migas

Neraca Perdagangan RI Tekor Pada Mei, Penyebabnya Impor Migas

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 15:52 WIB

Peringatan dari Bappenas: SDM RI Kalah Jauh dari Tetangga, Kelas Menengah Banyak Turun Kasta

Peringatan dari Bappenas: SDM RI Kalah Jauh dari Tetangga, Kelas Menengah Banyak Turun Kasta

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 15:39 WIB

×